Orang Palembang punya julukan untuk gedung putih di tepi Musi ini: Gedung Siput. Julukan itu datang dari tangga spiralnya yang melingkar seperti cangkang (GIWANG Pemprov Sumsel). Tetapi yang lebih menarik dari tangganya adalah tanah di bawahnya. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berdiri di bekas Keraton Kuto Lama, istana Kesultanan Palembang yang dibongkar pada 1823.
Jadi ketika Anda melangkah masuk, Anda berjalan di atas lapisan sejarah kota: istana sultan, kantor penguasa kolonial, lalu museum.
Dari keraton menjadi kantor residen
Kuto Lama adalah keraton Sultan Mahmud Badaruddin I, yang memerintah pada 1724 sampai 1758. Setelah Kesultanan kalah, keraton itu dibongkar pada 7 Oktober 1823, dan di atasnya dibangun gedung baru yang selesai sekitar 1825. Gedung itu lalu menjadi kantor Residen, pejabat tertinggi pemerintah kolonial di Palembang (Wikipedia). Karena itu gedung ini juga dikenal sebagai Rumah Residen Palembang.
Nama museumnya diambil dari Sultan Mahmud Badaruddin II, sultan yang memimpin perlawanan terhadap Inggris dan Belanda pada awal abad ke-19. Di sebelahnya berdiri Benteng Kuto Besak, keraton yang menggantikan Kuto Lama. Dua bangunan bertetangga ini merangkum babak penting sejarah Palembang.

Yang bisa dilihat
Koleksi museum mencakup arkeologi, etnografi, biologi, keramik, seni rupa, dan numismatik, terutama mata uang dan prasasti (Indonesia Travel).
Beberapa yang patut dicari:
- Arca Buddha dari Bukit Siguntang. Arca granit setinggi sekitar 2,77 meter ini ditemukan dalam beberapa potongan di lereng bukit itu dan kini dipajang di museum.
- Arca Ganesha dan arca Buddha dari masa Sriwijaya di taman museum.
- Songket Limar Bunga Cogan yang berusia sekitar seratus tahun, dipamerkan pada Februari 2026 (Antara Sumsel).
- Nisan kuno, bagian dari koleksi yang ditampilkan setelah penataan ulang pada akhir 2025 (detikSumbagsel).
Museum yang sedang bergerak
Museum ini sedang berbenah. Pada Desember 2025, tata pamernya ditata ulang, ruangan baru ditambah, dan ruangan yang biasanya tertutup dibuka kembali. Pengelola menyebut rencana konten imersif dan mini teater pada awal 2026; redaksi belum menemukan konfirmasi bahwa rencana itu sudah berjalan.
Pelatarannya juga makin sering dipakai untuk acara budaya. Pada Oktober 2025, Menteri Kebudayaan membuka pameran prangko di sini. Pada 29 April 2026, Hari Tari Sedunia dirayakan dengan pergelaran tari sepuluh jam nonstop yang melibatkan sedikitnya 60 sanggar (Antara Sumsel).
Menurut Sonora, sampai Oktober 2025 museum mencatat sekitar 12.500 pengunjung dari target 30.000 untuk tahun itu.

Tips berkunjung
Datanglah pagi. Jam buka yang tercatat berbeda antarsumber, dan yang paling baru (RRI, Mei 2024) menyebut museum tutup pukul 15.30. Harga tiket untuk dewasa Rp5.000.
Museum ini paling enak dikunjungi sebagai bagian dari jalan kaki di kawasan Ampera. Benteng Kuto Besak, Monpera, Masjid Agung, dan Pasar 16 Ilir berada dalam jarak berjalan kaki. Stasiun LRT Ampera ada di kawasan yang sama, jadi Anda tidak perlu membawa kendaraan.
Versi yang berbeda-beda
Siapa yang membongkar keraton Kuto Lama? Wikipedia menyebut pemerintah kolonial Inggris, sedangkan sumber lain menyebut Belanda. Yang konsisten adalah tanggalnya, 7 Oktober 1823.
Kapan gedung menjadi museum? Indonesia Travel menyebut 1984, sementara satu jurnal menyebut museum resmi beroperasi pada 2006.
Berapa jumlah koleksinya? Angkanya berkisar dari 368 sampai sekitar 5.000, tergantung sumber dan cara menghitung.
Pertanyaan yang sering diajukan
Jam berapa Museum SMB II buka? Menurut RRI (Mei 2024), setiap hari pukul 08.00 sampai 15.30 WIB. Sumber lain menyebut 09.00 sampai 17.00. Hubungi pengelola sebelum datang.
Berapa harga tiket Museum SMB II? Dewasa Rp5.000, anak dan pelajar Rp2.000, wisatawan mancanegara Rp20.000 (RRI 2024, Sonora 2025).
Kenapa disebut Gedung Siput? Karena tangga spiral di dalam gedungnya.
Apa koleksi paling terkenal? Salah satunya arca Buddha granit setinggi sekitar 2,77 meter dari Bukit Siguntang.
Setelah dari museum, lanjutkan ke Pelataran Benteng Kuto Besak untuk melihat Musi dari tepiannya, atau naik ke Bukit Siguntang, tempat asal arca Buddha yang Anda lihat di dalam.
Lihat juga: Jembatan Ampera; Museum Balaputra Dewa; Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam.



