Pada tahun 1920, sebagian dari sebuah arca ditemukan di bukit kecil di sisi barat Palembang. Delapan tahun kemudian, bagian lain menyusul. Potongan-potongan itu berasal dari satu sosok yang sama: arca Buddha berukuran besar, temuan yang sampai sekarang membuat para peneliti menoleh ke bukit ini setiap kali membicarakan Palembang kuno.
Bukit itu bernama Siguntang. Hari ini orang datang ke sana dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang berziarah ke makam-makam di puncaknya. Ada yang ingin melihat sisa Sriwijaya. Ada pula yang hanya mencari tempat teduh. Mereka menapaki tanah yang sama, tetapi membawa pertanyaan yang berbeda, dan itulah yang membuat Bukit Siguntang menarik: tempat ini menyimpan dua jenis ingatan sekaligus.
Ingatan pertama berupa benda. Arca, pecahan, dan sisa struktur bisa diteliti, dibandingkan, dan diperdebatkan oleh arkeolog. Ingatan kedua berupa cerita. Dalam tradisi Melayu, bukit ini adalah tempat asal-usul para raja. Untuk memahami Bukit Siguntang, kita perlu mendengarkan keduanya tanpa mencampuradukkan yang satu dengan yang lain.

Dari mana nama Siguntang?
Kata bukit jelas artinya. Unsur Siguntang lebih sulit. Ada penafsiran yang menghubungkannya dengan bentuk bukit yang menonjol dan terlihat dari kejauhan. Penjelasan ini masuk akal, tetapi belum didukung bukti bahasa: kita belum tahu kapan nama itu pertama dipakai, oleh siapa, dan dari bahasa apa setiap unsurnya berasal.
Bentuk Bukit Seguntang dan Bukit Si Guntang muncul dalam pembicaraan tentang Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin). Itu menunjukkan kedudukan bukit ini dalam ingatan Melayu, tetapi sebuah naskah yang menyebut nama tempat tidak otomatis menjelaskan asal nama itu. Siguntang dan Seguntang adalah variasi penulisan untuk tempat yang sama.

Bukit di tengah lanskap air
Palembang adalah kota sungai, rawa, dan dataran rendah. Di tengah lanskap seperti itu, tanah yang lebih tinggi punya arti tersendiri. Kajian Retno Purwanti dan Eka Asih Putrina Taim membagi situs-situs keagamaan Palembang ke dalam kelompok barat, tengah, dan timur. Bukit Siguntang masuk kelompok barat.
Dalam kajian itu, ketinggian tempat dan sebaran temuan dipakai untuk membaca fungsi ruang. Arca Buddha besar dan temuan lain mendukung penafsiran bahwa bukit ini pernah menjadi lokasi keagamaan penting. Gagasan bahwa bukit ini dimaknai sebagai “gunung suci” adalah interpretasi arkeologis, bukan isi prasasti pendirian. Sampai sekarang belum diketahui siapa yang mendirikan kawasan keagamaan di bukit ini atau kapan tepatnya.

Arca yang ditemukan dalam potongan
Arca Buddha dari Bukit Siguntang adalah temuan paling terkenal dari situs ini. Bentuk dan ciri ikonografinya memberi dasar untuk membicarakan kegiatan Buddhis di Palembang kuno. Kajian Andhifani dan rekan-rekannya mencatat bahwa bagian-bagian arca ditemukan pada 1920 dan 1928.
Dua angka itu adalah tahun penemuan modern, bukan tahun arca dibuat. Sebuah benda bisa berusia berabad-abad ketika baru dicatat peneliti. Usia arca diperkirakan lewat perbandingan gaya, dan perkiraan itu bisa berubah ketika muncul pembanding baru. Karena itu artikel ini tidak menetapkan satu tahun pembuatan.
Selain arca Buddha, catatan tentang situs ini menyebut arca Bodhisattwa, pecahan prasasti, keramik, artefak logam, dan sisa struktur. Daftar itu menarik, tetapi tidak semua benda pasti berasal dari masa yang sama. Situs yang dipakai berulang kali menyimpan lapisan waktu yang berbeda, dan makam yang terlihat hari ini tidak otomatis sezaman dengan arca.
Sang Sapurba dan kisah para raja
Dalam Sejarah Melayu, Sang Sapurba dikaitkan dengan Bukit Seguntang dan asal-usul garis raja Melayu. Cerita ini membuat sebuah bukit di Palembang dikenal jauh melampaui kotanya. Dalam rangkaian yang sama, Sang Nila Utama disebut sebagai keturunan Sang Sapurba dan dikaitkan dengan Temasik, nama lama Singapura.
Kisah ini adalah historiografi dan tradisi. Ia memberi garis penguasa asal-usul yang terhormat, dan nilainya ada di situ. Ia tidak membuktikan bahwa Sang Sapurba mendirikan situs atau bahwa peristiwa luar biasa dalam cerita benar-benar terjadi. Sang Nila Utama juga tidak bisa begitu saja disamakan dengan Parameswara, tokoh yang dikaitkan dengan berdirinya Melaka pada masa kemudian.
Tujuh nama di puncak bukit
Tradisi setempat menyebut tujuh tokoh yang dimakamkan di kawasan ini: Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Djundjungan (juga ditulis Junjungan), Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang.
Raja Sigentar Alam dikenang sebagai penguasa. Bagus Kuning dan Bagus Karang dikisahkan sebagai pengawalnya. Panglima Tuan Djundjungan dikaitkan dengan dakwah. Kisah-kisah ini bernilai sebagai ingatan dan tujuan ziarah, tetapi riwayat hidup para tokohnya belum bisa disusun sebagai biografi yang pasti. Penuturannya pun bervariasi.
Ketika bukit menjadi tempat wisata
Penelitian David Ming membahas bagaimana makna Bukit Siguntang bergeser dari waktu ke waktu, dan ketegangan yang muncul ketika situs warisan juga dikelola sebagai objek wisata. Pertanyaannya bukan sekadar soal fasilitas, tetapi soal siapa yang berhak menentukan arti sebuah tempat.
Penelitian Andhifani dan rekan-rekannya pada 2024 menemukan kesenjangan pemahaman responden tentang latar Buddhis situs ini. Hasilnya berlaku untuk responden penelitian itu, bukan untuk semua warga Palembang, tetapi pesannya jelas: orang bisa berjalan di atas situs penting tanpa tahu apa yang pernah ditemukan di sana.
Kalau berkunjung, ikuti jalur yang diizinkan, hormati peziarah, dan jangan membawa pulang benda apa pun dari kawasan ini. Benda yang dipindahkan tanpa dicatat kehilangan informasi tentang asalnya. Bila menemukan sesuatu yang diduga tinggalan kuno, laporkan kepada pengelola. Jam buka dan biaya masuk belum diverifikasi redaksi, jadi pastikan langsung kepada pengelola sebelum datang.
Perjalanan berlanjut ke Sriwijaya
Bukit Siguntang menyisakan pertanyaan yang belum terjawab: siapa yang pertama menamainya, seperti apa bangunan keagamaannya dulu, dan sejauh mana tokoh-tokoh makamnya dapat ditelusuri. Pertanyaan itu tidak mengurangi nilai bukti yang sudah ada. Justru di sinilah kita belajar membaca kota lapis demi lapis.
Jika di bukit ini ada jejak kegiatan Buddhis dan ingatan dunia Melayu, jaringan seperti apa yang dulu menghubungkan Palembang dengan tempat-tempat jauh? Jawabannya ada pada Sriwijaya dan Sungai Musi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa Bukit Siguntang penting bagi peneliti Palembang kuno?
Pada tahun 1920 sebagian arca Buddha berukuran besar ditemukan di bukit kecil di sisi barat Palembang, dan delapan tahun kemudian bagian lainnya menyusul. Temuan itu berasal dari satu sosok yang sama dan masih membuat para peneliti menoleh ke bukit ini setiap kali membicarakan Palembang kuno.
Apa saja alasan orang datang ke Bukit Siguntang hari ini?
Ada yang berziarah ke makam-makam di puncaknya, ada yang ingin melihat sisa Sriwijaya, dan ada pula yang hanya mencari tempat teduh. Mereka menapaki tanah yang sama tetapi membawa pertanyaan yang berbeda, dan itulah yang membuat Bukit Siguntang menarik.
Mengapa Bukit Siguntang dikatakan menyimpan dua jenis ingatan sekaligus?
Ingatan pertama berupa benda seperti arca, pecahan, dan sisa struktur yang bisa diteliti dan diperdebatkan arkeolog. Ingatan kedua berupa cerita: dalam tradisi Melayu, bukit ini dianggap tempat asal-usul para raja.
Dari mana asal nama Siguntang?
Ada penafsiran yang menghubungkan nama itu dengan bentuk bukit yang menonjol dan terlihat dari kejauhan. Namun penjelasan ini belum didukung bukti bahasa, sebab belum diketahui kapan nama itu pertama dipakai, oleh siapa, dan dari bahasa apa setiap unsurnya berasal.


