
Di tengah 19 Ilir, seratus meter dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, berdiri masjid dengan atap tajug bersusun tiga. Dari luar tampak tenang, tapi umurnya hampir tiga abad: dibangun Sultan Mahmud Badaruddin I antara 1738 dan 1748, bertahan melewati Kesultanan, kolonial, dan republik.
Masjid Agung Palembang bukan sekadar tempat salat tertua di kota. Ia adalah penanda bagaimana Palembang membangun identitas: Jawa, Melayu, Tionghoa, dan Eropa bertemu di satu atap — harfiah.
Masjid 1738 yang bertahan tiga zaman
Gagasan membangun masjid besar dikaitkan dengan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo (memerintah 1724–1757). Pembangunan berlangsung bertahun-tahun, dengan bahan bata dan kayu, dan diselesaikan sekitar 1748. Di zamannya, masjid ini menjadi pusat agama dan pemerintahan Kesultanan.
Masjid sempat rusak akibat serangan dan perubahan kota. Renovasi besar dilakukan beberapa kali, termasuk pada masa kolonial dan setelah kemerdekaan, dengan perluasan serambi dan menara. Renovasi 2000-an menambah kapasitas tanpa menghilangkan atap tajug limas Palembang sebagai ciri utama.
Arsitektur: tajug, Eropa, dan Tionghoa
Ciri paling mudah dikenali adalah atap tajug bersusun tiga dengan mustaka di puncak — bentuk limas khas Palembang, bukan kubah. Serambi dan tiang menampilkan pengaruh Eropa, sementara ornamen dan gapura menampilkan sentuhan Tionghoa. Perpaduan ini wajar: Palembang di abad 18 adalah pelabuhan dagang tempat tukang dan bahan dari berbagai asal bertemu.
Di interior, mihrab dan mimbar kayu menampilkan ukir Melayu-Palembang. Beduk besar dan halaman luas menjadi ruang komunal, terutama saat Idul Fitri dan Idul Adha ketika pelataran penuh.
Berkunjung: etika dan waktu terbaik
- Waktu: di luar jam salat fardu. Pagi 08.00–11.00 sejuk dan sepi, sore 13.00–15.00 juga nyaman. Hindari Jumat 11.00–13.30 (salat Jumat ramai).
- Pakaian: sopan, menutup aurat. Tersedia sarung/mukena pinjaman di masjid.
- Foto: boleh di pelataran dan serambi seizin pengurus. Matikan flash di dalam ruang salat, jangan naik ke mimbar.
- Durasi: 30–60 menit cukup untuk keliling pelataran, serambi, dan baca panel sejarah.
Sekitar Masjid Agung
Dalam radius 5 menit jalan: Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (gedung putih limas, bekas Keraton Kuto Lamo), Pelataran Benteng Kuto Besak, dan Jembatan Ampera. Jalan kaki dari masjid ke Musi hanya sekitar 300 meter.
Tips: sekalian mampir ke Pasar Cinde atau kuliner 19 Ilir. Jika datang saat Ramadan, pelataran ramai buka puasa bersama — datang lebih awal.



