Sejarah Eks Museum Tekstil: Rumah Burgermeester yang Menunggu

TempatDiperbarui

Eks Museum Tekstil Palembang dibangun 1883 sebagai rumah dinas walikota kolonial. Kenali sejarah bangunan terbesar di Talang Semut.

Pelataran bekas Museum Tekstil Palembang di Talang Semut

Bangunan eks Museum Tekstil berdiri di ujung barat Jalan Merdeka, masuk ke kawasan Talang Semut. Bangunan ini dibangun pada 1883 sebagai tempat tinggal pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda — atau yang disebut Burgermeester (walikota). Kini, bangunan ini menjadi salah satu ikon pelestarian bangunan tua di Palembang yang paling memprihatinkan.

Hari ini, gedung ini kosong dan kondisinya semakin rusak. Padahal, ia adalah saksi bisu perubahan fungsi selama lebih dari 130 tahun: dari rumah pejabat, kantor pemerintah, hingga museum.

Eks Museum Tekstil di kawasan Talang Semut Palembang
Eks Museum Tekstil, Talang Semut, Palembang. Foto: Firzafp / Wikimedia Commons, CC BY 4.0.

Rumah untuk Burgermeester

Bangunan ini dibangun pada 1883 sebagai tempat tinggal bagi pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda. Nama Burgermeester adalah sebutan untuk walikota pada masa kolonial. Bangunan ini berada di kawasan Talang Semut, lingkungan permukiman pejabat Belanda di pusat kota.

Pada 1922, jalan-jalan di sekitarnya — Jalan Diponegoro dan Jalan Dokter Wahidin — belum ada. Kawasan Talang Semut masih berupa permukiman yang lebih alami. Baru setelah itu jalan-jalan ini dibangun, dan rumah dinas Wali Kota berdiri di perempatan mereka.

Dari rumah ke kantor ke museum

Sejak 1961, bangunan ini digunakan sebagai beberapa kantor pemerintahan. Fungsi rumah tinggal berubah menjadi perkantoran. Perubahan ini berlangsung selama beberapa dekade, hingga pada 2007 bangunan ini diubah menjadi Museum Tekstil.

Museum Tekstil beroperasi sampai tahun 2011. Koleksinya menampilkan lebih dari 500 benda bersejarah, termasuk kain songket dan tekstil tradisional Sumatera Selatan. Setelah itu, museum ditutup dan bangunan ini kembali kosong.

Fun fact: rumah tua yang lebih tua dari jalannya

Bangunan ini dibangun pada 1883 — jauh sebelum Jalan Diponegoro ada. Jalan yang kini mengapit bangunan ini baru dibangun pada 1930-an. Bayangkan: gedung ini berdiri sendiri selama puluhan tahun sebelum ada jalan di depannya.

Bangunan yang menunggu

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang merekomendasikan bangunan ini sebagai bangunan yang layak berstatus cagar budaya. Nilai sejarahnya tidak diragukan: lebih dari 130 tahun usia, arsitektur kolonial yang masih terjaga, dan jejak perubahan fungsi dari rumah pejabat hingga museum.

Eks Museum Tekstil hari ini

Saat ini, bangunan ini berdiri kosong di Jalan Talang Semut No. 84. Catnya mengelupas, gentengnya menua, dan halamya terbengkalai. Padahal, ini adalah salah satu bangunan kolonial tertua di Palembang. Baca juga kisah Jalan Diponegoro dan Jalan Merdeka.

Sumber

  1. repository.um-palembang.ac.id. Tinjauan Historis terhadap Bangunan Eks Museum Tekstil; detik.com. 10 Bangunan Bersejarah Palembang; robbysnt.wordpress.com; tempo.co

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 16 Oktober). Sejarah Eks Museum Tekstil: Rumah Burgermeester yang Menunggu. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/tempat/sejarah-eks-museum-tekstil/

Terakhir diperbarui 16 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga