Kuto Gawang sampai Kuto Besak: Istana yang Berpindah

EntriDiperbarui

Pusat kekuasaan Palembang menempati setidaknya empat lokasi dalam kurun sekitar 140 tahun. Setiap perpindahan menyimpan cerita tentang perang, politik, dan cara kota sungai melindungi dirinya.

Kutobesak
Foto: Arisdp / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Hari ini orang menyebutnya Benteng Kuto Besak dan membayangkan bangunan militer. Padahal tempat itu dibangun sebagai istana. Dan ia bukan istana pertama. Sebelum Kuto Besak, pusat kekuasaan Palembang sudah berpindah beberapa kali: dari Kuto Gawang yang dibakar VOC, ke Beringin Janggut, lalu ke Kuto Lamo. Setiap perpindahan meninggalkan jejak tentang perang, politik, dan cara sebuah kota sungai melindungi dirinya.

Keraton, kuto, dan benteng

Tiga kata ini sering dipakai bergantian, padahal artinya berbeda. Keraton adalah tempat tinggal penguasa dan pusat pemerintahan. Kuto merujuk pada kawasan berbenteng. Benteng menekankan fungsi pertahanan. Kuto Besak, misalnya, adalah keraton yang juga memiliki pertahanan kuat. Menyebutnya “benteng” saja akan menghilangkan separuh ceritanya.

Keraton Kuto Gawang, ibu kota Kesultanan sebelum Kuto Besak
Keraton Kuto Gawang, ibu kota Kesultanan sebelum Kuto Besak. Foto: Arisdp / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan keraton, kuto, dan benteng?

Keraton adalah tempat tinggal penguasa sekaligus pusat pemerintahan. Kuto merujuk pada kawasan berbenteng, sedangkan benteng menekankan fungsi pertahanannya. Kuto Besak sendiri adalah keraton yang juga memiliki pertahanan kuat, sehingga menyebutnya sekadar “benteng” akan menghilangkan separuh ceritanya.

Di mana lokasi Kuto Gawang, ibu kota Kesultanan Palembang sebelum Kuto Besak?

Kuto Gawang terletak di sekitar 1 Ilir dan Sungai Buah, kawasan yang kini berhubungan dengan PUSRI. Kawasan itu dibatasi sungai, yaitu Musi di selatan, serta Sungai Lunjuk, Sungai Buah, dan Sungai Taligawe, dengan Sungai Rengas mengalir di tengahnya.

Mengapa Kuto Gawang dibakar oleh VOC?

Ketegangan antara Palembang dan VOC memuncak ketika VOC berusaha memonopoli perdagangan, terutama lada, setelah hubungan dagang dicatat dalam kontrak 1641 dan 1642. Pada 1659, VOC menyerang dan membakar Kuto Gawang.

Apa itu Keraton Kuto Lamo dan di mana letaknya?

Keraton Kuto Lamo, yang juga disebut Kuto Batu, adalah pusat pemerintahan Palembang setelah masa Beringin Janggut. Di lokasi inilah kelak berdiri gedung yang sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Jelajahi juga

Kuto Gawang, dikelilingi sungai

Kuto Gawang adalah pusat kekuasaan Palembang sebelum 1659. Secara arkeologis, lokasinya ada di sekitar 1 Ilir dan Sungai Buah, kawasan yang kini berhubungan dengan PUSRI. Sumber arkeologi menggambarkannya sebagai kawasan yang dibatasi sungai: Musi di selatan, sementara Sungai Lunjuk, Sungai Buah, dan Sungai Taligawe menjadi bagian dari batasnya, dan Sungai Rengas mengalir di tengahnya.

Salah satu rekonstruksi menyebut dinding Kuto Gawang terbuat dari kayu unglen atau kayu besi dengan tinggi sekitar 7,25 meter, dilengkapi bastion dan meriam. Angka ini berasal dari rekonstruksi sumber sejarah dan arkeologi, bukan pengukuran di lapangan hari ini.

Hubungan dagang Palembang dengan VOC tercatat dalam kontrak 1641 dan 1642. Ketika VOC berusaha memonopoli perdagangan, terutama lada, ketegangan memuncak. Pada 1659 VOC menyerang dan Kuto Gawang dibakar.

Beringin Janggut dan Kuto Lamo

Setelah Kuto Gawang hancur, pusat pemerintahan dipindahkan ke kawasan Beringin Janggut di tepi Sungai Tengkuruk. Bentuk fisiknya kini tidak bisa dikenali seperti Kuto Gawang atau Kuto Besak, jadi lokasi persisnya masih berupa rekonstruksi.

Pusat pemerintahan kemudian pindah lagi ke Keraton Kuto Lamo, yang juga disebut Kuto Batu. Di lokasi inilah kelak berdiri gedung yang sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Dinding Benteng Kuto Besak Palembang
Benteng Kuto Besak, bekas istana Kesultanan Palembang. Foto: fitri agung from Pekanbaru, Riau, Indonesia, Indonesia / Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

Kuto Besak, 17 tahun pembangunan

Gagasan membangun keraton baru dikaitkan dengan Sultan Mahmud Badaruddin I. Pembangunannya baru dimulai pada 1780, pada masa penerusnya, Sultan Muhammad Bahauddin, dan berlangsung sekitar 17 tahun. Keraton ini mulai ditempati pada 21 Februari 1797, ketika keluarga sultan dan pemerintahan Kesultanan pindah ke dalamnya.

Dindingnya dibangun dari bata dengan perekat berbahan batu kapur, yang menurut sumber lokal didatangkan dari pedalaman Sungai Ogan. Kompleksnya memiliki tembok besar, baluarti atau bastion, pintu gerbang, dan ruang-ruang dalam keraton. Ukurannya berbeda antarsumber, jadi PalembangPedia belum mengunci satu angka.

Mengapa dibangun? Jawaban “untuk melawan Belanda” terlalu sederhana. Kuto Besak adalah tempat tinggal sultan, pusat pemerintahan, simbol kekuasaan, sekaligus kompleks yang mampu bertahan dari serangan. Letaknya di tepi Musi memberi keuntungan politik, ekonomi, dan militer sekaligus.

Diuji perang

Ketangguhan Kuto Besak diuji lebih dulu oleh Inggris pada 1812. Dalam Perang Palembang 1819 dan 1821, ia menjadi bagian penting pertahanan kota. Salah satu kajian menyebut temboknya dipenuhi meriam dan menjadi sasaran utama serangan Belanda. Jumlah meriamnya berbeda menurut sumber dan waktu, jadi angka pastinya tidak dicantumkan di sini.

Pertahanan Palembang tidak bertumpu pada satu dinding. Sungai, parit, tembok, bastion, meriam, permukiman, dan pengetahuan warga tentang medan membentuk lapisan pertahanan. Itulah sebabnya pasukan luar kesulitan menembus pusat kota, setidaknya sampai ekspedisi besar 1821.

Setelah 1821

Setelah Palembang jatuh, Kuto Besak berhenti menjadi pusat Kesultanan dan masuk ke dalam struktur kekuasaan kolonial. Fungsinya berubah, dan bangunan yang kita lihat sekarang menyimpan lapisan sejarah sesudah 1821 itu. Kondisi hari ini tidak bisa dianggap sebagai bentuk asli keraton sepenuhnya.

Kisah perlawanan yang terjadi di balik tembok ini dapat dibaca di artikel Sultan Mahmud Badaruddin II. Kisah bangunannya hari ini ada di artikel Benteng Kuto Besak.

Sumber

  1. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikdasmen. Benteng Kuto Besak: Dari Keraton hingga Instalasi Militer.
  2. Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Benteng Kuto Besak. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/tag/kuto-besak
  3. Bank Indonesia. Seri Buku Sejarah dan Heritage: Sejarah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Palembang.
  4. Universitas Sriwijaya. Khazanah Kota Palembang.
  5. Dari Benteng Kuto Gawang ke Kuto Besak: Analisis Faktor Politik pada Tahun 1780. Tanjak: Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Raden Fatah. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tanjak/article/view/24496

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Kuto Gawang sampai Kuto Besak: Istana yang Berpindah. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/sejarah-keraton-kuto-gawang-kuto-besak/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Lukisan Keraton Kutogawang

Entri · Sejarah

Dari Kerajaan Palembang ke Kesultanan Palembang Darussalam

Setelah Sriwijaya, Palembang tidak berhenti menjadi pusat kekuasaan. Dari hubungan dengan Jawa, perdagangan lada, dan kebakaran Kuto Gawang pada 1659, lahirlah Kesultanan Palembang Darussalam.

Sekitar abad ke-16 sampai awal abad ke-19

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Tokoh · Sejarah

Sultan Mahmud Badaruddin II

Ia menolak Inggris, mengalahkan Belanda dua kali pada 1819, lalu kalah oleh ekspedisi yang jauh lebih besar pada 1821. Kisah sultan yang namanya kini…

Sultan Palembang Darussalam