Sejarah Jalan Jenderal Sudirman: Boulevard di Atas Sungai yang Ditimbun

TempatDiperbarui

Jalan Jenderal Sudirman Palembang dulunya Sungai Tengkuruk yang ditimbun 1929-1930. Kenali sejarah Pasar Cinde dan boulevard tertua Palembang.

Jalan Jenderal Sudirman Palembang dengan jalur LRT Sumatera Selatan

Jalan Jenderal Sudirman adalah boulevard pertama di Palembang. Tapi bukan boulevard yang dibangun di atas tanah kosong — ia dibangun di atas sungai yang ditimbun. Jalan ini dulu adalah Sungai Tengkuruk, anak Sungai Musi yang mengalir di sebelah timur Masjid Agung Palembang.

Hari ini, Jalan Sudirman membujur dari kaki utara Jembatan Ampera hingga Rumah Sakit Charitas. Di sepanjangnya berdiri Pasar Cinde, Masjid Agung, dan Kompleks Makam Cinde Walang — saksi bisu bahwa jalan ini bukan sekadar jalur lalu lintas, tapi lapisan sejarah yang ditimbun di bawah aspal.

Jalan Jenderal Sudirman Palembang dengan bangunan di sepanjangnya
Jalan Jenderal Sudirman Palembang. Foto: Firzafp / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Dari Sungai Tengkuruk ke boulevard kota

Sungai Tengkuruk dulu mengalir di sebelah timur Masjid Agung Palembang. Di sisi-sisinya terdapat penerangan lampu minyak — lentera-lentera yang menandai tepian sungai. Kawasan ini bukan sekadar jalur air, tapi pusat kehidupan: peziarah menuju makam Sultan Palembang di Cinde harus melalui aliran sungai ini.

Pada 1928, pemerintah kolonial Belanda memutuskan menimbun Sungai Tengkuruk. Penimbunan dimulai dari sebelah timur rumah Residen dan Masjid Agung, dari hulu hingga muaranya di Sungai Musi. Sebagai gantinya, dibuat jalan darat dengan jalur pemisah di tengah — semacam boulevard. Ini adalah boulevard pertama di Palembang.

Cinde: makam Sultan yang menjadi pusat perdagangan

Nama Cinde berasal dari makam Sultan Abdurahman, pendiri Kesultanan Palembang Darussalam. Makam ini disebut Candi Welan atau Candi Walang. Saat masa Kesultanan, kawasan Cinde adalah tempat pemakaman Sultan dan keturunannya. Peziarah yang datang ke sini harus menyeberangi Sungai Tengkuruk.

Setelah Belanda masuk, kawasan Cinde dilirik sebagai wilayah strategis. Pasar dibangun di poros jalan ini, dan nama Cinde kemudian melekat pada pasar yang menjadi pusat perekonomian Palembang. Nama Lingkis — nama awal pasar ini — kini diabadikan sebagai nama lorong di seberang Pasar Cinde.

Fun fact: sungai di bawah aspal

Jalan Sudirman dibangun di atas sungai yang ditimbun menggunakan puru dan kerikil. Karena kawasan ini dulunya merupakan sungai besar, pada masa dahulu jika dilewati kendaraan bervolume besar, jalan ini sering mengalami penurunan tanah. Bayangkan: ada sungai mengalir di bawah aspal Jalan Sudirman hari ini.

Lima Hari Lima Malam di Jalan Sudirman

Sepanjang Jalan Sudirman juga menjadi saksi Pertempuran Lima Hari Lima Malam pada 1–5 Januari 1947. Posisinya yang strategis — menghubungkan Jembatan Ampera dengan pusat kota — membuat jalan ini menjadi jalur penting bagi pasukan Republik maupun Belanda.

Jalan Sudirman hari ini

Saat ini, Jalan Sudirman adalah poros utama selatan-utara Palembang. Pasar Cinde masih berdiri, Masjid Agung masih ramai, dan Makam Cinde Walang masih menjadi tujuan ziarah. Di bawah aspal jalan ini, Sungai Tengkuruk mungkin sudah lama tertidur — tapi jejaknya tetap terbaca dari nama jalan, pasar, dan makam di sepanjangnya. Baca juga kisah Jalan Merdeka dan Masjid Agung Palembang.

Sumber

  1. Rizky Andhifani et al. Berkala Arkeologi, Vol. 44 No. 1, Mei 2024; repository.radenfatah.ac.id; repository.unsri.ac.id; detik.com; idntimes.com

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 16 Oktober). Sejarah Jalan Jenderal Sudirman: Boulevard di Atas Sungai yang Ditimbun. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/tempat/sejarah-jalan-jenderal-sudirman/

Terakhir diperbarui 16 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga