Bukti tertua songket di Sumatera Selatan bukan sehelai kain. Ia berupa arca batu. Di Candi Bumiayu, kompleks percandian di Tanah Abang, Sumatera Selatan, ditemukan arca yang digambarkan mengenakan kain bersongket. Satu Data Sumatera Selatan menyebutnya bukti tertua dari abad ke-8, dan peneliti BRIN Sondang Siregar menyatakan belum ditemukan songket yang lebih tua dari temuan itu (Kompas.id).
Kain memang mudah lapuk. Batu tidak. Karena itulah jejak sebuah tradisi tenun bisa bertahan lebih lama di tangan pemahat daripada di tangan penenunnya.
Apa itu songket?
Songket adalah kain tenun yang diberi benang emas atau perak dengan teknik sungkit, yaitu mengait atau mencungkil benang pakan tambahan di antara benang lungsin. Dari kata itulah nama songket berasal (detikSumbagsel). Hasilnya motif berkilau yang seolah timbul di permukaan kain.
Pada masa Kesultanan, songket dipakai istri dan kerabat keraton sebagai pakaian kebesaran. Hari ini songket masih dikenakan dalam pernikahan adat dan pertunjukan seperti tari Gending Sriwijaya.

Jenis-jenis songket Palembang
Sebuah kajian di Universitas Sriwijaya memetakan jenis utama songket Palembang (Repositori Unsri):
- Lepus, songket tertua. Namanya berarti menutupi, karena benang emasnya menutupi hampir seluruh kain. Variannya antara lain lepus berekam, berantai, dan penuh.
- Tawur atau tabur, dengan motif kecil yang tersebar di seluruh kain.
- Tretes, yang bagian tengahnya polos dan motifnya hanya di ujung kain.
- Limar, berwarna-warni karena ditenun dengan teknik ikat pakan.
- Bungo pacik, yang memakai benang kapas putih.
Motif dan maknanya
Nama motif songket tradisional Palembang diambil dari flora, fauna, dan alam. Kajian di Jurnal Serupa Universitas Negeri Padang mendata 24 nama motif.
Sebagian motif punya makna sosial. Menurut Kompas.id, motif jando berais dipakai janda, bungo cino dikaitkan dengan bangsawan Tionghoa, dan nago besaung berasal dari kepercayaan Tionghoa di Mentok. Antara Sumsel menyebut nago besaung melambangkan persatuan rumah tangga.
Makna sebagian motif masih berbeda antarsumber. Motif nampan perak, misalnya, ditafsirkan sebagai lambang perlengkapan upacara adat untuk menyampaikan berkah menurut kajian Unsri, tetapi sebagai kemegahan dan ketaatan abdi kepada raja menurut kajian Universitas PGRI Palembang. Perbedaan seperti ini wajar untuk tradisi yang diwariskan secara lisan.

Di mana songket dibuat dan dijual?
Kawasan 30 sampai 32 Ilir di Jalan Ki Gede Ing Suro dikenal sebagai etalase songket Palembang. Namun menurut liputan Kompas pada 2011, kawasan itu lebih berperan sebagai tempat pamer dan jual, sedangkan sentra tenunnya banyak berada di desa-desa, misalnya di Ogan Ilir.
Di seberang Musi, Tuan Kentang di Kecamatan Seberang Ulu I dikenal sebagai kampung tenun. Selain songket, kampung ini juga memproduksi kain tajung dan jumputan.
Pakaian pengantin: Aesan Gede dan Aesan Paksangko
Songket mencapai puncak kemegahannya pada busana pengantin Palembang. Aesan Gede dan Aesan Paksangko adalah dua pakaian adat pengantin yang menurut kajian Eka Hikmawati (2017) merupakan hasil akulturasi Jawa, Cina, dan Arab tanpa menghilangkan budaya asli. Aesan Gede melambangkan kemewahan dan kebangsawanan, sedangkan Aesan Paksangko adalah variasi yang lebih sederhana (Indonesia Travel). Menurut media regional, Aesan Paksangko ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025.
Status warisan budaya, dan catatan tentang UNESCO
Songket Palembang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 melalui SK Nomor 238/M/2013, dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional (basis data Kemendikbud).
Satu hal yang sering disalahpahami: pada 2021, UNESCO mencatat “Songket” dalam daftar warisan budaya takbenda dunia atas nominasi Malaysia (UNESCO). Pencatatan itu tidak menjadikan songket milik satu negara. Songket adalah tradisi bersama di dunia Melayu, dan songket Palembang punya sejarah, jenis, dan motifnya sendiri.
Klaim yang belum terbukti
Sutra dari Tiongkok, emas dari India. Cerita bahwa bahan songket dibawa pedagang asing tertentu hanya muncul di blog, tanpa rujukan sejarah.
Satu kain butuh tiga bulan. Angka ini sering dikutip, tetapi redaksi belum menemukan sumber yang kuat. Lama pengerjaan sangat bergantung pada jenis motif dan kerapatan benang emas.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti kata songket? Nama songket berasal dari teknik sungkit, yaitu mengait atau mencungkil benang saat menenun.
Apa jenis songket Palembang yang paling tua? Lepus, yang benang emasnya menutupi hampir seluruh kain.
Kapan songket Palembang ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda? Pada 2013, melalui SK Nomor 238/M/2013.
Apakah songket diakui UNESCO sebagai milik Malaysia? UNESCO mencatat “Songket” pada 2021 atas nominasi Malaysia. Pencatatan UNESCO tidak berarti kepemilikan tunggal; songket adalah tradisi bersama di dunia Melayu.
Sehelai songket menyimpan banyak lapisan: teknik tenun, status sosial, pertemuan budaya, dan kesabaran penenunnya. Untuk konteks sejarahnya, baca Sriwijaya di Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu songket?
Songket adalah kain tenun yang diberi benang emas atau perak dengan teknik sungkit, yaitu mengait atau mencungkil benang pakan tambahan di antara benang lungsin. Dari teknik inilah nama songket berasal. Hasilnya motif berkilau yang seolah timbul di permukaan kain.
Di mana ditemukan bukti tertua songket di Sumatera Selatan?
Bukti tertua songket di Sumatera Selatan berupa arca batu yang digambarkan mengenakan kain bersongket, ditemukan di Candi Bumiayu, kompleks percandian di Tanah Abang. Data Sumatera Selatan menyebutnya bukti tertua dari abad ke-8. Peneliti BRIN Sondang Siregar menyatakan belum ditemukan songket yang lebih tua dari temuan itu.
Apa saja jenis songket Palembang?
Kajian di Universitas Sriwijaya memetakan lima jenis utama songket Palembang, yaitu lepus (tertua, dengan benang emas menutupi hampir seluruh kain), tawur atau tabur (motif kecil tersebar), tretes (bagian tengah polos, motif di ujung kain), limar (berwarna-warni dengan teknik ikat pakan), dan bungo pacik (memakai benang kapas putih).
Apa makna motif songket Palembang?
Nama motif songket Palembang diambil dari flora, fauna, dan alam, dengan 24 nama motif yang didata dalam Jurnal Serupa Universitas Negeri Padang. Sebagian motif punya makna sosial, misalnya jando berais dipakai janda, bungo cino dikaitkan dengan bangsawan Tionghoa, dan nago besaung melambangkan persatuan rumah tangga. Makna sebagian motif masih berbeda antarsumber, seperti nampan perak yang ditafsirkan sebagai perlengkapan upacara adat maupun kemegahan abdi kepada raja.


