Ngidang dan Ngobeng: Satu Hidangan untuk Delapan Orang

EntriDiperbarui

Tradisi menjamu tamu dengan hidangan yang disusun di atas kain, satu hidangan untuk delapan orang, dan para pelayan yang disebut pengobeng. Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.

Nasi Minyak Ayam Kampung ( Khas Palembang)
Foto: Muchtarrprincess / Wikimedia Commons, CC BY 4.0.

Delapan orang duduk bersila mengelilingi sehelai kain. Di tengahnya sepiring besar nasi minyak, dikelilingi lauk: malbi, opor, ayam kecap, rendang. Di sela-selanya ada sayur, sambal nanas, buah, dan acar. Belum sempat piring kosong, seseorang sudah datang membawa tambahan nasi. Ia tidak ikut makan. Tugasnya melayani, menuangkan air dari ceret untuk mencuci tangan, dan memastikan tidak ada tamu yang kekurangan.

Orang inilah yang disebut pengobeng, dan dari pekerjaannya lahir nama sebuah tradisi: ngobeng.

Ngidang dan ngobeng

Ada dua kata yang selalu berpasangan. Ngidang adalah cara menyajikan hidangan di atas kain secara lesehan. Ngobeng merujuk pada petugas khusus yang melayani tamu dalam jamuan itu (Kompas). Dalam percakapan sehari-hari, keduanya sering disebut sekaligus, ngidang-ngobeng.

Satu hidangan disiapkan untuk delapan orang. Pengobeng membawa ceret air dan wadah untuk membilas tangan, lalu melayani setiap permintaan tambah nasi atau lauk (Antara). Tamu tidak perlu berdiri dan mengantre. Jamuan datang kepada mereka.

Satu hidangan untuk dibagi bersama dalam tradisi ngobeng
Satu hidangan untuk dibagi bersama dalam tradisi ngobeng. Foto: Muchtarrprincess / Wikimedia Commons, CC BY 4.0.

Susunan yang punya aturan

Hidangan ngidang tidak disusun sembarangan. Nasi minyak atau nasi putih diletakkan di tengah. Di sekelilingnya ditata lauk utama seperti malbi, opor, ayam kecap, dan rendang. Ada pula pulur, yaitu pendamping berupa sayur, sambal (misalnya sambal nanas), buah, dan acar. Aturannya, lauk harus berdampingan dengan pulur (Kompas, 2022).

Susunan ini membuat setiap orang di lingkaran bisa menjangkau semua jenis makanan tanpa harus berpindah tempat. Ada keadilan kecil yang tertanam di dalamnya: semua mendapat akses yang sama.

Dari budaya Arab ke Kesultanan

Menurut Kompas, tradisi ini berakar dari budaya Arab, lalu tata caranya disesuaikan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Kajian Pratama, Amilda, dan Fitriah di jurnal Tanjak (2021) membacanya sebagai hasil asimilasi tradisi Islam dan budaya lokal.

Makan bersama dari satu hidangan besar memang dikenal dalam tradisi jamuan Arab, sesuai akar yang disebut Kompas. Di Palembang, praktik itu mendapat bentuk sendiri: jumlah orang per hidangan, susunan lauk dan pulur, serta peran pengobeng yang dihormati.

Berbagai jenis pempek dalam satu piring
Hidangan untuk dibagi bersama. Foto: Midori / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Di mana ngobeng masih dijumpai?

Ngobeng dipakai pada kenduri, sedekahan, pernikahan, khitanan, dan aqiqah. Tradisi ini masih bisa ditemukan di kawasan Seberang Ulu dan Tangga Buntung (Antara Sumsel).

Namun ngobeng sedang terdesak. Dinas Kebudayaan Palembang menyebutnya hampir punah sejak prasmanan populer, dan kini makin jarang dijumpai, misalnya di 13 dan 14 Ulu serta Tangga Buntung (Merdeka). Prasmanan lebih praktis untuk tamu dalam jumlah besar dan tidak membutuhkan banyak pelayan. Yang hilang adalah suasana: duduk sejajar, makan dari hidangan yang sama, dan dilayani dengan hormat.

Warisan budaya, dan harapan ke UNESCO

Ngobeng ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018 melalui SK Nomor 264/M/2018, dalam domain adat istiadat, ritus, dan perayaan (basis data Kemendikbud). Sertifikatnya diserahkan ke Sumatera Selatan pada Oktober 2018 (Antara Sumsel).

Pada 2019, Pemerintah Kota Palembang menyatakan ingin mengajukan ngobeng ke UNESCO (The Jakarta Post). Redaksi belum menemukan pencatatan ngobeng oleh UNESCO, jadi status itu belum bisa disebut.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa arti ngobeng? Ngobeng merujuk pada para pelayan yang melayani tamu dalam jamuan adat Palembang. Hidangannya disajikan dengan cara ngidang, yaitu disusun di atas kain secara lesehan.

Satu hidangan ngidang untuk berapa orang? Delapan orang.

Apa saja isi hidangan ngidang? Nasi minyak atau nasi putih di tengah, lauk seperti malbi, opor, ayam kecap, dan rendang, serta pulur berupa sayur, sambal, buah, dan acar.

Apakah ngobeng sudah diakui UNESCO? Belum ditemukan pencatatan oleh UNESCO. Ngobeng sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.

Ngobeng mengingatkan bahwa menjamu tamu adalah soal cara, bukan hanya soal makanan. Hidangannya pun terhubung dengan dapur Palembang yang lain: pindang untuk sehari-hari, serta maksuba dan lapan jam untuk hari istimewa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan ngidang dan ngobeng?

Ngidang adalah cara menyajikan hidangan di atas kain secara lesehan, sedangkan ngobeng merujuk pada petugas khusus yang melayani tamu dalam jamuan itu. Dalam percakapan sehari-hari, keduanya sering disebut sekaligus sebagai ngidang-ngobeng.

Bagaimana susunan hidangan ngidang?

Nasi minyak atau nasi putih diletakkan di tengah, dikelilingi lauk utama seperti malbi, opor, ayam kecap, dan rendang. Di sekelilingnya ditata pula pulur, yaitu pendamping berupa sayur, sambal, buah, dan acar, dengan aturan lauk harus berdampingan dengan pulur.

Mengapa hidangan ngidang ditata melingkar mengelilingi satu piring besar?

Susunan ini membuat setiap orang di lingkaran bisa menjangkau semua jenis makanan tanpa harus berpindah tempat. Dengan begitu ada keadilan kecil yang tertanam di dalamnya: semua tamu mendapat akses yang sama.

Siapa pengobeng dan apa tugasnya?

Pengobeng adalah petugas khusus yang melayani tamu dalam jamuan ngidang dan tidak ikut makan. Ia membawa ceret air serta wadah untuk membilas tangan, lalu melayani setiap permintaan tambah nasi atau lauk.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Kemendikbud. Basis data Warisan Budaya Takbenda: Ngobeng. https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000404
  2. Kompas (2022). Tradisi Ngidang Ngobeng, Penyajian Makanan Khas di Palembang. https://regional.kompas.com/read/2022/10/19/203303278/tradisi-ngidang-ngobeng-penyajian-makanan-khas-di-palembang-dari-tata-cara?page=all
  3. Antara. Ngidang, Tradisi Memuliakan Tamu di Palembang. https://lampung.antaranews.com/berita/323686/ngidang-tradisi-memuliakan-tamu-di-palembang
  4. Pratama, Amilda, dan Fitriah (2021). Tanjak 1(2): 54-62. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tanjak/article/view/9375
  5. Kompas.id (2021). Membangkitkan Kembali Tradisi Ngobeng di Palembang. https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/09/18/membangkitkan-kembali-tradisi-ngobeng-di-palembang
  6. Antara Sumsel. Pemkot Palembang Daftarkan Ngobeng sebagai Warisan Budaya Tak Benda. https://sumsel.antaranews.com/berita/419143/pemkot-palembang-daftarkan-ngobeng-sebagai-warisan-budaya-tak-benda
  7. Merdeka. Ngobeng, Tradisi Khas Palembang yang Semakin Tergerus Zaman. https://www.merdeka.com/peristiwa/read/7448047/ngobeng-tradisi-khas-palembang-yang-semakin-tergerus-zaman-kekinian
  8. Antara Sumsel (2018). Sumsel Terima Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda. https://sumsel.antaranews.com/berita/343119/sumsel-terima-sertefikat-warisan-budaya-tak-benda
  9. The Jakarta Post (2019). Palembang Eyes UNESCO Recognition for Dining Tradition. https://www.thejakartapost.com/life/2019/12/04/palembang-eyes-unesco-recognition-for-dining-tradition

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Ngidang dan Ngobeng: Satu Hidangan untuk Delapan Orang. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/tradisi-ngobeng-palembang/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Lukisan Keraton Kutogawang

Entri · Sejarah

Dari Kerajaan Palembang ke Kesultanan Palembang Darussalam

Setelah Sriwijaya, Palembang tidak berhenti menjadi pusat kekuasaan. Dari hubungan dengan Jawa, perdagangan lada, dan kebakaran Kuto Gawang pada 1659, lahirlah Kesultanan Palembang Darussalam.

Sekitar abad ke-16 sampai awal abad ke-19