Dari tepi Musi di dekat Jembatan Ampera, perahu ketek melaju sekitar setengah jam ke arah hilir. Lalu tampak sebuah pulau kecil dengan pagoda sembilan lantai. Itulah Pulau Kemaro, tempat yang paling sering disebut dalam cerita cinta Palembang.
Pagoda itu baru dibangun pada 2006. Pulau tempatnya berdiri punya sejarah yang jauh lebih panjang dan tidak selalu romantis: benteng pertahanan Kesultanan, lahan pertanian, dan pada 1965 sampai 1967, kamp tahanan politik (GNFI; detikSumbagsel).
Legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah
Kisah yang paling sering diceritakan begini. Tan Bun An, saudagar atau putra raja dari Tiongkok, meminang Siti Fatimah, putri raja Palembang. Keluarga Tan Bun An mengirim hadiah berupa guci-guci berisi emas yang ditutupi sayur sawi. Melihat isinya, Tan Bun An mengira hadiah itu sawi busuk dan membuang guci-guci itu ke sungai. Guci terakhir pecah dan memperlihatkan emas di dalamnya. Tan Bun An terjun ke sungai, pengawalnya menyusul, lalu Siti Fatimah ikut terjun. Dari tempat itu, menurut legenda, muncul sebuah pulau (detikNews).
Detail cerita berbeda antarversi, misalnya jumlah gucinya tujuh atau sembilan. Di pulau ini ada dua makam yang dipercaya milik Tan Bun An dan Siti Fatimah. Menurut juru kunci yang dikutip detik, tempat itu lebih tepat disebut petilasan.

Yang bisa dilihat
- Pagoda sembilan lantai, setinggi sekitar 45 meter, dibangun pada 2006 (Koran Jakarta). Lantai atasnya adalah tempat ibadah yang menurut GNFI hanya dibuka pada hari tertentu.
- Klenteng Hok Tjing Rio, juga dikenal sebagai Klenteng Kwan Im, yang dibangun pada 1962.
- Makam atau petilasan Tan Bun An dan Siti Fatimah.
- Bekas kamp tahanan di ujung timur pulau, kawasan seluas sekitar 3 hektare (detikSumbagsel). Bagian ini mengingatkan bahwa pulau yang kini menjadi tempat wisata pernah menjadi saksi peristiwa kelam.
Cap Go Meh: jadwal mengikuti pasang surut
Pulau Kemaro paling ramai saat Cap Go Meh. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan dari Malaysia, Singapura, dan Tiongkok (GNFI). Uniknya, jadwal perayaan di pulau ini disesuaikan dengan pasang surut Sungai Musi. Pada 2025, perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro digelar 10 sampai 11 Februari (detikSumbagsel).
Bila Anda menyukai suasana meriah, datanglah saat itu. Bila ingin tenang, pilih hari biasa.

Tips berkunjung
Perahu. Cara paling umum adalah menyewa perahu ketek dari dermaga Benteng Kuto Besak. GNFI (Desember 2024) mencatat sekitar Rp150.000 sekali jalan atau Rp250.000 pulang-pergi per perahu. Tarif lain yang dilaporkan berkisar Rp100.000 sampai Rp500.000 per perahu, tergantung jenis perahu dan lama sewa. Sepakati harga, durasi, dan jam penjemputan sebelum berangkat.
Rute. Dari LRT, turun di Stasiun Ampera lalu berjalan ke dermaga. Perjalanan perahu sekitar 30 menit (Jurnal Pesona Polsri). Selama perjalanan, Anda melewati kawasan industri di tepi Musi; pulau ini berada di antara pabrik pupuk dan kilang Pertamina Plaju (DPMPTSP Kota Palembang).
Hormati tempat ibadah. Pagoda dan klenteng adalah tempat ibadah yang masih aktif. Berpakaianlah sopan dan jangan mengganggu orang yang sedang beribadah.
Cerita dan angka yang perlu dibedakan
Legenda pulau yang muncul dari sungai. Kisah Tan Bun An dan Siti Fatimah adalah legenda, bukan peristiwa sejarah.
Nama “Kemaro”. Sebagian tulisan mengaitkannya dengan kata kemarau, karena pulau ini konon tidak pernah tenggelam saat Musi pasang. Penjelasan ini bersumber lemah.
Luas pulau. Sumber menyebut sekitar 24 hektare, 25 hektare, bahkan 79 hektare.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana cara ke Pulau Kemaro? Sewa perahu ketek dari dermaga Benteng Kuto Besak atau di bawah Jembatan Ampera, sekitar 30 menit perjalanan.
Berapa ongkos perahu ke Pulau Kemaro? Menurut GNFI (Desember 2024), sekitar Rp150.000 sekali jalan atau Rp250.000 pulang-pergi per perahu. Tarif bisa berbeda.
Apa legenda Pulau Kemaro? Kisah Tan Bun An, saudagar dari Tiongkok, dan Siti Fatimah, putri raja Palembang, yang terjun ke Sungai Musi; menurut legenda, pulau ini muncul di tempat itu.
Kapan Pulau Kemaro paling ramai? Saat Cap Go Meh. Jadwal perayaannya di pulau ini menyesuaikan pasang surut Sungai Musi.
Pulau Kemaro adalah bagian dari kisah panjang Sungai Musi. Untuk melengkapi jejak Tionghoa di Palembang, kunjungi juga Kampung Kapitan di tepi Ulu.


