Jalan Merdeka bukan sekadar jalan biasa di pusat Kota Palembang. Di bawah kolonial Belanda, jalan ini bernama Gevangenisweg — “jalan penjara” — dan menjadi pusat administrasi pemerintah kolonial. Setelah Balai Kota berdiri pada akhir 1920-an, namanya berganti menjadi Raadhuisweg, “jalan Balai Kota”.
Setelah Indonesia merdeka, nama itu bergeser lagi menjadi Jalan Merdeka. Hari ini, jalan ini masih menjadi urat nadi kota, dengan Monpera, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Kantor Wali Kota berdiri di sepanjangnya — masing-masing menyimpan tiga lapisan sejarah: kolonial, pendudukan Jepang, dan perjuangan kemerdekaan.

Dari jalan penjara ke jalan Balai Kota
Nama Gevangenisweg berasal dari kata gevangenis yang berarti penjara dalam bahasa Belanda. Jalan ini menghubungkan kawasan pusat administrasi kolonial dengan pemukiman orang Eropa di Talang Semut. Di sepanjang jalurnya berdiri kantor-kantor pemerintahan, rumah dinas pejabat Belanda, dan penjara kolonial.
Pada 1 April 1906, Palembang ditetapkan sebagai gemeente — kota otonom — berdasarkan Staatsblad van Nederlandsch-Indie No. 126. Penetapan ini mendorong pembangunan infrastruktur modern. Penduduk Palembang pada 1909 tercatat sekitar 109.069 jiwa untuk wilayah seluas 230,50 kilometer persegi, menjadikannya kota terbesar di luar Jawa pada masa itu.
Balai Kota dan Menara Air: landmark baru
Pembangunan Balai Kota (raadhuis) dan Menara Air (watertoren) dimulai pada 8 Maret 1928, diinisiasi oleh Wali Kota Palembang J. Le Cocq d’Armandville. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda Ir. S. Snuijf dan selesai pada 1931.
Menara Air berfungsi sebagai penampung dan pendistribusian air bersih. Dengan ketinggian sekitar 35 meter dan kapasitas menampung air 12.000 meter kubik, gedung ini menjadi pusat pengelolaan air minum modern di Palembang. Air didistribusikan menggunakan sistem gravitasi dari ketinggian gedung.
Fun fact: balai kota yang dibangun dari potongan gaji pejabat
Proyek ini nyaris tidak jadi. Wali Kota d’Armandville membangun Watertoren dan gedung Schouwburg dengan cara memotong gaji para pejabat kota. Akibatnya, ia diadukan ke pemerintah pusat di Batavia. Penggantinya, Burgemeester Ir. R.C.A.K.J. Nessel van Lissam, meneruskan pembangunan yang sudah dimulai itu hingga selesai.
Nama jalan ini sendiri berganti tiga kali: dari Gevangenisweg (jalan penjara) pada masa kolonial, menjadi Raadhuisweg (jalan Balai Kota) setelah Balai Kota dibangun, dan akhirnya menjadi Jalan Merdeka setelah Indonesia merdeka. Setiap perubahan nama mencerminkan perubahan kekuasaan dan identitas kota.

Masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Jalan Merdeka dan sekitarnya tetap menjadi pusat administrasi pemerintahan. Bangunan-bangunan kolonial digunakan oleh pemerintah militer Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jalan ini menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Palembang.
Lima Hari Lima Malam: pertempuran di jantung kota
Awal Januari 1947, Palembang menjadi medan pertempuran sengit. Pada 28 Desember 1946, seorang anggota laskar Napindo bernama Nangcik tertembak ketika melintasi Benteng. Malamnya, serdadu Belanda yang mengendarai jeep melepaskan tembakan di daerah yang kini bernama Jalan Merdeka, Jalan Tengkuruk, dan sekitar Rumah Sakit Charitas.
Pertempuran pecah pada 1 Januari 1947 dan berlangsung selama lima hari lima malam. Pada hari pertama, Belanda berhasil menduduki Kantor Walikota, Kantor Pos, dan Kantor Residen di Jalan Merdeka pada siang hari. Namun pasukan Republik tidak tinggal diam — malam harinya mereka melancarkan serangan balasan. Gencatan senjata akhirnya disepakati pada 5 Januari 1947 di Rumah Sakit Charitas.
Bangunan-bangunan yang masih berdiri
Di sepanjang Jalan Merdeka berdiri banyak bangunan bersejarah yang masih kokoh hingga kini. Kantor Wali Kota (dulu Watertoren), Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Monpera, dan berbagai bangunan kolonial lainnya kini digunakan sebagai kantor pemerintahan, museum, atau fasilitas umum. Di kawasan Talang Semut di sebelah timur, pemukiman pejabat Belanda dulu berdiri — salah satunya kini menjadi Museum Tekstil Sumsel.
Jalan Merdeka hari ini
Saat ini, Jalan Merdeka menghubungkan kawasan 19 Ilir, Ilir Timur, dan pusat kota, dengan Monpera di ujung selatan dan Benteng Kuto Besak di dekat muara Sungai Musi. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang sejarah kota — dari jalan penjara kolonial hingga jalan yang namanya menjadi simbol kemerdekaan. Kalau ingin tahu lebih lanjut, baca juga kisah Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.


