Pada 1819, armada Belanda menyusuri Sungai Musi menuju Palembang dan pulang tanpa kemenangan. Itu terjadi dua kali dalam setahun. Di balik pertahanan yang membuat Belanda mundur berdiri seorang sultan yang pada masa itu sudah berusia lebih dari lima puluh tahun dan sudah pernah kehilangan takhtanya sekali: Sultan Mahmud Badaruddin II.
Namanya kini tertulis di bandara, museum, dan pernah tercetak di uang kertas Rp10.000. Tetapi untuk memahami mengapa ia dikenang, kita perlu kembali ke masa ketika Palembang terjepit di antara dua kekuatan Eropa yang saling berebut.
Raden Hasan, putra Bahauddin
Sultan Mahmud Badaruddin II lahir dengan nama Raden Hasan. Ia putra Sultan Muhammad Bahauddin, penguasa yang menyelesaikan pembangunan Keraton Kuto Besak. Tanggal lahirnya berbeda antarsumber: sebagian menulis 1767, sebuah kajian di jurnal Tamaddun menyebut awal 1768. Ia naik takhta pada 1803 menurut satu sumber, 1804 menurut sumber lain.
Sumber juga berbeda soal penomorannya. Ada yang menyebutnya sultan ketujuh, ada yang menyebut kedelapan. Karena dasar penomorannya belum jelas, PalembangPedia memakai nama dan masa pemerintahan, bukan nomor urut.

Menolak berganti majikan
Ketika Inggris mengalahkan Belanda di Jawa pada 1811, banyak penguasa lokal harus memilih sikap. Sultan Mahmud Badaruddin II tidak sekadar menerima Inggris sebagai pengganti Belanda. Sumber Bank Indonesia mencatat bahwa ia memerintahkan penghancuran loji Belanda di Sungai Aur dan menolak pendekatan awal Thomas Stamford Raffles.
Bagi sang sultan, persoalannya bukan memilih Inggris atau Belanda. Persoalannya adalah mempertahankan ruang kekuasaan Palembang sendiri.
Takhta yang direbut lalu direbut kembali
Inggris menjawab dengan kekuatan. Pada 1812, Sultan Mahmud Badaruddin II tersingkir dan adiknya, Pangeran Adipati, diangkat sebagai Sultan Ahmad Najamuddin II. Ini bukan kisah sederhana tentang adik yang merebut takhta. Hubungan keluarga, intervensi Inggris, dan perubahan pemerintahan saling berkelindan. Pada 1813, Sultan Mahmud Badaruddin II kembali memegang pemerintahan, tetapi persaingan antara kedua kubu terus membayangi Palembang.

Perang Palembang 1819-1821
Setelah Inggris mengembalikan sejumlah wilayah kepada Belanda, kepentingan Belanda atas Palembang menguat lagi. Kajian akademik membagi Perang Palembang ke dalam tiga periode: dua pada 1819 dan satu periode besar pada 1821.
Pada 1819, ekspedisi Belanda yang dalam sumber Indonesia dikaitkan dengan nama Muntinghe menghadapi pertahanan Palembang yang kuat. Palembang memenangkan dua pertempuran. Kemenangan itu tidak datang dari keberanian saja. Pasukan Palembang memanfaatkan sungai dan medan sekitar kota, menyiapkan mesiu dan peluru, membuat sebagian senjata sendiri, dan mendapat pasokan lewat jaringan perdagangan Melayu. Benteng-benteng di tepi sungai dan tembok Kuto Besak menjadi bagian dari sistem pertahanan itu.
Belanda tidak menyerah. Pada 1821 mereka kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar, dan kali ini pertahanan Palembang tertembus.
Ternate
Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap pada Juli 1821. Sumber berbeda sedikit soal tanggal persisnya, tetapi sepakat bahwa ia dibawa keluar dari Palembang pada bulan itu dan akhirnya diasingkan ke Ternate. Ia wafat di sana pada 1852.
Penangkapannya bukan akhir Kesultanan dalam satu hari. Raden Ahmad naik dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom pada 1821-1823 menurut salah satu sumber. Perlawanan masih berlanjut, dan menurut sumber pemerintah daerah, Sultan Ahmad Najamuddin III menyerah pada 1825 lalu diasingkan ke Banda Neira. Penghapusan kekuasaan Kesultanan adalah proses, bukan satu peristiwa.
Nama yang tetap hidup
Sultan Mahmud Badaruddin II dikenang sebagai simbol perlawanan Palembang terhadap kolonialisme. Bank Indonesia menampilkan potretnya pada uang kertas Rp10.000 dan menyebutnya sebagai sultan yang aktif melawan penjajah. Namanya juga dipakai untuk museum yang berdiri di jantung kota, yang kisahnya bisa dibaca di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Untuk melihat ruang tempat perang itu berlangsung, lanjutkan ke kisah Kuto Gawang sampai Kuto Besak.


