Menelusuri Jejak Maritim Sriwijaya di Tepian Sungai Musi

ArtikelOleh YokieDiperbarui

Mengungkap bagaimana Sungai Musi menjadi panggung utama kebangkitan kedatuan bahari terbesar di Asia Tenggara dan warisannya yang masih hidup.

Sungai Musi bukan sekadar bentangan air yang membelah Kota Palembang menjadi Seberang Ulu dan Seberang Ilir, melainkan urat nadi peradaban yang telah mengalirkan sejarah sejak abad ketujuh. Pada masa keemasan Kedatuan Sriwijaya, jalur sungai ini menjadi lintasan utama para pedagang dari Tiongkok, India, hingga Timur Tengah.

Prasasti Kedukan Bukit dan Awal Peradaban

Penemuan Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 1920 di tepi Sungai Tatang membuktikan keberadaan pusat kekuasaan bahari yang tangguh. Prasasti berangka tahun 683 Masehi tersebut mencatat perjalanan suci yang membawa kemakmuran bagi wilayah sekitar aliran Sungai Musi.

Jalur Perdagangan Rempah dan Kebudayaan Bahari

Sebagai pelabuhan transit internasional, Palembang zaman dahulu menjadi tempat bertukarnya komoditas rempah, sutra, dan porselen. Interaksi budaya yang intensif ini melahirkan akulturasi unik yang bercorak jelas pada tradisi, seni ukir, hingga tata kota masyarakat pesisir Musi hingga hari ini.

Merawat Warisan Sejarah di Era Modern

Memahami kejayaan masa lalu memberi sudut pandang baru dalam menikmati Kota Palembang modern. Mengunjungi museum-museum lokal dan situs purbakala di sekitar bentangan sungai membantu kita menjaga keberlanjutan dokumentasi sejarah untuk generasi mendatang.

Sumber

Belum ada sumber tercantum untuk halaman ini. Bantu lengkapi sumber.

Cara mengutip

PalembangPedia. (2026, 12 Oktober). Menelusuri Jejak Maritim Sriwijaya di Tepian Sungai Musi. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/menelusuri-jejak-maritim-sriwijaya-di-tepian-sungai-musi/

Terakhir diperbarui 11 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga