Sungai Musi: Kota yang Dibentuk oleh Air

EntriDiperbarui

Palembang bukan kota yang kebetulan punya sungai. Ia kota yang dibentuk oleh sungai, sampai-sampai salah satu jalan utamanya dulu adalah aliran air.

Pemandangan Sungai Musi dengan rumah panggung di tepian
Foto: Oka1302 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Di pusat Palembang ada sebuah jalan raya yang dulunya sungai. Namanya Sungai Tengkuruk. Pada 1928, pemerintah Gemeente Palembang mulai menimbunnya. Sekitar 1930 pekerjaan itu selesai, dan di atas bekas alurnya tumbuh jalan yang kini dikaitkan dengan koridor Jalan Jenderal Sudirman. Setiap hari ribuan kendaraan melintas di sana tanpa sadar sedang berjalan di atas bekas air.

Kisah Tengkuruk adalah pintu masuk yang pas untuk memahami Palembang. Kota ini tidak sekadar kebetulan dilewati sungai. Selama berabad-abad, sungai adalah jalan raya, pasar, alamat rumah, dan garis pertahanan. Untuk mengenal Palembang, kita harus mengikuti alirannya.

Sungai yang membelah kota

Sungai Musi adalah sungai utama Sumatera Selatan. Data Dinas Perhubungan provinsi mencatat panjangnya sekitar 750 kilometer. Ia berhulu di kawasan Bukit Barisan dan mengalir ke kawasan muara di sekitar Selat Bangka. Di Palembang, Musi membelah kota menjadi Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan.

Musi tidak mengalir sendirian. Di Sumatera Selatan dikenal istilah Batanghari Sembilan untuk kelompok sungai besar yang terhubung dengan sistem Musi. Jaringan inilah yang menghubungkan pedalaman dengan Palembang, lalu Palembang dengan laut.

Ada anggapan bahwa Musi dulu lebih panjang dari sekarang. Bukti untuk itu belum cukup. Yang lebih kuat adalah bahwa jaringan perairan kota dulu jauh lebih rumit: banyak anak sungai dan kanal yang kini menyempit, berubah, ditimbun, atau hilang.

Perahu wisata menyusuri Sungai Musi dengan bangunan tepian
Perahu wisata di Sungai Musi. Foto: Oka1302 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Kota pulau-pulau

Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, anak-anak sungai membelah pusat kota menjadi semacam pulau. Buku Khazanah Kota Palembang menggambarkan kawasan inti keraton yang dibatasi Sungai Kapuran di utara, Sungai Musi di selatan, Sungai Sekanak di barat, dan Sungai Tengkuruk di timur. Masjid Agung juga berada di “pulau” yang sama.

Di kota seperti ini, perahu lebih berguna daripada kuda. Barang, tamu, berita, dan pasukan bergerak mengikuti air. Tidak heran bila pusat kekuasaan, pasar, dan tempat ibadah tumbuh di tepiannya.

Penuturan lokal menyimpan jejak cara berpikir itu. Orang Palembang lama disebut memakai ungkapan nak ke laut untuk pergi ke arah sungai dan nak ke darat untuk menjauhinya. Ungkapan ini berasal dari pengetahuan lisan dan belum diperiksa dalam kajian bahasa, tetapi ia menunjukkan betapa sungai menjadi patokan arah kehidupan.

Dari ruang air ke ruang darat

Modernisasi kolonial mengubah orientasi kota. Kajian sejarah kota menggambarkan pergeseran dari ruang air, ketika sungai menjadi urat nadi perhubungan, menuju ruang darat dengan jalan dan jembatan. Penimbunan Tengkuruk adalah contoh paling jelas. Itulah sebabnya peta Palembang lama dan peta modern tampak seperti dua kota yang berbeda.

Palembang pernah dijuluki Venesia dari Timur karena banyaknya jalur air. Julukan ini hidup dalam narasi sejarah kota, tetapi asal-usulnya belum ditelusuri sampai sumber pertama. Jadi kurang tepat menyebut pihak tertentu sebagai pencipta julukan itu tanpa bukti.

Pemandangan Sungai Musi dengan rumah panggung di tepian
Sungai Musi membentuk lanskap Kota Palembang. Foto: Cynthia.veronica / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Rumah di atas air

Rumah rakit adalah bagian penting dari permukiman sungai. Sejumlah kajian menghubungkannya dengan pengaturan penduduk pendatang di kota air. Ada pula cerita bahwa rakit pendatang bisa dilepas dari tambatannya sebagai bentuk pengusiran. Kisah ini muncul dalam penuturan dan sumber sekunder, tetapi rinciannya belum cukup kuat untuk disebut aturan resmi Kesultanan. Kisah lengkapnya ada di artikel Rumah Rakit.

Mengapa airnya cokelat?

Warna kecokelatan Musi berasal dari sedimen yang terbawa dan melayang di dalam air. Tingkat kekeruhannya berubah menurut debit, hujan, arus, pasang surut, dan kondisi dasar sungai. Kapal memang bisa mengaduk sedimen di titik tertentu, tetapi kurang tepat mengatakan air Musi keruh semata-mata karena kapal. Riak di permukaan pun dipengaruhi angin, arus, pasang surut, dan gelombang dari kapal yang lewat.

Folklor Sungai Musi

Mu Ci atau Dewi Muci. Ada cerita populer yang mengaitkan nama Musi dengan “Mu Ci” atau sosok Dewi Muci. Ini legenda, bukan asal kata yang sudah dibuktikan.

Antu Banyu. Masyarakat sungai mengenal kisah Antu Banyu dan keyakinan bahwa orang yang tenggelam di Musi tidak akan muncul. Dasar sungai yang berlumpur memang bisa menyulitkan pencarian, tetapi tidak ada dasar ilmiah bahwa korban pasti tidak ditemukan.

Sungai sebagai arsip

Musi menyimpan cerita Sriwijaya, Kesultanan, perdagangan, rumah rakit, para pendatang, perubahan kota, sampai legenda yang masih dituturkan. Ia bukan sekadar latar foto Jembatan Ampera, melainkan arsip hidup Palembang.

Dari tepian sungai inilah pusat-pusat kekuasaan Palembang tumbuh. Kisah berikutnya membawa kita ke Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan Sungai Tengkuruk ditimbun?

Pemerintah Gemeente Palembang mulai menimbun Sungai Tengkuruk pada 1928, dan pekerjaannya selesai sekitar 1930. Di atas bekas alur sungai itu kini berdiri jalan yang dikaitkan dengan koridor Jalan Jenderal Sudirman.

Mengapa Palembang lama disebut kota pulau-pulau?

Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, anak-anak sungai membelah pusat kota sehingga kawasan intinya terbentuk seperti pulau. Kawasan keraton dibatasi Sungai Kapuran di utara, Sungai Musi di selatan, Sungai Sekanak di barat, dan Sungai Tengkuruk di timur, dengan Masjid Agung berada di pulau yang sama.

Apa itu Batanghari Sembilan?

Batanghari Sembilan adalah istilah untuk kelompok sungai besar di Sumatera Selatan yang terhubung dengan sistem Sungai Musi. Jaringan perairan ini menghubungkan pedalaman dengan Palembang, lalu Palembang dengan laut.

Apa arti ungkapan nak ke laut dan nak ke darat?

Orang Palembang lama memakai ungkapan nak ke laut untuk pergi ke arah sungai dan nak ke darat untuk menjauhinya. Ungkapan ini berasal dari pengetahuan lisan dan belum diperiksa dalam kajian bahasa, tetapi menunjukkan betapa sungai menjadi patokan arah kehidupan masyarakat Palembang.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan. Data alur pelayaran Sungai Musi (panjang sekitar 750 km).
  2. Universitas Sriwijaya. Khazanah Kota Palembang (kawasan inti keraton, jaringan sungai, Sungai Tengkuruk).
  3. Nawiyanto dkk. Kesultanan Palembang: Sejarah dan Warisan Budayanya (letak Masjid Agung di kawasan yang dikelilingi sungai).
  4. Maryani Sujiyati. Pembangunan Kota Palembang dengan Kebijakan Pemerintah Gemeente (penimbunan Sungai Tengkuruk 1928).
  5. Dedi Irwanto M. Santun dkk. Kajian Venesia dari Timur dan perubahan ruang air menjadi ruang daratan Palembang.
  6. Ida Farida, Endang Rochmiatun, dan Nyimas Umi Kalsum. Peran Sungai Musi dalam Perkembangan Peradaban Islam di Palembang.

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Sungai Musi: Kota yang Dibentuk oleh Air. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/sejarah-sungai-musi-palembang/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Prasasti Talang Tuo peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Entri · Sejarah

Sriwijaya dan Palembang dalam Jaringan Dunia Maritim

Sriwijaya bukan satu bangunan yang bisa ditunjuk, melainkan jaringan sungai, pelabuhan, agama, dan kekuasaan. Prasasti dan catatan perjalanan menempatkan Palembang sebagai salah satu simpul…

Abad ke-7 sampai abad ke-11, dengan jaringan yang berlanjut sesudahnya

Lukisan Keraton Kutogawang

Entri · Sejarah

Dari Kerajaan Palembang ke Kesultanan Palembang Darussalam

Setelah Sriwijaya, Palembang tidak berhenti menjadi pusat kekuasaan. Dari hubungan dengan Jawa, perdagangan lada, dan kebakaran Kuto Gawang pada 1659, lahirlah Kesultanan Palembang Darussalam.

Sekitar abad ke-16 sampai awal abad ke-19