Pasar ini tumbuh di dekat muara sebuah sungai yang kini tidak ada lagi. Sungai Tengkuruk dulu mengalir di sebelah timur Masjid Agung dan bermuara ke Musi. Perahu dari hulu merapat di sekitarnya membawa hasil bumi, kayu, dan ikan. Pada 1928, sungai itu mulai ditimbun dan menjadi jalan. Pasarnya tidak ikut hilang. Ia menyesuaikan diri, dan hari ini dikenal sebagai Pasar 16 Ilir.
Pagi di 16 Ilir dimulai sebelum toko membuka pintu. Gerobak datang membawa kardus, pedagang menata dagangan, dan dari arah sungai masih terdengar mesin perahu. Di lorong-lorongnya orang bukan hanya berbelanja, tetapi juga bertukar kabar tentang harga, kampung, dan perjalanan.
Dari kios ke los
Kajian sejarah di jurnal Diakronika menyebut kawasan Pasar 16 Ilir mulai terbentuk sekitar tahun 1900, pada awal abad ke-20, dan mencatat bahwa los-los yang lebih modern kemudian dibangun menggantikan kios lama dengan memperhatikan aspek kebersihan.
Satu hal perlu dibedakan: tahun sebuah kawasan mulai dipakai untuk berdagang tidak sama dengan tahun berdirinya gedung pasar. Sebuah tempat bisa ramai jual-beli jauh sebelum punya bangunan.

Angka 16 dan arah hilir
Angka 16 merujuk pada penamaan kawasan ilir dalam tata ruang tradisional Palembang, yang menomori kampung-kampung di sepanjang tepian Musi. Ilir berarti arah hilir. Nama ini menempatkan pasar dalam geografi sungai, bukan sekadar nomor administratif. Sebutan Pasar 16 bertahan meski bangunan, dagangan, dan jalan di sekitarnya terus berubah.
Ketika sungai menjadi jalan
Penimbunan Tengkuruk pada 1928 sampai sekitar 1930 adalah bagian dari perubahan besar Palembang dari kota air menjadi kota darat. Ketika aliran air berubah, perdagangan tidak berhenti. Ia berpindah dan beradaptasi. Barang yang dulu tiba dengan perahu mulai datang dengan kendaraan, tetapi kedekatan dengan sungai tetap menentukan lokasi dan jenis dagangan.
Kisah lengkap sungai yang ditimbun itu ada di artikel Sungai Musi.

Orang-orang di balik etalase
Sejarah pasar jarang ditulis di prasasti. Ia tersimpan dalam ingatan pedagang, nama lorong, pola kios, dan kebiasaan tawar-menawar. Ada pemilik gudang, pedagang perantara, buruh angkut, pengemudi perahu, dan pembeli eceran. Pedagang perempuan banyak menjaga toko dan mengatur keuangan keluarga. Semua peran itu membuat pasar hidup.
Pasar juga tempat bertemunya bahasa dan kebiasaan. Orang dari ulu, ilir, dan luar Sumatra berbaur, dan dari pertemuan itu lahir kosakata dagang yang khas.
Cerita yang perlu diluruskan
Ada cerita bahwa dulu semua barang di Palembang melewati satu pasar ini. Itu penyederhanaan, karena kota memiliki banyak titik jual-beli. Cerita tentang lorong tertentu sebagai bagian paling tua juga perlu dicocokkan dengan peta dan arsip.
Berbelanja dengan sadar sejarah
Pasar 16 Ilir masih menghadapi persoalan penataan, keselamatan, kebersihan, dan hubungan dengan tepian sungai. Revitalisasi yang hanya mengejar tampilan bisa menghapus jaringan sosial yang membuat pasar bertahan. Bagi wisatawan, pasar ini adalah tempat untuk memahami cara Palembang bekerja sebagai kota dagang. Ingat bahwa pasar adalah tempat orang bekerja: jangan menghalangi bongkar muat dan minta izin sebelum memotret pedagang.
Dari pasar, langkah berikutnya menuju bangunan yang dulu menjaga pusat Kesultanan: Benteng Kuto Besak.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa Pasar 16 Ilir dinamai “16 Ilir”?
Angka 16 merujuk pada penamaan kawasan ilir dalam tata ruang tradisional Palembang, yang menomori kampung-kampung di sepanjang tepian Musi. Kata “ilir” berarti arah hilir, sehingga nama ini menempatkan pasar dalam geografi sungai, bukan sekadar nomor administratif.
Kapan Sungai Tengkuruk ditimbun?
Penimbunan Sungai Tengkuruk dimulai pada 1928 dan berlangsung sampai sekitar 1930. Peristiwa ini merupakan bagian dari perubahan besar Palembang dari kota air menjadi kota darat, dan bekas alirannya kemudian menjadi jalan.
Bagaimana Pasar 16 Ilir bisa bertahan setelah sungainya ditimbun?
Pasarnya tidak ikut hilang, melainkan menyesuaikan diri saat aliran air berubah. Barang yang dulu tiba dengan perahu mulai datang dengan kendaraan, dan perdagangan berpindah serta beradaptasi meski kedekatan dengan sungai tetap menentukan lokasi dan jenis dagangan.
Mengapa dulu banyak perahu merapat di kawasan Pasar 16 Ilir?
Sungai Tengkuruk dulu mengalir di sebelah timur Masjid Agung dan bermuara ke Musi, tepat di dekat kawasan pasar. Perahu dari hulu merapat di sekitarnya membawa hasil bumi, kayu, dan ikan untuk diperdagangkan.


