
Gedung Borsumij adalah bangunan bersejarah di kawasan 13 Ilir, Palembang, yang namanya merujuk pada sebuah perusahaan dagang. Gedung ini berdiri tidak jauh dari pusat kota dan menjadi salah satu bangunan kolonial yang masih ada di Palembang. Meski tidak sepopuler Balai Kota atau Kantor Pos, gedung ini menyimpan cerita tentang kehidupan komersial di Palembang pada masa kolonial.
Gedung yang akan kamu jumpai ini bukan warisan kecil perusahaan dagang. Ini adalah gedung PV Borsumij — sebuah nama yang pada 1947 muncul di peta pertempuran Palembang. Saat Kolonel Bambang Utoyo memimpin serangan, Gedung Borsumij yang ada di 13 Ilir termasuk sasaran yang diserang. Gedung dagang berubah jadi benteng pertahanan.
Kenapa Palembang punya begitu banyak gedung kolonial di 13 Ilir?
Jawabannya sederhana: 13 Ilir adalah kawasan kota lama. Di sinilah sungai Musi menjadi urat nadi perdagangan, dan sinilah para pedagang Tionghoa, Arab, Jawa, dan Belanda saling bertemu. Kawasan 16 Ilir dan 13 Ilir adalah pusat administrasi dan perdagangan sejak zaman Gemeente Palembang.
Borsumij berdiri di kawasan ini karena lokasinya strategis. Di sekitar jalan ini bermunculan gedung-gedung perkantoran dagang, pasar, dan rumah besar keluarga pengusaha. Tidak heran kalau di saat pertempuran 1947, gedung-gedung di kawasan ini menjadi posisi pertempuran — bukan karena bangunannya tinggi, tapi karena letaknya menentukan.
Yang membuat 13 Ilir berbeda dari kawasan lain: ia tidak mengalami penataan ulang besar seperti 16 Ilir atau Ilir Barat. Banyak bangunan tua yang bertahan, tapi juga banyak yang tidak terurus — dan itu sebabnya tim cagar budaya merekomendasikan kawasan ini untuk perlindungan.
Borsumij: nama yang menyimpan sejarah dagang
Nama Borsumij merujuk pada sebuah perusahaan dagang yang beroperasi di Palembang pada masa kolonial. Seperti banyak perusahaan dagang Belanda lainnya, Borsumij memanfaatkan posisi strategis Palembang di muara Sungai Musi untuk kegiatan ekspor-impor.
Kawasan 13 Ilir — tempat gedung ini berdiri — merupakan salah satu kawasan tertua di Palembang. Di sinilah para pedagang lokal, Tionghoa, Arab, dan Belanda berinteraksi dalam kegiatan perdagangan yang menjadi napas ekonomi kota.
Saksi Lima Hari Lima Malam
Gedung Borsumij di 13 Ilir menjadi salah satu posisi pertempuran selama Pertempuran Lima Hari Lima Malam pada 1–5 Januari 1947. Pasukan Republik menggunakan berbagai bangunan di kawasan ini sebagai basis untuk melawan serangan Belanda. Gedung Borsumij adalah salah satu titik yang tidak bisa dihindari dalam peta pertempuran di Palembang Ilir.
Versi yang dipercaya orang vs versi yang tertulis di arsip
Sejarawan Dedi Irwanto menyebut daftar target serangan republik: RS Charitas, Gedung Borsumij 13 Ilir, Boom Yetti Sekanak, 28 Ilir, Talang Semut, Bagus Kuning, Plaju, dan Benteng (sumeks.disway.id, 2023). Jadi nama Borsumij tidak hanya ada di cerita rakyat — ia tercatat di catatan pertempuran.
Ada satu angka yang jarang disebut: perang ini berlangsung sekitar 120 jam — lima hari lima malam, bukan waktu yang singkat. Gencatan senjata baru disepakati pada 6 Januari 1947 pukul 06.00 WIB, setelah Panglima TRI Divisi Garuda II Kolonel Bambang Utoyo dan Gubernur Sumsel Dr. A.K. Gani memutuskan mundur. Seluruh pasukan bersenjata diminta menjauh 20 km dari pusat kota (sumeks.disway.id).
Asal-usul namanya juga sering terlupakan. Perusahaan ini awalnya bernama Schlimmer & Co. dari Banjarmasin, lalu berganti nama menjadi Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumij) pada 31 Maret 1894. Jadi gedung yang kamu lihat hari ini adalah warisan perusahaan yang bermula dari Kalimantan — dan Palembang adalah salah satu cabang terpentingnya.
Apa itu Gedung Borsumij di Palembang?
Gedung Borsumij bukan hanya gedung dagang. Pada Januari 1947, gedung ini menjadi salah satu posisi strategis pasukan Republik dalam melawan Belanda. Bangunan yang dulu digunakan untuk menyimpan barang dagangan, diubah menjadi basis pertahanan. Ironisnya, kedamaian perdagangan berubah menjadi medan perang.
Gedung Borsumij hari ini
Saat ini, Gedung Borsumij masih berdiri di kawasan 13 Ilir, meski kondisinya mungkin tidak sebagus dulu. Gedung ini adalah pengingat bahwa Palembang bukan hanya kota dagang — tapi juga kota yang pernah menjadi medan pertempuran. Baca juga kisah Pertempuran Lima Hari Lima Malam dan Jalan Merdeka.


