Gedung Jacobson van den Berg & Co adalah saksi bisu kejayaan perdagangan internasional di Palembang. Gedung bercat kuning dengan atap genteng ini berdiri di pertigaan Jalan Depaten Baru No. 32, di tepi Sungai Sekanak. Nama lengkapnya — NV Jacobson van den Berg & Co — terukir jelas di atas pintu masuk, dan itu adalah satu-satunya bukti yang tersisa dari kejayaan perusahaan dagang Belanda ini.
Hari ini, gedung ini kosong dan tidak digunakan. Tapi nilai sejarahnya tidak diragukan lagi: ia adalah salah satu dari lima perusahaan dagang terbesar (The Big Five) milik Kerajaan Belanda.

Ada satu bangunan kuning di pertigaan Jalan Depaten Baru yang menyimpan rahasia. Kalau kamu berdiri cukup dekat, kamu masih bisa membaca ukiran di atas pintunya: NV Jacobson van den Berg. Ukiran itulah satu-satunya penanda yang tersisa dari perusahaan yang dulu menjadi tulang punggung perdagangan Palembang.
Apa itu “The Big Five” dalam perdagangan kolonial?
NV Jacobson van den Berg & Co didirikan pada 1 Juni 1860 di Amsterdam. Perusahaan ini adalah salah satu dari lima perusahaan dagang terbesar yang dimiliki Kerajaan Belanda — dijuluki “The Big Five”. Kantor cabangnya tersebar di berbagai kota strategis di Hindia Belanda, termasuk Palembang.
Di Palembang, gedung ini digunakan sebagai kantor dan gudang. Letaknya strategis: di tepi Sungai Sekanak, dekat dengan jalur perdagangan air yang menghubungkan pedalaman dengan muara Sungai Musi. Dari sini, komoditas seperti karet, kopra, dan hasil hutan diangkut keluar melalui Sungai Musi.
Dinasionalisasi dan Dharma Niaga
Setelah Indonesia merdeka, perusahaan dagang Belanda dinasionalisasi. NV Jacobson van den Berg & Co kemudian berganti nama menjadi Dharma Niaga di bawah pengelolaan negara. Pada 1950-an, gedung ini masih digunakan dengan fungsi kantor perdagangan.
Namun seiring waktu, gedung ini kehilangan fungsinya. Saat ini, bangunan bercat kuning ini berdiri kosong di pertigaan Jalan Depaten Baru — menjadi pengingat akan era ketika Palembang adalah pusat perdagangan internasional.
Versi yang dipercaya orang vs versi yang tertulis di arsip
Orang Palembang yang mengenal bangunan ini biasanya percaya ia adalah bekas kantor dagang Belanda — dan itu benar. Tapi ada bagian yang banyak orang salah paham: bahwa gedung ini berdiri di tepi Sungai Sekanak. Verifikasi visual menunjukkan bangunan ini berdiri tepi jalan raya, bukan sungai. Sungai Sekanak memang mengalir di kawasan yang sama, tapi bukan di depan pintu gedung ini.
Bagian yang lebih sering dipercaya: bahwa gedung ini ditinggalkan dan kosong. Tepat — gedung ini saat ini tidak digunakan. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang merekomendasikannya sebagai bangunan layak cagar budaya karena nilai sejarahnya sebagai bukti fasilitas perdagangan era 1920–1950-an.
Pecahan fakta yang perlu diluruskan: tahun tepat berdirinya gedung ini TIDAK DIKETAHUI. Tidak ada dokumen. Bukti terkuat tetap ukiran nama di atas pintu masuk — dan itu justru membuatnya lebih menarik: bangunan yang tak punya tanggal lahir, tapi menyimpan nama yang tidak bisa dihapus zaman.
Fun fact: nama di atas pintu
Tahun pasti berdirinya Gedung Jacobson belum diketahui. Tapi ada satu bukti yang tidak bisa disangkal: ukiran nama NV Jacobson van den Berg di atas pintu masuk bangunan. Ukiran ini adalah satu-satunya penanda asal-usul gedung yang bertahan, karena tidak ada dokumen resmi yang menyebutkan tahun pembangunannya.
Gedung yang layak dicagar
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang merekomendasikan Gedung Jacobson van den Berg sebagai bangunan yang layak berstatus cagar budaya. Bangunan ini memiliki nilai sejarah sebagai bukti fasilitas perdagangan di kawasan Sekanak pada masa kolonial, dari tahun 1920 sampai 1950-an.

Jacobson hari ini
Saat ini, Gedung Jacobson van den Berg berdiri kosong di Jalan Depaten Baru, di dekat pertigaan dengan Jalan Sekanak. Warna kuningnya memudar, gentengnya menua, tapi ukiran nama di atas pintu masih terbaca. Gedung ini menunggu untuk dipulihkan — sebagai saksi bisu kejayaan perdagangan Palembang yang terlupakan. Baca juga kisah Jalan Sekanak dan Jalan Merdeka.


