Jembatan Ampera: Dari Jembatan Bung Karno ke Ikon Musi yang Bisa Disinggahi Malam Hari

TempatDiperbarui

Jembatan Ampera dibangun 10 April 1962, diresmikan 1965 sebagai Jembatan Bung Karno lalu berganti nama. Kenali sejarah singkat, spot foto malam, dan akses LRT.

LRT Palembang melintas di samping Jembatan Ampera di atas Sungai Musi
LRT Palembang melintas di samping Jembatan Ampera di atas Sungai Musi
LRT Palembang melintas di samping Jembatan Ampera di atas Sungai Musi — foto: Herusutimbul, CC BY-SA 4.0 via Wikimedia Commons. Jembatan merah 1965 dengan dua menara dan jam ikonik di tepi Musi.

Jembatan paling terkenal di Palembang lahir dengan nama lain. Ketika diresmikan pada 1965, ia disebut Jembatan Bung Karno. Hanya sekitar setahun kemudian, setelah gejolak politik 1965-1966, nama itu bergeser menjadi Ampera, singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Sebelum jembatan ini berdiri, menyeberang dari Ulu ke Ilir berarti menunggu perahu atau feri, menyesuaikan jadwal, cuaca, dan kesabaran.

Hari ini Ampera bukan lagi mekanisme angkat, tapi tetap ikon. Dua menara tengah berwarna merah yang dulu mengangkat badan jembatan kini menjadi rangka lampu malam. Dari Pelataran Benteng Kuto Besak, siluetnya memantul di Musi dan jadi latar foto paling dicari. Artikel ini bukan mengulang sejarah panjang — untuk itu baca entri Jembatan Ampera: Lahir dengan Nama Bung Karno — melainkan panduan singkat kalau kamu mau datang sebagai wisatawan.

Ringkasan sejarah (2 menit baca)

Pembangunan dimulai 10 April 1962 dengan pemancangan tiang pertama, menurut dokumentasi Ditjen Bina Marga. Dana pembangunan dikaitkan dengan pampasan perang Jepang. Bentang utamanya dirancang bisa terangkat di tengah agar kapal besar lewat — sistem yang kini tidak lagi difungsikan. Panjang total sekitar 1.177 meter, lebar 22 meter, dan tinggi menara sekitar 63 meter.

Nama Bung Karno melekat saat peresmian 1965, lalu berubah menjadi Ampera setelah perubahan politik. Bagi warga, pergantian nama itu sendiri adalah penanda zaman: jembatan yang sama, tapi cerita di balik namanya berganti.

Kenapa jadi tempat wisata

Karena gratis, buka 24 jam, dan paling fotogenik saat malam. Lampu warna-warni di menara dan kabel menyala sekitar magrib sampai larut, memantul di permukaan Musi yang gelap. Dari BKB kamu dapat frame lengkap: dinding benteng di depan, jembatan merah di tengah, dan Musi di bawah.

Siang hari pun ramai, tapi panas dan berdebu kendaraan. Malam memberi angin sungai dan kerumunan penjual jagung bakar, pempek panggang, dan kopi. Kalau beruntung, LRT melintas di sebelahnya — foto LRT + Ampera adalah kombo yang paling sering diburu.

Informasi praktis

  • Alamat: Membentang di atas Sungai Musi, menghubungkan Jl. Jenderal Sudirman sisi Ilir (Bukit Kecil) dan sisi Ulu (Seberang Ulu Satu).
  • Jam terbaik: 18.30–21.30 WIB. Datang 10 menit sebelum magrib untuk dapat transisi langit biru ke lampu menyala.
  • Biaya: Tidak ada tiket. Parkir di Pelataran BKB atau 1 Ilir.
  • Akses: LRT Palembang turun Stasiun Ampera, jalan 5 menit ke BKB. Trans Musi koridor Ampera–Jakabaring, angkot, atau ojek online. Rekomendasi: foto dari pelataran/tepian, jangan berhenti di tengah jembatan (berbahaya dan dilarang berhenti).

Apa yang bisa dilakukan

  • Jalan kaki di pelataran BKB — trotoar lebar, bisa duduk di dinding benteng sambil lihat jembatan.
  • Foto malam — titik terbaik: ujung pelataran dekat patung ikan belida, atau dari bawah jembatan sisi 1 Ilir.
  • Naik LRT bolak-balik Ampera–Jakabaring — dapat view Musi dari atas, termasuk Ampera dari samping.
  • Kuliner tepian — pempek, es kacang merah, dan jagung bakar di sekitar BKB dan Pasar 16 Ilir.

Sekitar Ampera

Dalam radius 10 menit jalan: Pelataran Benteng Kuto Besak (ruang publik di depan benteng), Benteng Kuto Besak (keraton 1797 yang kini markas TNI), Pasar 16 Ilir, dan Kampung Kapitan. Kalau lanjut ke hilir dengan perahu, ada Pulau Kemaro.

Tips: pakai alas kaki nyaman, bawa air minum, dan jaga barang berharga di keramaian malam minggu. Jika hujan, pelataran licin — berteduh dulu.

Sumber

  1. Id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Ampera; Ditjen Bina Marga Kementerian PU (dokumentasi pembangunan 1962-1965); Palembangpedia entri 211 sejarah-jembatan-ampera

Cara mengutip

PalembangPedia. (2026, 18 Oktober). Jembatan Ampera: Dari Jembatan Bung Karno ke Ikon Musi yang Bisa Disinggahi Malam Hari. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/tempat/jembatan-ampera/

Terakhir diperbarui 17 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga