Pada 1984, sebuah foto udara memperlihatkan sesuatu yang tidak terlihat dari tanah: garis-garis air lurus yang membelah kawasan Karanganyar di barat Palembang. Garis-garis itu ternyata kanal dan parit buatan manusia. Salah satunya, Parit Suak Bujang, panjangnya sekitar 3 kilometer dengan lebar 25 sampai 30 meter, dan kedua ujungnya bermuara ke Sungai Musi (Wikipedia).
Temuan itu mendorong penggalian arkeologi, dan kawasan tersebut kini menjadi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, atau TPKS.
Apa yang ditemukan di sini?
Penggalian pada 1985 sampai 1989 menemukan tembikar, keramik, manik-manik, dan struktur bata. Jaringan airnya terdiri atas kanal, parit, dan kolam, dengan dua pulau buatan bernama Pulau Nangka dan Pulau Cempaka. Kolam terbesar, Kolam Karanganyar 1, berukuran sekitar 623 kali 325 meter.
Situs ini dikaitkan dengan permukiman masa Sriwijaya. Luas taman sekitar 20 hektare. Menurut sebuah skripsi di Universitas Muhammadiyah Palembang, TPKS diresmikan Presiden Soeharto pada 22 Desember 1994; tanggal ini baru ditemukan di satu sumber.

Museum Sriwijaya
Di dalam taman berdiri Museum Sriwijaya, yang direnovasi dan berganti nama pada 2008. Salah satu koleksi unggulannya adalah fragmen kemudi kapal dari masa Sriwijaya (Jurnal Sejarah UM). Indonesia Travel juga mencatat sebuah perahu sepanjang sekitar 8,2 meter.
Kawasan ini juga dilengkapi pendopo utama berbentuk limasan di Pulau Nangka, gedung prasasti, dan mini teater (jurnal UIGM).
Benarkah ini pusat Sriwijaya?
GIWANG, portal pariwisata Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, menyebut situs ini “diduga” pusat Kerajaan Sriwijaya. Kata “diduga” itu penting. Sejumlah literatur arkeologi mencatat bahwa bukti dari periode Sriwijaya di situs ini masih terbatas, sehingga penentuan pusat kerajaan belum bisa dipastikan. Yang bisa dikatakan dengan aman: jaringan air di Karanganyar adalah karya rekayasa yang besar, dan temuan di sekitarnya menunjukkan permukiman yang ramai di tepi Musi.

Tips berkunjung
Taman ini lebih nyaman dikunjungi pagi atau sore karena sebagian besar areanya terbuka. Tiket masuk Rp5.000 per orang menurut detikSumbagsel. Bila ingin masuk Museum Sriwijaya, datanglah pada hari kerja sebelum pukul 16.00.
TPKS berada di selatan Bukit Siguntang. Keduanya bisa dikunjungi dalam satu perjalanan, dan bersama Museum Balaputra Dewa membentuk rute napak tilas Sriwijaya.
Sebuah kajian di Jurnal Sylva mencatat kelemahan pengelolaan, antara lain infrastruktur yang rusak dan fasilitas yang tidak lengkap. Pada Januari 2024 Pemerintah Kota Palembang menanam pohon di kawasan ini (Antara Sumsel). Kondisi bisa berbeda dari foto-foto lama di internet.
Klaim yang perlu dibaca hati-hati
“Pusat Kerajaan Sriwijaya”. Masih dugaan. Literatur arkeologi belum menyepakatinya.
Asli atau replika? Menurut GIWANG, sebagian prasasti asli Sriwijaya disimpan di TPKS, tetapi ada juga replika, misalnya replika Prasasti Kedukan Bukit di pendopo menurut sumber populer. Tanyakan kepada petugas mana yang asli.
Pertanyaan yang sering diajukan
Di mana Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya? Di Jl. Syakhyakirti, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus, sekitar 4 kilometer di barat daya pusat kota.
Berapa harga tiket TPKS? Rp5.000 per orang menurut detikSumbagsel, ditambah parkir.
Apa yang bisa dilihat di TPKS? Jaringan kanal dan kolam kuno, pulau buatan, pendopo, dan Museum Sriwijaya.
Apakah TPKS pusat Kerajaan Sriwijaya? Belum bisa dipastikan. Situs ini dikaitkan dengan permukiman masa Sriwijaya, tetapi letak pusat kerajaan masih diteliti.
Untuk memahami konteksnya sebelum datang, baca Sriwijaya di Palembang dan Bukit Siguntang.


