Di pusat Palembang ada sebuah jalan raya yang dulunya sungai. Namanya Sungai Tengkuruk. Pada 1928, pemerintah Gemeente Palembang mulai menimbunnya. Sekitar 1930 pekerjaan itu selesai, dan di atas bekas alurnya tumbuh jalan yang kini dikaitkan dengan koridor Jalan Jenderal Sudirman. Setiap hari ribuan kendaraan melintas di sana tanpa sadar sedang berjalan di atas bekas air.
Kisah Tengkuruk adalah pintu masuk yang pas untuk memahami Palembang. Kota ini tidak sekadar kebetulan dilewati sungai. Selama berabad-abad, sungai adalah jalan raya, pasar, alamat rumah, dan garis pertahanan. Untuk mengenal Palembang, kita harus mengikuti alirannya.
Sungai yang membelah kota
Sungai Musi adalah sungai utama Sumatera Selatan. Data Dinas Perhubungan provinsi mencatat panjangnya sekitar 750 kilometer. Ia berhulu di kawasan Bukit Barisan dan mengalir ke kawasan muara di sekitar Selat Bangka. Di Palembang, Musi membelah kota menjadi Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan.
Musi tidak mengalir sendirian. Di Sumatera Selatan dikenal istilah Batanghari Sembilan untuk kelompok sungai besar yang terhubung dengan sistem Musi. Jaringan inilah yang menghubungkan pedalaman dengan Palembang, lalu Palembang dengan laut.
Ada anggapan bahwa Musi dulu lebih panjang dari sekarang. Bukti untuk itu belum cukup. Yang lebih kuat adalah bahwa jaringan perairan kota dulu jauh lebih rumit: banyak anak sungai dan kanal yang kini menyempit, berubah, ditimbun, atau hilang.

Kota pulau-pulau
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, anak-anak sungai membelah pusat kota menjadi semacam pulau. Buku Khazanah Kota Palembang menggambarkan kawasan inti keraton yang dibatasi Sungai Kapuran di utara, Sungai Musi di selatan, Sungai Sekanak di barat, dan Sungai Tengkuruk di timur. Masjid Agung juga berada di “pulau” yang sama.
Di kota seperti ini, perahu lebih berguna daripada kuda. Barang, tamu, berita, dan pasukan bergerak mengikuti air. Tidak heran bila pusat kekuasaan, pasar, dan tempat ibadah tumbuh di tepiannya.
Penuturan lokal menyimpan jejak cara berpikir itu. Orang Palembang lama disebut memakai ungkapan nak ke laut untuk pergi ke arah sungai dan nak ke darat untuk menjauhinya. Ungkapan ini berasal dari pengetahuan lisan dan belum diperiksa dalam kajian bahasa, tetapi ia menunjukkan betapa sungai menjadi patokan arah kehidupan.
Dari ruang air ke ruang darat
Modernisasi kolonial mengubah orientasi kota. Kajian sejarah kota menggambarkan pergeseran dari ruang air, ketika sungai menjadi urat nadi perhubungan, menuju ruang darat dengan jalan dan jembatan. Penimbunan Tengkuruk adalah contoh paling jelas. Itulah sebabnya peta Palembang lama dan peta modern tampak seperti dua kota yang berbeda.
Palembang pernah dijuluki Venesia dari Timur karena banyaknya jalur air. Julukan ini hidup dalam narasi sejarah kota, tetapi asal-usulnya belum ditelusuri sampai sumber pertama. Jadi kurang tepat menyebut pihak tertentu sebagai pencipta julukan itu tanpa bukti.

Rumah di atas air
Rumah rakit adalah bagian penting dari permukiman sungai. Sejumlah kajian menghubungkannya dengan pengaturan penduduk pendatang di kota air. Ada pula cerita bahwa rakit pendatang bisa dilepas dari tambatannya sebagai bentuk pengusiran. Kisah ini muncul dalam penuturan dan sumber sekunder, tetapi rinciannya belum cukup kuat untuk disebut aturan resmi Kesultanan. Kisah lengkapnya ada di artikel Rumah Rakit.
Mengapa airnya cokelat?
Warna kecokelatan Musi berasal dari sedimen yang terbawa dan melayang di dalam air. Tingkat kekeruhannya berubah menurut debit, hujan, arus, pasang surut, dan kondisi dasar sungai. Kapal memang bisa mengaduk sedimen di titik tertentu, tetapi kurang tepat mengatakan air Musi keruh semata-mata karena kapal. Riak di permukaan pun dipengaruhi angin, arus, pasang surut, dan gelombang dari kapal yang lewat.
Folklor Sungai Musi
Mu Ci atau Dewi Muci. Ada cerita populer yang mengaitkan nama Musi dengan “Mu Ci” atau sosok Dewi Muci. Ini legenda, bukan asal kata yang sudah dibuktikan.
Antu Banyu. Masyarakat sungai mengenal kisah Antu Banyu dan keyakinan bahwa orang yang tenggelam di Musi tidak akan muncul. Dasar sungai yang berlumpur memang bisa menyulitkan pencarian, tetapi tidak ada dasar ilmiah bahwa korban pasti tidak ditemukan.
Sungai sebagai arsip
Musi menyimpan cerita Sriwijaya, Kesultanan, perdagangan, rumah rakit, para pendatang, perubahan kota, sampai legenda yang masih dituturkan. Ia bukan sekadar latar foto Jembatan Ampera, melainkan arsip hidup Palembang.
Dari tepian sungai inilah pusat-pusat kekuasaan Palembang tumbuh. Kisah berikutnya membawa kita ke Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Sungai Tengkuruk ditimbun?
Pemerintah Gemeente Palembang mulai menimbun Sungai Tengkuruk pada 1928, dan pekerjaannya selesai sekitar 1930. Di atas bekas alur sungai itu kini berdiri jalan yang dikaitkan dengan koridor Jalan Jenderal Sudirman.
Mengapa Palembang lama disebut kota pulau-pulau?
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, anak-anak sungai membelah pusat kota sehingga kawasan intinya terbentuk seperti pulau. Kawasan keraton dibatasi Sungai Kapuran di utara, Sungai Musi di selatan, Sungai Sekanak di barat, dan Sungai Tengkuruk di timur, dengan Masjid Agung berada di pulau yang sama.
Apa itu Batanghari Sembilan?
Batanghari Sembilan adalah istilah untuk kelompok sungai besar di Sumatera Selatan yang terhubung dengan sistem Sungai Musi. Jaringan perairan ini menghubungkan pedalaman dengan Palembang, lalu Palembang dengan laut.
Apa arti ungkapan nak ke laut dan nak ke darat?
Orang Palembang lama memakai ungkapan nak ke laut untuk pergi ke arah sungai dan nak ke darat untuk menjauhinya. Ungkapan ini berasal dari pengetahuan lisan dan belum diperiksa dalam kajian bahasa, tetapi menunjukkan betapa sungai menjadi patokan arah kehidupan masyarakat Palembang.


