Masjid Agung Palembang: Sepuluh Tahun Membangun Masjid Sultan

EntriDiperbarui

Batu pertamanya diletakkan pada 1738, dan masjid ini baru diresmikan sepuluh tahun kemudian. Masjid Sultan adalah pernyataan iman sekaligus pernyataan politik Kesultanan Palembang.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
Foto: Swarabakti / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Batu pertamanya diletakkan pada 1738. Masjid ini baru diresmikan pada 26 Mei 1748, sepuluh tahun kemudian. Satu dekade untuk satu bangunan menunjukkan betapa besar ambisi di baliknya: tenaga kerja, bahan, keahlian, dan pengelolaan yang terus berjalan bertahun-tahun di tengah kota sungai.

Orang Palembang menyebutnya Masjid Sultan, karena didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Hari ini ia dikenal sebagai Masjid Agung Palembang. Menjelang salat Jumat, kawasan di sekitarnya dipenuhi jamaah, pedagang, dan kendaraan. Sulit membayangkan bahwa dulu masjid ini berdiri di sebuah “pulau” yang dikelilingi sungai.

Masjid di tengah pulau

Pada masa Kesultanan, pusat kota Palembang dibelah anak-anak sungai. Masjid Agung berada di kawasan yang dikelilingi Sungai Musi di selatan, Sungai Sekanak di barat, Sungai Tengkuruk di timur, dan Sungai Kapuran di utara. Di kawasan yang sama ada keraton dan pasar. Jamaah bisa datang dengan perahu.

Sebagian besar sungai itu sudah berubah. Tengkuruk ditimbun pada 1928 sampai 1930 dan menjadi jalan raya. Kisahnya ada di artikel Sungai Musi. Masjidnya tetap di tempat yang sama, kini di kawasan 19 Ilir, di jantung kota.

Bangunan bersejarah di Kampung Arab Palembang
Bangunan tua di kawasan 13 Ulu. Foto: fitri agung from Pekanbaru, Riau, Indonesia, Indonesia / Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

Pernyataan iman, pernyataan kekuasaan

Membangun masjid besar adalah cara Kesultanan menunjukkan hubungan antara kekuasaan, pengetahuan agama, dan tata kota. Nama Agung bukan sekadar soal ukuran. Ia menandai status: tempat salat Jumat, perayaan keagamaan, pengumuman penting, dan pertemuan warga.

Sultan Mahmud Badaruddin I adalah patron utama pembangunannya. Masjid ini bagian dari program kota yang lebih luas, yang juga mencakup keraton dan kompleks makam Kawah Tengkurep, tempat sang sultan kelak dimakamkan. Tetapi masjid hidup karena orang-orang yang mengisinya: imam dan ulama yang mengajar, jamaah dari kampung-kampung, pedagang, santri, dan musafir. Jejak mereka sering tidak tercatat di prasasti, tetapi hadir dalam tradisi pengajian, wakaf, dan cerita keluarga.

Arsitektur yang mempertemukan

Atap bertingkat masjid ini mengingatkan pada tradisi masjid Nusantara. Sejumlah penulis membaca unsur-unsur arsitekturnya sebagai perpaduan beberapa kebudayaan, termasuk pengaruh Melayu, Jawa, dan Tionghoa yang beredar lewat jalur perdagangan. Pembacaan ini menarik, tetapi perlu hati-hati: kemiripan bentuk tidak otomatis membuktikan siapa arsiteknya atau dari mana setiap unsur berasal. Setiap atribusi perlu diuji lewat kajian bahan dan teknik.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II. Foto: Swarabakti / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Cerita yang beredar

Ada cerita tentang satu arsitek tunggal dari luar Nusantara, juga kisah hubungan gaib antara masjid dan sungai. Cerita-cerita ini adalah bagian dari penghormatan budaya. Ia tidak menggantikan catatan sejarah pembangunan.

Berkunjung ke masjid yang masih hidup

Masjid Agung adalah masjid aktif, bukan museum. Wisatawan dipersilakan datang di luar waktu salat, berpakaian sopan, dan menghormati area yang tidak boleh dipotret. Nilai sejarahnya justru terjaga karena masjid ini terus dipakai setiap hari.

Dari masjid di pusat kota, perjalanan berlanjut menyeberangi sungai ke kampung tempat komunitas Arab membangun kehidupan: Kampung Arab Al-Munawar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan Masjid Agung Palembang diresmikan?

Batu pertamanya diletakkan pada 1738 dan masjid ini baru diresmikan pada 26 Mei 1748, sepuluh tahun kemudian. Satu dekade pembangunan menunjukkan betapa besar ambisi di baliknya, dari tenaga kerja, bahan, hingga keahlian dan pengelolaan yang berjalan bertahun-tahun di tengah kota sungai.

Mengapa Masjid Agung Palembang disebut Masjid Sultan?

Orang Palembang menyebutnya Masjid Sultan karena masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Sultan tersebut juga menjadi patron utama pembangunannya sebagai bagian dari program kota yang lebih luas, yang mencakup keraton dan kompleks makam Kawah Tengkurep, tempat sang sultan kelak dimakamkan. Hari ini masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Palembang.

Bagaimana kondisi kawasan Masjid Agung Palembang pada masa Kesultanan?

Pada masa Kesultanan, Masjid Agung berdiri di sebuah “pulau” yang dikelilingi Sungai Musi di selatan, Sungai Sekanak di barat, Sungai Tengkuruk di timur, dan Sungai Kapuran di utara. Di kawasan yang sama terdapat keraton dan pasar, sehingga jamaah bisa datang dengan perahu. Sebagian sungai itu kini sudah berubah, seperti Tengkuruk yang ditimbun pada 1928 sampai 1930 dan menjadi jalan raya, sementara masjidnya tetap di tempat yang sama, kini di kawasan 19 Ilir.

Mengapa masjid ini disebut Agung?

Nama Agung bukan sekadar soal ukuran, melainkan penanda status. Bangunan ini menjadi tempat salat Jumat, perayaan keagamaan, pengumuman penting, dan pertemuan warga, sekaligus cara Kesultanan menunjukkan hubungan antara kekuasaan, pengetahuan agama, dan tata kota.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan. Masjid Agung Palembang. https://sumsel.kemenag.go.id/artikel/view/11049/masjid-agung-palembang
  2. Indonesia Kaya. Masjid Agung Palembang, Masjid Sultan Perpaduan Tiga Kebudayaan. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/masjid-agung-palembang-masjid-sultan-perpaduan-tiga-kebudayaan/
  3. detikSumbagsel. Masjid Agung Palembang: Sejarah dan Pesonanya. https://www.detik.com/sumbagsel/wisata/d-6767076/masjid-agung-palembang-sejarah-dan-pesonanya

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Masjid Agung Palembang: Sepuluh Tahun Membangun Masjid Sultan. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/sejarah-masjid-agung-palembang/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Bukit Seguntang Tombs

Entri · Sejarah

Kawah Tekurep: Makam Para Sultan di 3 Ilir

Atap makamnya mirip kawah yang ditelungkupkan, dan dari bentuk itulah namanya lahir. Di bawahnya beristirahat Sultan Mahmud Badaruddin I, penguasa yang membangun Masjid Agung.

Kesultanan Palembang Darussalam sampai kini