Songket Palembang: Benang Emas yang Jejaknya Tersimpan di Arca Batu

EntriDiperbarui

Kain tenun bertabur benang emas yang menjadi busana kebesaran Palembang. Bukti tertuanya justru berupa arca batu dari Candi Bumiayu, dan pada 2013 songket Palembang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Perajin menenun kain songket khas Palembang
Foto: Afrinaldi Zulhen / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Bukti tertua songket di Sumatera Selatan bukan sehelai kain. Ia berupa arca batu. Di Candi Bumiayu, kompleks percandian di Tanah Abang, Sumatera Selatan, ditemukan arca yang digambarkan mengenakan kain bersongket. Satu Data Sumatera Selatan menyebutnya bukti tertua dari abad ke-8, dan peneliti BRIN Sondang Siregar menyatakan belum ditemukan songket yang lebih tua dari temuan itu (Kompas.id).

Kain memang mudah lapuk. Batu tidak. Karena itulah jejak sebuah tradisi tenun bisa bertahan lebih lama di tangan pemahat daripada di tangan penenunnya.

Apa itu songket?

Songket adalah kain tenun yang diberi benang emas atau perak dengan teknik sungkit, yaitu mengait atau mencungkil benang pakan tambahan di antara benang lungsin. Dari kata itulah nama songket berasal (detikSumbagsel). Hasilnya motif berkilau yang seolah timbul di permukaan kain.

Pada masa Kesultanan, songket dipakai istri dan kerabat keraton sebagai pakaian kebesaran. Hari ini songket masih dikenakan dalam pernikahan adat dan pertunjukan seperti tari Gending Sriwijaya.

Proses penenunan songket Palembang secara tradisional
Proses menenun songket secara tradisional. Foto: Swarabakti / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Jenis-jenis songket Palembang

Sebuah kajian di Universitas Sriwijaya memetakan jenis utama songket Palembang (Repositori Unsri):

  • Lepus, songket tertua. Namanya berarti menutupi, karena benang emasnya menutupi hampir seluruh kain. Variannya antara lain lepus berekam, berantai, dan penuh.
  • Tawur atau tabur, dengan motif kecil yang tersebar di seluruh kain.
  • Tretes, yang bagian tengahnya polos dan motifnya hanya di ujung kain.
  • Limar, berwarna-warni karena ditenun dengan teknik ikat pakan.
  • Bungo pacik, yang memakai benang kapas putih.

Motif dan maknanya

Nama motif songket tradisional Palembang diambil dari flora, fauna, dan alam. Kajian di Jurnal Serupa Universitas Negeri Padang mendata 24 nama motif.

Sebagian motif punya makna sosial. Menurut Kompas.id, motif jando berais dipakai janda, bungo cino dikaitkan dengan bangsawan Tionghoa, dan nago besaung berasal dari kepercayaan Tionghoa di Mentok. Antara Sumsel menyebut nago besaung melambangkan persatuan rumah tangga.

Makna sebagian motif masih berbeda antarsumber. Motif nampan perak, misalnya, ditafsirkan sebagai lambang perlengkapan upacara adat untuk menyampaikan berkah menurut kajian Unsri, tetapi sebagai kemegahan dan ketaatan abdi kepada raja menurut kajian Universitas PGRI Palembang. Perbedaan seperti ini wajar untuk tradisi yang diwariskan secara lisan.

Perajin menenun kain songket khas Palembang
Penenun kain songket Palembang. Foto: Afrinaldi Zulhen / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Di mana songket dibuat dan dijual?

Kawasan 30 sampai 32 Ilir di Jalan Ki Gede Ing Suro dikenal sebagai etalase songket Palembang. Namun menurut liputan Kompas pada 2011, kawasan itu lebih berperan sebagai tempat pamer dan jual, sedangkan sentra tenunnya banyak berada di desa-desa, misalnya di Ogan Ilir.

Di seberang Musi, Tuan Kentang di Kecamatan Seberang Ulu I dikenal sebagai kampung tenun. Selain songket, kampung ini juga memproduksi kain tajung dan jumputan.

Pakaian pengantin: Aesan Gede dan Aesan Paksangko

Songket mencapai puncak kemegahannya pada busana pengantin Palembang. Aesan Gede dan Aesan Paksangko adalah dua pakaian adat pengantin yang menurut kajian Eka Hikmawati (2017) merupakan hasil akulturasi Jawa, Cina, dan Arab tanpa menghilangkan budaya asli. Aesan Gede melambangkan kemewahan dan kebangsawanan, sedangkan Aesan Paksangko adalah variasi yang lebih sederhana (Indonesia Travel). Menurut media regional, Aesan Paksangko ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025.

Status warisan budaya, dan catatan tentang UNESCO

Songket Palembang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 melalui SK Nomor 238/M/2013, dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional (basis data Kemendikbud).

Satu hal yang sering disalahpahami: pada 2021, UNESCO mencatat “Songket” dalam daftar warisan budaya takbenda dunia atas nominasi Malaysia (UNESCO). Pencatatan itu tidak menjadikan songket milik satu negara. Songket adalah tradisi bersama di dunia Melayu, dan songket Palembang punya sejarah, jenis, dan motifnya sendiri.

Klaim yang belum terbukti

Sutra dari Tiongkok, emas dari India. Cerita bahwa bahan songket dibawa pedagang asing tertentu hanya muncul di blog, tanpa rujukan sejarah.

Satu kain butuh tiga bulan. Angka ini sering dikutip, tetapi redaksi belum menemukan sumber yang kuat. Lama pengerjaan sangat bergantung pada jenis motif dan kerapatan benang emas.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa arti kata songket? Nama songket berasal dari teknik sungkit, yaitu mengait atau mencungkil benang saat menenun.

Apa jenis songket Palembang yang paling tua? Lepus, yang benang emasnya menutupi hampir seluruh kain.

Kapan songket Palembang ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda? Pada 2013, melalui SK Nomor 238/M/2013.

Apakah songket diakui UNESCO sebagai milik Malaysia? UNESCO mencatat “Songket” pada 2021 atas nominasi Malaysia. Pencatatan UNESCO tidak berarti kepemilikan tunggal; songket adalah tradisi bersama di dunia Melayu.

Sehelai songket menyimpan banyak lapisan: teknik tenun, status sosial, pertemuan budaya, dan kesabaran penenunnya. Untuk konteks sejarahnya, baca Sriwijaya di Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu songket?

Songket adalah kain tenun yang diberi benang emas atau perak dengan teknik sungkit, yaitu mengait atau mencungkil benang pakan tambahan di antara benang lungsin. Dari teknik inilah nama songket berasal. Hasilnya motif berkilau yang seolah timbul di permukaan kain.

Di mana ditemukan bukti tertua songket di Sumatera Selatan?

Bukti tertua songket di Sumatera Selatan berupa arca batu yang digambarkan mengenakan kain bersongket, ditemukan di Candi Bumiayu, kompleks percandian di Tanah Abang. Data Sumatera Selatan menyebutnya bukti tertua dari abad ke-8. Peneliti BRIN Sondang Siregar menyatakan belum ditemukan songket yang lebih tua dari temuan itu.

Apa saja jenis songket Palembang?

Kajian di Universitas Sriwijaya memetakan lima jenis utama songket Palembang, yaitu lepus (tertua, dengan benang emas menutupi hampir seluruh kain), tawur atau tabur (motif kecil tersebar), tretes (bagian tengah polos, motif di ujung kain), limar (berwarna-warni dengan teknik ikat pakan), dan bungo pacik (memakai benang kapas putih).

Apa makna motif songket Palembang?

Nama motif songket Palembang diambil dari flora, fauna, dan alam, dengan 24 nama motif yang didata dalam Jurnal Serupa Universitas Negeri Padang. Sebagian motif punya makna sosial, misalnya jando berais dipakai janda, bungo cino dikaitkan dengan bangsawan Tionghoa, dan nago besaung melambangkan persatuan rumah tangga. Makna sebagian motif masih berbeda antarsumber, seperti nampan perak yang ditafsirkan sebagai perlengkapan upacara adat maupun kemegahan abdi kepada raja.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Kemendikbud. Basis data Warisan Budaya Takbenda: Songket Palembang. https://budaya-data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000222
  2. Kompas.id. Candi Bumiayu Ditetapkan Cagar Budaya Nasional. https://www.kompas.id/artikel/candi-bumiayu-ditetapkan-cagar-budaya-nasional-momentum-menggaungkan-situs-toleransi-sriwijaya
  3. Retno Purwanti dan Sondang M. Siregar (2016). Sejarah Songket Berdasarkan Data Arkeologi. Siddhayatra 21(2), Balai Arkeologi Sumatera Selatan.
  4. Satu Data Sumatera Selatan. Songket Palembang. https://satudata.sumselprov.go.id/detail/pariwisata/eyJpdiI6Ik1jT1I4a0JwZjRSMGFOSlV1am95Q0E9PSIsInZhbHVlIjoiK0xzNHkraCtsSzFRcWc3Y1pJZmg0dz09IiwibWFjIjoiMzhkYWNkZDA0ZTFhZGExZGQwYjYyY2Y5NTkxZmU4YWFmNjdiYWE2NjhmZGNjN2M3MzA1NjI3OWNkZWQwOWU4NSIsInRhZyI6IiJ9
  5. detikSumbagsel. Songket Palembang, Makna, Sejarah, Jenis hingga Teknik Pembuatan. https://www.detik.com/sumbagsel/budaya/d-6745279/songket-palembang-makna-sejarah-jenis-hingga-teknik-pembuatan
  6. Jurnal Serupa, Universitas Negeri Padang (2014). Kajian nama motif songket Palembang. https://ejournal.unp.ac.id/index.php/serupa/article/view/5528
  7. Repositori Universitas Sriwijaya. Kajian jenis dan motif songket Palembang. https://repository.unsri.ac.id/145578/6/RAMA_87201_06041181924007_0002056301_04.pdf
  8. Kompas.id (2022). Serial songket Palembang. https://www.kompas.id/baca/english/2022/03/18/serial-2
  9. Kompas (2011). Kawasan 30-32 Ilir dan sentra tenun songket. https://nasional.kompas.com/read/2011/04/21/05494655/index-html
  10. Antara Sumsel. Kain Songket Palembang, Beragam Jenis dan Motifnya. https://sumsel.antaranews.com/berita/789305/kain-songket-palembang-beragam-jenis-dan-motifnya
  11. Repositori Universitas PGRI Palembang. Kajian motif songket. http://eprints.univpgri-palembang.ac.id/973/
  12. Eka Hikmawati (2017). Kajian Aesan Gede dan Aesan Paksangko. Intelektualita 6(1). https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/intelektualita/article/download/1297/1056/2796
  13. Indonesia Travel. Aesan Gede. https://www.indonesia.travel/id-id/travel-ideas/culture/aesan-gede/
  14. IDN Times Sumsel. Mengulas Aesan Paksangko Palembang, Warisan Budaya Takbenda 2025. https://sumsel.idntimes.com/news/sumatra-selatan/mengulas-aesan-paksangko-palembang-warisan-budaya-takbenda-2025-00-gbttw-lgw49g
  15. UNESCO. Songket. https://ich.unesco.org/en/RL/songket-01505

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Songket Palembang: Benang Emas yang Jejaknya Tersimpan di Arca Batu. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/songket-palembang/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Prasasti Talang Tuo peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Entri · Sejarah

Sriwijaya dan Palembang dalam Jaringan Dunia Maritim

Sriwijaya bukan satu bangunan yang bisa ditunjuk, melainkan jaringan sungai, pelabuhan, agama, dan kekuasaan. Prasasti dan catatan perjalanan menempatkan Palembang sebagai salah satu simpul…

Abad ke-7 sampai abad ke-11, dengan jaringan yang berlanjut sesudahnya

Lukisan Keraton Kutogawang

Entri · Sejarah

Dari Kerajaan Palembang ke Kesultanan Palembang Darussalam

Setelah Sriwijaya, Palembang tidak berhenti menjadi pusat kekuasaan. Dari hubungan dengan Jawa, perdagangan lada, dan kebakaran Kuto Gawang pada 1659, lahirlah Kesultanan Palembang Darussalam.

Sekitar abad ke-16 sampai awal abad ke-19