Bila Anda pernah memegang uang Rp10.000 emisi 2005, Anda sudah melihat salah satu koleksi museum ini. Rumah kayu beratap limas di lembar uang itu berdiri di halaman belakang Museum Balaputra Dewa. Rumah itu dibangun sekitar 1830 dan bisa Anda masuki (GIWANG Pemprov Sumsel).
Tetapi rumah limas hanyalah satu dari ribuan cerita di sini. Museum Negeri Sumatera Selatan ini merentang dari batu-batu megalitik di dataran tinggi Pasemah sampai seragam pejuang kemerdekaan.
Museum provinsi dengan nama raja Sriwijaya
Pembangunan museum dirintis pada 1978 dan diresmikan pada 5 November 1984. Menurut kajian di Jurnal Besaung, pembentukannya didasarkan pada SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0177/1984 tertanggal 17 April 1984, dan nama “Balaputra Dewa” ditambahkan lewat SK Nomor 0223/0/1990 tertanggal 4 April 1990.
Nama itu diambil dari Balaputradewa, raja Sriwijaya pada abad ke-9. Museum ini dikelola Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui UPT Museum Negeri di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (GNFI). Lahannya sekitar 23.565 meter persegi.

Empat babak dalam satu kompleks
Koleksinya mengikuti urutan sejarah Sumatera Selatan (GIWANG):
- Masa megalitik, dengan benda-benda dari kawasan Pasemah di Pagar Alam.
- Masa Sriwijaya, termasuk deretan prasasti.
- Masa Kesultanan Palembang, antara lain kain songket.
- Masa perjuangan kemerdekaan.
Satu hal yang perlu diketahui sebelum datang: sebagian besar prasasti Sriwijaya yang dipamerkan di sini adalah replika. Aslinya banyak disimpan di Museum Nasional di Jakarta dan di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Replika tetap berguna untuk belajar, tetapi sebaiknya tidak disangka benda asli.
Koleksinya terus bertambah. Pada 2025, museum menerima ratusan benda hibah dari masyarakat, termasuk keramik dari masa Sriwijaya dan Kesultanan (Antara Sumsel).
Rumah limas di halaman belakang
Bagian paling populer justru berada di luar gedung utama. Rumah limas di belakang museum dibangun sekitar 1830 dari kayu tembesu dan ulin. Rumah ini sudah berpindah tempat beberapa kali sebelum menetap di sini pada 1985. Kisah lengkapnya, termasuk makna lantai bertingkat kekijing, ada di artikel Rumah Limas.

Tips berkunjung
Museum tutup setiap Senin. Pada hari lain, datanglah sebelum siang; jam tutup yang tercatat berkisar antara pukul 15.00 dan 16.00. Tarif tiket berbeda antarsumber tetapi semuanya di bawah Rp20.000, bahkan untuk wisatawan asing.
Lokasinya agak jauh dari kawasan Ampera, sekitar 5 kilometer dari pusat kota di jalur menuju bandara. Rencanakan kunjungan bersama Bukit Siguntang dan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya bila ingin menelusuri jejak Sriwijaya dalam satu hari.
Fasilitasnya mencakup parkir, toilet, musala, dan pemandu (detikSumbagsel). Auditoriumnya pernah dipakai untuk acara budaya provinsi.
Angka yang berbeda-beda
Jumlah koleksi. Sekitar 3.800 benda menurut Wikipedia dan GNFI, tetapi sekitar 8.800 menurut kepala museum yang dikutip GIWANG. Perbedaannya bisa karena cara menghitung atau karena koleksi bertambah.
Tahun berdiri. Ada satu kajian yang menyebut museum dibangun pada 1877. Ini tidak cocok dengan sumber lain yang konsisten menyebut 1978 sampai 1984, dan kemungkinan salah ketik.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah Museum Balaputra Dewa buka hari Senin? Tidak. Museum tutup setiap Senin.
Berapa harga tiket Museum Balaputra Dewa? Menurut Antara (2025), umum Rp5.000, pelajar Rp2.000, mahasiswa Rp3.000, dan wisatawan asing Rp15.000. Sumber lain menyebut dewasa Rp2.000.
Apakah rumah limas di uang Rp10.000 ada di museum ini? Ya, di halaman belakang museum.
Apakah prasastinya asli? Sebagian besar prasasti Sriwijaya di sini adalah replika. Aslinya banyak tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
Untuk memahami kerajaan yang namanya dipakai museum ini, baca Sriwijaya di Palembang, lalu lihat sisa-sisa jaringan airnya di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.


