Maksuba dan Lapan Jam: Kue Lebaran yang Mengukur Kesabaran

EntriDiperbarui

Dua kue basah Palembang yang dibuat dari telur bebek dan kesabaran. Maksuba dipanggang lapis demi lapis, kue lapan jam dikukus sekitar delapan jam, dan keduanya hadir saat Lebaran, lamaran, dan pernikahan.

Kue Maksuba
Foto: Affandy Murad / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Di Palembang, ada cerita tentang ujian yang tidak memakai kertas. Menurut budayawan Palembang Mang Amin, dulu seorang calon mertua bisa mengirimkan bahan mentah ke rumah calon menantunya: telur bebek, gula, mentega. Yang ingin dilihat bukan jawaban, tetapi hasil. Bisakah gadis itu mengubah bahan-bahan tersebut menjadi kue maksuba yang rapi dan lembut (RRI)?

Ujian itu masuk akal bila melihat cara maksuba dibuat. Puluhan telur bebek dikocok, lalu adonan dipanggang selapis demi selapis. Setiap lapisan ditunggu matang sebelum lapisan berikutnya dituang. Satu loyang bisa menghabiskan berjam-jam. Kue ini lebih banyak menuntut kesabaran daripada keahlian.

Maksuba: lapisan dari telur bebek

Maksuba adalah kue lapis dari telur bebek dalam jumlah besar, sekitar 20 sampai 30 butir per loyang, dicampur gula, susu kental manis, dan mentega (IDN Times). Teksturnya padat, legit, dan manis, dengan garis-garis lapisan yang tampak jelas saat dipotong.

Orang sering menyamakannya dengan lapis legit. Perbedaannya, lapis legit memakai terigu dan rempah, sedangkan maksuba tidak memakai rempah. Soal tepung, sumber berbeda: IDN Times menyebut maksuba tanpa tepung, sementara resep yang dimuat Kompas pada 2015 mencantumkan sedikit terigu. Bisa jadi keduanya benar untuk keluarga yang berbeda.

Kue maksuba, lapisan telur yang diuji kesabaran
Kue maksuba, lapisan telur yang diuji kesabaran. Foto: Affandy Murad / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Kue lapan jam: namanya adalah resepnya

Saudara dekat maksuba adalah kue lapan jam, atau kue delapan jam. Bahannya mirip: telur bebek, gula, mentega, dan susu kental manis. Bedanya ada pada cara masak. Adonan dikukus sekitar delapan jam, dan dari situlah namanya berasal (detikFood). Kompas.id menyebut teksturnya lebih mirip bolu.

Seorang sejarawan lokal bernama Amin, dikutip Kompas.id, memberi tafsir pada angka delapan itu: sehari terbagi tiga, delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk beristirahat, dan delapan jam untuk beribadah. Tafsir ini menarik, tetapi perlu dibaca sebagai makna yang diberikan, bukan asal-usul yang terdokumentasi.

Lebaran, lamaran, dan sanjo

Kedua kue ini hadir pada momen penting. Maksuba disajikan saat lamaran, pernikahan, dan Idul Fitri; perempuan Palembang membawanya kepada calon mertua sebagai tanda hormat (Kompas). Saat Lebaran, maksuba wajib ada ketika tuan rumah menerima tamu sanjo, yaitu kunjungan silaturahmi ke rumah kerabat dan tetangga (Kompas). Kue lapan jam disajikan pada Lebaran, pernikahan, dan Maulid.

Dulu kue-kue seperti ini dikerjakan oleh panggong, juru masak kampung yang dipercaya untuk hajatan, menurut penuturan Mang Amin kepada RRI. Menurut Kompas.id, maksuba dan lapan jam adalah dua kue yang paling banyak dipesan di antara kue basah Lebaran Palembang. Kue lain yang biasa dibuat bersamaan antara lain engkak dan kojo.

Sajian pempek khas Palembang dengan irisan mentimun
Kue tradisional Palembang. Foto: Prambors FM / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Benarkah kue bangsawan?

Banyak tulisan menyebut maksuba dan lapan jam berasal dari dapur istana Kesultanan Palembang, dan dulu hanya bangsawan yang sanggup membuatnya karena membutuhkan banyak telur bebek. Bahkan Tempo, saat menulis cerita ini, memakai kata “konon”. Redaksi belum menemukan dokumen dari masa Kesultanan yang menyebut kedua kue ini.

Yang lebih bisa dipegang adalah kenyataan ekonominya: kue yang menghabiskan puluhan telur dan berjam-jam kerja memang mahal untuk dibuat. Wajar bila ia menjadi sajian untuk hari istimewa dan tanda penghormatan.

Asal nama maksuba: belum ada yang kuat

Beberapa tulisan menyebut maksuba berasal dari bahasa Arab dan berarti penghormatan. Ada yang mengartikannya tinggi atau bermartabat, ada yang mengartikannya kerja keras, dan ada cerita rakyat tentang seorang “Emak Suba”. Tidak satu pun yang disertai rujukan bahasa yang kuat. Untuk sekarang, asal nama maksuba sebaiknya dianggap belum diketahui.

Status warisan budaya

Kue Lapan Jam ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015. Pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan menyebut provinsi itu memperoleh dua penetapan tahun itu, yaitu kue lapan jam dan senjang (Republika); daftar penetapan 2015 mencantumkannya dengan nama Bolu Lapan Jam (Bisnis.com).

Maksuba belum ditemukan dalam daftar penetapan nasional. Kue ini tercatat di basis data warisan budaya Balitbangnovda Sumatera Selatan sejak 2013, dan pada 2019 Wakil Wali Kota Palembang masih berharap maksuba menyusul ditetapkan (Ekbisnews).

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa beda kue maksuba dan lapis legit? Lapis legit memakai terigu dan rempah. Maksuba tidak memakai rempah, dan banyak resepnya tanpa tepung atau hanya sedikit tepung.

Kenapa disebut kue lapan jam? Karena adonannya dikukus sekitar delapan jam.

Berapa telur yang dipakai untuk maksuba? Sekitar 20 sampai 30 butir telur bebek per loyang, menurut IDN Times.

Apakah kue lapan jam warisan budaya takbenda? Ya, ditetapkan pada 2015. Maksuba belum ditemukan dalam daftar penetapan nasional.

Di tengah kue kering modern yang bisa dibuat dalam hitungan menit, maksuba dan lapan jam bertahan sebagai pengingat bahwa sebagian tradisi memang tidak bisa dipercepat. Untuk mengenal latar sejarah yang sering dikaitkan dengan kedua kue ini, baca Kesultanan Palembang Darussalam, lalu lanjutkan ke tekwan, hidangan berkuah yang juga hadir saat sanjo Lebaran.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu kue maksuba?

Maksuba adalah kue lapis dari telur bebek dalam jumlah besar, sekitar 20 sampai 30 butir per loyang, yang dicampur gula, susu kental manis, dan mentega. Teksturnya padat, legit, dan manis dengan garis-garis lapisan yang tampak jelas saat dipotong.

Apa bedanya maksuba dan lapis legit?

Bedanya, lapis legit memakai terigu dan rempah, sedangkan maksuba tidak memakai rempah. Soal tepung, sumber berbeda: IDN Times menyebut maksuba tanpa tepung, sementara resep yang dimuat Kompas pada 2015 mencantumkan sedikit terigu.

Apa itu kue lapan jam dan mengapa namanya lapan jam?

Kue lapan jam, atau kue delapan jam, adalah saudara dekat maksuba dengan bahan yang mirip: telur bebek, gula, mentega, dan susu kental manis. Bedanya ada pada cara masak, yaitu adonan dikukus sekitar delapan jam, dan dari situlah namanya berasal. Kompas.id menyebut teksturnya lebih mirip bolu.

Mengapa kue maksuba dijadikan ujian lamaran di Palembang?

Menurut budayawan Palembang Mang Amin, dulu seorang calon mertua bisa mengirimkan bahan mentah ke rumah calon menantunya, seperti telur bebek, gula, dan mentega. Yang ingin dilihat bukan jawaban, tetapi hasil: apakah gadis itu bisa mengubah bahan tersebut menjadi kue maksuba yang rapi dan lembut. Hal ini masuk akal karena membuat maksuba lebih banyak menuntut kesabaran daripada keahlian, sebab puluhan telur bebek dikocok dan adonan dipanggang selapis demi selapis hingga satu loyang bisa menghabiskan berjam-jam.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Kompas (2024). Kisah Kue Maksuba, Makanan Khas Palembang. https://regional.kompas.com/read/2024/09/03/211536678/kisah-kue-maksuba-makanan-khas-palembang
  2. RRI (2024). Maksuba, Simbol Masak dan Rasa Hormat Gadis Palembang. https://rri.co.id/palembang/kuliner/971322/maksuba-simbol-masak-dan-rasa-hormat-gadis-palembang
  3. Kompas (2015). Kue Maksuba dan Punggawa Dapur Lebaran. https://travel.kompas.com/read/2015/07/22/190400927/Kue.Maksuba.dan.Punggawa.Dapur.Lebaran?page=all
  4. Kompas.id. Untuk Tim Lebaran, Maksuba dan Lapan Jam, Kue Sakral dari Palembang untuk Hari Spesial. https://www.kompas.id/artikel/en-untuk-tim-lebaran-maksuba-dan-lapan-jam-kue-sakral-dari-palembang-untuk-hari-spesial
  5. detikFood (2020). Kue Lapan Jam Khas Palembang Ini Benar-benar Dibuat selama 8 Jam. https://food.detik.com/info-kuliner/d-5004716/kue-lapan-jam-khas-palembang-ini-benar-benar-dibuat-selama-8-jam
  6. Republika (2015). Tiga Budaya Sumsel Masuk 150 Warisan Budaya. https://news.republika.co.id/berita/oxcbbc423/tiga-budaya-sumsel-masuk-150-warisan-budaya
  7. Bisnis.com (2015). Ini Daftar 121 Warisan Budaya Takbenda 2015. https://kabar24.bisnis.com/read/20151016/15/482935/ini-daftar-121-warisan-budaya-takbenda-2015
  8. Tempo. 5 Makanan dari Era Kesultanan Palembang Menjadi Sajian Khas Lebaran. https://www.tempo.co/gaya-hidup/5-makanan-dari-era-kesultanan-palembang-menjadi-sajian-khas-lebaran-1226972
  9. Ekbisnews (2019). Tempoyak dan Tanjak Masuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia. https://ekbisnews.com/tempoyak-dan-tanjak-masuk-warisan-budaya-takbenda-indonesia/
  10. Balitbangnovda Sumatera Selatan. Basis data warisan budaya. https://balitbangnovdasumsel.com/warisanbudaya/budaya/15
  11. IDN Times. 5 Perbedaan Kue Maksuba dan Kue Lapis Legit. https://www.idntimes.com/food/diet/5-perbedaan-kue-maksuba-dan-kue-lapis-legit-yang-rasanya-berciri-khas-01-r4p71-l1nxrt

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Maksuba dan Lapan Jam: Kue Lebaran yang Mengukur Kesabaran. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/kue-maksuba-dan-lapan-jam/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Lukisan Keraton Kutogawang

Entri · Sejarah

Dari Kerajaan Palembang ke Kesultanan Palembang Darussalam

Setelah Sriwijaya, Palembang tidak berhenti menjadi pusat kekuasaan. Dari hubungan dengan Jawa, perdagangan lada, dan kebakaran Kuto Gawang pada 1659, lahirlah Kesultanan Palembang Darussalam.

Sekitar abad ke-16 sampai awal abad ke-19