Kota yang dikelilingi rawa dan sungai ini punya puncak tertinggi yang mengejutkan rendahnya: sekitar 29 sampai 30 meter di atas permukaan laut. Itulah Bukit Siguntang, bukit kecil di barat Palembang (GIWANG Pemprov Sumsel; Wikipedia). Tingginya mungkin sederhana, tetapi kedudukannya dalam sejarah dan ingatan Melayu jauh lebih tinggi.
Di bukit inilah ditemukan arca Buddha granit setinggi sekitar 2,77 meter, prasasti dari masa Sriwijaya, dan di puncaknya terdapat tujuh makam yang sampai kini diziarahi.
Bukit dalam sejarah dan hikayat
Bukit Siguntang dikenal sebagai situs keagamaan Buddha dari masa Sriwijaya. Selain arca Buddha besar, di sini ditemukan fragmen arca Bodhisattva, arca Kuwera, dan arca Buddha Vairocana. Arca Buddha granit itu ditemukan dalam beberapa potongan di lereng selatan pada 1920-an dan kini dipajang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Pada 1928, saat pembangunan jalan di kaki bukit, ditemukan pula fragmen prasasti yang menyebut perang besar di Bhumi Sriwijaya dan kutukan (Jurnal Artefak).
Dalam Sejarah Melayu, bukit ini disebut sebagai tempat turunnya Sang Sapurba, tokoh yang dipandang sebagai leluhur raja-raja Melayu. National Library Board Singapura menyebut kisah ini sebagai narasi yang sarat mitos (BiblioAsia), sehingga perlu dibaca sebagai hikayat, bukan catatan peristiwa. Ulasan sejarah yang lebih panjang ada di artikel Bukit Siguntang.

Tujuh makam di puncak
Di puncak bukit ada tujuh makam yang menurut tradisi lokal milik Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Junjungan, Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang. Arkeolog belum sepakat tentang siapa sebenarnya yang dimakamkan di sana. Tetapi bagi peziarah, kedudukan makam-makam itu tidak bergantung pada kepastian arkeologis.
Situs ini masih disakralkan sebagian masyarakat Melayu. Pengunjung sebaiknya berpakaian sopan dan menjaga sikap di area makam.
Revitalisasi
Bukit Siguntang pernah ditutup untuk wisatawan pada 10 Oktober sampai 31 Desember 2016 untuk revitalisasi (Republika). Kini sumber populer menyebut adanya pendopo, musala, toilet, dan area parkir.

Tips berkunjung
Datanglah pagi atau menjelang sore, saat udara tidak terlalu panas. Jam buka yang tercatat berkisar 08.00 sampai 16.00 atau 17.00 WIB. Tarif masuk menurut sumber populer hanya beberapa ribu rupiah.
Bukit Siguntang paling bermakna bila dikunjungi bersama Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di selatannya. Lanjutkan ke Museum SMB II untuk melihat arca Buddha yang berasal dari bukit ini.
Cerita yang beredar
Sang Sapurba turun di Bukit Siguntang. Ini kisah dari Sejarah Melayu, bukan catatan sejarah. Berbagai versi naskah juga berbeda soal rinciannya.
Tempat bertapa mencari kesaktian atau nomor. Praktik ini dilaporkan detikSumbagsel sebagai cerita mistis yang beredar. Situs ini adalah cagar sejarah dan tempat ziarah, dan sebaiknya diperlakukan dengan hormat.
Umur arca Buddha. Abad ke-7 sampai ke-8 menurut sebagian sumber, abad ke-11 menurut sumber lain.
Pertanyaan yang sering diajukan
Berapa tinggi Bukit Siguntang? Sekitar 29 sampai 30 meter di atas permukaan laut, titik tertinggi di Palembang.
Makam siapa saja di Bukit Siguntang? Menurut tradisi lokal, tujuh tokoh, antara lain Raja Sigentar Alam dan Putri Kembang Dadar. Identitas penghuninya belum dipastikan secara arkeologis.
Jam berapa Bukit Siguntang buka? Sekitar 08.00 sampai 16.00 atau 17.00 WIB, tergantung sumber.
Di mana arca Buddha dari Bukit Siguntang sekarang? Di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Lihat juga: Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya; Museum Balaputra Dewa; Sejarah Sriwijaya di Palembang.



