Benteng Kuto Besak selesai dibangun lebih dari dua abad lalu, dan sampai hari ini masih dijaga tentara. Bagian dalamnya dipakai Kodam II/Sriwijaya dan tertutup untuk umum (Wikipedia). Karena itu, yang dikenal warga Palembang sebagai “BKB” sebenarnya adalah pelatarannya: lapangan terbuka di tepi Sungai Musi, di bawah tembok benteng, dengan Jembatan Ampera di sebelahnya.
Di sinilah festival digelar, warga dan wisatawan memandang Musi, dan perahu ketek menunggu penumpang ke Pulau Kemaro.
Benteng di belakang pelataran
Pembangunan Kuto Besak dimulai pada 1780 pada masa Sultan Muhammad Bahauddin dan selesai pada 1797 (BPCB Jambi). Benteng ini diresmikan dan ditempati pada 21 Februari 1797. Temboknya berukuran sekitar 288,75 x 183,75 meter, dengan bastion di sudut-sudutnya dan gerbang utama, Lawang Kuto, yang menghadap Musi.
Kuto Besak ditetapkan sebagai cagar budaya melalui keputusan menteri pada 2004, menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon (Antara). Kisah perang dan perlawanan yang terjadi di balik temboknya ada di artikel Benteng Kuto Besak.

Ruang publik kota
Pelataran BKB menjadi panggung bagi festival budaya, musik, dan acara pemerintah. Pada Agustus 2025, misalnya, Festival Bidar digelar di sini, dan Pemerintah Kota menata juru parkir liar dan pedagang kaki lima selama acara (detikSumbagsel).
Pada hari biasa, pelataran adalah tempat terbaik untuk memandang Sungai Musi dan Jembatan Ampera dari dekat, terutama menjelang malam ketika lampu jembatan menyala.
Rencana 2026: bastion untuk wisatawan
Tahun 2026 membawa perubahan. Pemerintah Kota Palembang dan Kodam II/Sriwijaya menyiapkan sebagian benteng untuk wisata. Menurut Sonora (Juli 2026), prioritas awalnya adalah Bastion I yang menghadap Musi dan kawasan Lawang Lonceng, termasuk rencana pusat informasi wisata, dengan target sebelum awal Oktober 2026. Pada akhir Juli 2026, kedua pihak memfinalkan kerja sama revitalisasi bastion (RRI).
Redaksi belum menemukan konfirmasi bahwa bastion sudah dibuka untuk umum. Bila Anda berencana masuk ke bagian benteng, pastikan kabar terbarunya lebih dulu.
Pada tahun yang sama, rencana pembangunan rumah sakit TNI di dekat benteng sempat memicu reaksi publik. Kementerian Kebudayaan menilai lokasinya berada di luar pagar kawasan cagar budaya (Antara, Juni 2026).

Tips berkunjung
Cara termudah adalah LRT. Turun di Stasiun Ampera; dari sana tersedia sambungan ke Trans Musi dan perahu ketek di dermaga bawah Jembatan Ampera (detikSumbagsel).
Pelataran BKB adalah titik awal yang baik untuk menjelajah kawasan Ampera dengan berjalan kaki: Museum Sultan Mahmud Badaruddin II tepat di sebelahnya, sementara Monpera, Masjid Agung, dan Pasar 16 Ilir tidak jauh.
Ingat, bagian dalam benteng adalah kawasan militer. Jangan memotret atau memasuki area yang dilarang.
Versi yang berbeda-beda
Siapa penggagas Kuto Besak? Sebagian sumber menyebut gagasannya dari Sultan Mahmud Badaruddin I, sedangkan pembangunannya berlangsung pada masa Sultan Muhammad Bahauddin.
Nama sultan. Ditulis Muhammad Bahauddin atau Mahmud Bahauddin, tergantung sumber.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah Benteng Kuto Besak bisa dimasuki? Bagian dalamnya dipakai Kodam II/Sriwijaya dan tertutup untuk umum. Pada 2026 ada rencana membuka bastion untuk wisata; pastikan kabar terbarunya sebelum datang.
Kapan Benteng Kuto Besak dibangun? Mulai 1780 dan selesai 1797.
Bagaimana ke BKB dengan LRT? Turun di Stasiun Ampera, lalu berjalan kaki ke tepi Musi.
Dari mana naik perahu ke Pulau Kemaro? Dari dermaga di sekitar Benteng Kuto Besak atau di bawah Jembatan Ampera.
Lihat juga: Jembatan Ampera; Museum Sultan Mahmud Badaruddin II; Benteng Kuto Besak Interior.



