Tari Tanggai: Tarian Penyambutan yang Lahir di Tahun yang Rumit

EntriDiperbarui

Tari Tanggai diciptakan Elly Rudy pada 1965 sebagai tari penyambutan tamu, setelah Gending Sriwijaya berhenti ditampilkan. Kenali bedanya dengan Gending Sriwijaya, makna tanggai di jari, tepak, dan sekapur sirih.

Penari Tari Tanggai mengenakan tanggai di jari dan tepak di tangan dalam tarian penyambutan tamu Palembang
Foto: Blackflash.studio / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Di Palembang, menyambut tamu bukan sekadar berdiri di pintu sambil mengucapkan selamat datang. Kota yang dibentuk oleh Sungai Musi punya caranya sendiri: sebuah tarian dibawakan, biasanya oleh penari perempuan berbusana songket dan memakai kuku emas panjang di jari. Sebagian orang mengenalnya sebagai Tari Tanggai. Sebagian lain masih menyebutnya Tari Gending Sriwijaya. Keduanya memang sama-sama tari penyambutan, tetapi lahir dari cerita yang berbeda untuk acara yang berbeda.

Memahami perbedaan keduanya berarti memahami satu potong penting sejarah Palembang: tahun 1965, ketika sebuah lagu dilarang dan sebuah tarian baru harus lahir dari situ.

Tanggai: nama yang datang dari jari, bukan dari istilah

Kata tanggai merujuk pada aksesori yang dipakai penari: kuku palsu dari lempengan tembaga atau emas yang dikenakan pada delapan jari, kecuali jempol. Semakin panjang tanggai yang dikenakan, semakin jelas setiap gerak tangan. Gerak tangan justru menjadi isi utama tarian ini.

Bukan hanya tanggai yang dikenakan. Penari juga mengenakan kain songket, pending, dodot, kalung berlapis, sanggul malang, kembang goyang, dan tajuk cempako di kepala. Pakaian itu bukan hiasan semata: ia menandai bahwa penari sedang membawa pesan dari tuan rumah kepada tamu.

Tari Tanggai: tiga penari berkostum songket emas di panggung
Tiga penari Tari Tanggai mengenakan tanggai — kuku emas panjang yang menjadi nama tarian ini. Foto: Blackflash.studio, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Tari Tanggai vs Gending Sriwijaya: Apa Bedanya?

Inilah bagian yang paling sering membingungkan orang, termasuk warga Palembang sendiri: Tari Tanggai dan Tari Gending Sriwijaya sama-sama tari penyambutan tamu. Tetapi keduanya bukan dua nama untuk satu tarian, dan bukan pula tarian pengganti satu sama lain.

Tari TanggaiTari Gending Sriwijaya
Diciptakan19651943–1945
PenciptaElly RudyTina Haji Gong dan Sukainah A. Rozak
Lagu pengiring“Enam Bersaudara” (pencipta tidak diketahui)“Gending Sriwijaya” ciptaan A. Dahlan Muhibat
Fungsi utamaPenyambutan tamu dan acara pernikahan di PalembangAcara kenegaraan dan sakral

Perbedaan paling penting ada di fungsi. Tari Gending Sriwijaya mengusung konsep Hindu-Buddha dan dipentaskan untuk acara kenegaraan berskala besar, seperti pertemuan resmi dan upacara negara. Tari Tanggai lahir untuk konteks yang lebih dekat dengan rakyat: penyambutan tamu di pernikahan, dan kemudian penyambutan tamu umum yang datang ke kota.

Ada satu catatan penting soal tepak, kotak kayu kecil yang dibawa penari. Gending Sriwijaya memakainya sejak awal. Tari Tanggai awalnya tidak memakai tepak, dan baru ditambahkan pada 1978 atas saran Lukita Ningsih Irsan Rajiman selaku Ketua Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Sumatera Selatan, supaya tarian ini bisa berfungsi penuh sebagai tari sambut.

Walaupun begitu, kedua tarian tidak saling menggantikan. Setelah Tari Tanggai mapan, Tari Gending Sriwijaya tetap dipentaskan kembali untuk acara kenegaraan. Palembang menyimpan dua tarian penyambutan, bukan satu.

1965: tarian yang lahir dari sebuah larangan

Untuk memahami Tari Tanggai, harus mulai dari masalah yang menimpa Tari Gending Sriwijaya. Setelah peristiwa 30 September 1965, penulis syair lagu pengiring Gending Sriwijaya, Nungcik AR, disinyalir memiliki hubungan dengan PKI dan ditangkap. Lagu itu pun berhenti ditampilkan, dan tarian yang mengiringinya ikut berhenti.

Masalahnya, Palembang tetap ramai dikunjungi tamu kehormatan negara dan pejabat. Tanpa tarian penyambutan, kota kehilangan caranya menyambut kedatangan resmi.

Di sinilah Elly Rudy masuk. Pada 1965, di Jakarta, atas prakarsa Raden Husin Natodirajo dan Mgs. Nungcik Asaari, dua tokoh budaya Palembang, Elly Rudy menyusun sebuah tarian baru. Tarian itu memakai tanggai di jari, membawa tepak, dan diiringi lagu “Enam Bersaudara”. Nama “Tari Tanggai” sendiri baru muncul tahun itu. Sebelum 1965, belum ada tarian yang memakai nama tersebut.

Menariknya, Elly Rudy bukan orang luar. Ia sendiri adalah penari Gending Sriwijaya, dan sebagian gerakan Tari Tanggai memang mengacu pada gerakan Gending Sriwijaya. Karena itulah tarian baru ini terasa akrab bagi orang Palembang: bukan tarian asing yang dipaksakan, melainkan tarian yang dibangun oleh seseorang dari dalam tradisi yang sama.

Satu hal menarik tentang lagu pengiringnya: “Enam Bersaudara” adalah lagu lama yang penciptanya tidak diketahui siapa. Bukan lagu yang digubah khusus untuk tarian baru ini, melainkan lagu yang diangkat dan dipakai kembali.

Gerakan sembah Tari Tanggai: kedua tangan dirapatkan di depan dada
Gerakan sembah: telapak tangan dirapatkan di depan dada, tanggai saling berhadapan. Foto: Blackflash.studio, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Akar sebelum 1965: dua versi yang perlu dicatat

Banyak sumber menelusuri akar Tari Tanggai ke masa yang lebih tua dari 1965, tetapi sumber-sumber berbeda soal sejauh mana akarnya ditarik. Yang perlu dicatat: jurnal Universitas Negeri Surabaya menyatakan klaim soal asal-usul kuno ini belum bisa dibuktikan secara otentik, sehingga kebenarannya belum dapat dijelaskan secara ilmiah.

Beberapa sumber menelusuri bentuk awal tarian ini ke abad ke-5 Masehi, ketika tarian serupa dipersembahkan kepada Dewa Siwa dengan membawa sesajian berisi buah dan bunga. Jurnal Universitas Negeri Surabaya mengutip catatan Sartono (2007) untuk klaim yang sama, tetapi menandainya sebagai sesuatu yang belum terverifikasi. Versi lain menautkannya dengan masa kejayaan Sriwijaya, sebagai bentuk penghormatan kepada raja dan tamu agung kerajaan. Ada pula catatan bahwa pada abad ke-17, Kesultanan Palembang Darussalam mengharamkan perempuan menari, sehingga seluruh pertunjukan, termasuk tarian jenis ini, diperankan oleh laki-laki.

Dari altar ke pelaminan: Rasan Tuo pada 1920-an

Pada 1920-an tarian ini berubah fungsi. Ia mulai dipakai dalam tradisi Rasan Tuo — dari kata rasan (kehendak) dan tuo (orang tua) dalam bahasa Palembang — yaitu kegiatan berkumpul orang tua untuk menentukan jodoh anaknya. Dari sini tarian itu berubah menjadi bagian dari tradisi pernikahan, jauh dari fungsi sakralnya di masa sebelumnya.

Catatan tentang keterkaitan dengan China

Sebagian sumber menyebut keterkaitan tarian ini dengan tradisi China, dengan alasan pada masa lalu ada kerajaan besar yang dibangun keturunan Raja Syailendra yang beragama Buddha. Namun keterkaitan ini belum dapat diverifikasi lintas sumber dan tetap menjadi bagian yang perlu ditelusuri lebih jauh.

Sekapur sirih: puncak dari sebuah sambutan

Tarian Tanggai berpuncak pada penyerahan sekapur sirih, sanggul sirih berisi kapur yang dalam tradisi Melayu disajikan sebagai tanda penghormatan. Ini bukan gesti simbolis belaka. Jika tamu menerima, menyentuh, atau mencicipi isi sekapur sirih, berarti tamu menerima persahabatan dan keramahan tuan rumah.

Di situlah makna tarian ini terlihat paling jelas: bukan hiburan yang ditonton dari kursi, melainkan pesan yang disampaikan dengan tangan terbuka. Gerakan tangan yang menyatu di depan dada melambangkan tuan rumah menyambut tamu dengan hati yang bersih. Gerakan lambat dan penuh konsentrasi mencerminkan ketenangan, sesuatu yang diharapkan dari sebuah sambutan yang tulus, bukan sekadar tata cara.

Tari Tanggai gerak Nyaturi Majeng: penari maju menghampiri tamu
Gerak Nyaturi Majeng: penari maju menghampiri tamu yang disambut. Foto: Blackflash.studio, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Hari ini: dari pelaminan ke panggung resmi

Sekarang Tari Tanggai tidak hanya hadir di pernikahan. Tarian ini dibawakan dalam acara resmi organisasi, penyambutan tamu pemerintahan, dan pergelaran seni sekolah. Ia menjadi salah satu wajah budaya Palembang yang paling sering terlihat orang ketika pertama kali datang ke kota.

Musik pengiringnya pun fleksibel: tergantung situasi dan kondisi tempat, “Enam Bersaudara” bisa diiringi organ tunggal, band, atau alat musik tradisional. Fleksibilitas itu sebagian alasan tarian ini bertahan dan tetap dipentaskan lebih dari lima dekade setelah lahir.

Tari Tanggai gerak jalan jinjit datang dengan tanggai di jari
Gerak jalan jinjit datang: langkah khas tanggai yang tetap dipentaskan sampai kini. Foto: Blackflash.studio, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Palembang menyimpan dua tarian penyambutan, dan keduanya tetap hidup. Ketika berikutnya Anda hadir di acara di kota ini dan melihat penari dengan kuku emas panjang berjalan mendekat membawa tepak, Anda sekarang tahu: itu bukan Tari Gending Sriwijaya, dan itu bukan tarian penggantinya. Itu Tari Tanggai, tarian yang lahir dari sebuah larangan, lalu jadi cara Palembang menyambut dunia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Tari Tanggai?

Tari Tanggai adalah tarian penyambutan tamu khas Palembang, Sumatera Selatan. Namanya berasal dari tanggai, yaitu kuku palsu dari lempengan tembaga atau emas yang dikenakan penari pada delapan jari. Tarian ini dibawakan untuk menyambut tamu kehormatan di acara resmi dan pernikahan, serta berpuncak pada penyerahan sekapur sirih kepada tamu.

Siapa pencipta Tari Tanggai?

Tari Tanggai diciptakan oleh Elly Rudy, seniman tari Palembang, pada tahun 1965. Nama aslinya Elly Anggraini Soewondo; ia sebelumnya adalah penari Gending Sriwijaya. Tarian ini disusun di Jakarta atas prakarsa Raden Husin Natodirajo dan Mgs. Nungcik Asaari, sebagai pengganti fungsi penyambutan yang sempat kosong setelah Tari Gending Sriwijaya berhenti ditampilkan.

Apa bedanya Tari Tanggai dan Tari Gending Sriwijaya?

Keduanya sama-sama tari penyambutan tamu, tetapi berbeda fungsi dan asal. Tari Gending Sriwijaya diciptakan 1943–1945 untuk acara kenegaraan dan sakral. Tari Tanggai diciptakan 1965 untuk penyambutan tamu di pernikahan dan acara umum. Keduanya tidak saling menggantikan dan sampai kini dipentaskan berdampingan di Palembang.

Mengapa Tari Tanggai diciptakan pada tahun 1965?

Setelah peristiwa 30 September 1965, penulis syair lagu pengiring Tari Gending Sriwijaya, Nungcik AR, ditangkap dan lagu itu dilarang. Karena Palembang tetap ramai dikunjungi tamu kehormatan negara tanpa tarian penyambutan, Elly Rudy menciptakan Tari Tanggai dengan lagu pengiring “Enam Bersaudara”.

Apa makna gerakan tangan dirapatkan dalam Tari Tanggai?

Gerakan kedua tangan yang menyatu di depan dada melambangkan tuan rumah menyambut tamu dengan hati yang bersih dan tangan terbuka. Gerakan lambat dan penuh konsentrasi mencerminkan ketenangan, menunjukkan bahwa sambutan itu tulus, bukan sekadar tata cara.

Ingin mengenal tarian saudaranya? Baca Tari Gending Sriwijaya: Lahir di Masa Jepang, Sempat Dilarang, Tetap Menyambut Tamu. Untuk memahami kain yang dikenakan para penarinya, lihat Songket Palembang: Benang Emas yang Jejaknya Tersimpan di Arsitektur Tradisional.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Kompas. Tari Tanggai: Sejarah, Makna, Busana dan Gerakan. https://regional.kompas.com/read/2022/09/02/122618478/tari-tanggai-sejarah-makna-busana-dan-gerakan
  2. detikSumbagsel. Sejarah Tari Tanggai dari Palembang, Busana hingga Gerakannya. https://www.detik.com/sumbagsel/budaya/d-8301324/sejarah-tari-tanggai-dari-palembang-busana-hingga-gerakannya
  3. Wikipedia bahasa Indonesia. Tari tanggai. https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_tanggai
  4. Wikipedia (EN). Tanggai dance. https://en.wikipedia.org/wiki/Tanggai_dance
  5. IDN Times. Mengulik Sejarah Tari Tanggai dari Maestro Bunda Elly Rudy. https://sumsel.idntimes.com/travel/destination/mengulik-sejarah-tari-tanggai-dari-maestro-bunda-elly-rudy-00-dvg48-h1g6yz
  6. Jurnal Greget ISI Surakarta. Makna Gerak Tari Tanggai di Kota Palembang (wawancara Elly Rudy, 25 Oktober 2018). https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/greget/article/download/2644/2388
  7. Jurnal Geter UNESA. Menggali Warisan Budaya Lewat Tari Tanggai. https://journal.unesa.ac.id/index.php/geter/article/download/7849/3673

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Tari Tanggai: Tarian Penyambutan yang Lahir di Tahun yang Rumit. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/tari-tanggai/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Event · Budaya

Festival Sungai Musi

Festival Sungai Musi digelar pada Sabtu 31 Oktober 2026 di Tepi Sungai Musi dan Plaza Benteng Kuto Besak. PERINGATAN: Hari Jadi Kota Palembang diperingati…

31 Oktober 2026 Akan datang