Sriwijaya dan Palembang dalam Jaringan Dunia Maritim

EntriDiperbarui

Sriwijaya bukan satu bangunan yang bisa ditunjuk, melainkan jaringan sungai, pelabuhan, agama, dan kekuasaan. Prasasti dan catatan perjalanan menempatkan Palembang sebagai salah satu simpul pentingnya.

Prasasti Talang Tuo peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Foto: Gunawan Kartapranata / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Tahun 682. Seorang tokoh bernama Dapunta Hyang berangkat bersama rombongan besar, sebagian naik perahu, sebagian berjalan di darat. Perjalanan itu dicatat di sebuah batu yang kelak ditemukan di Kedukan Bukit, Palembang. Di akhir teksnya muncul sebuah nama yang kemudian menjadi salah satu nama terbesar dalam sejarah Asia Tenggara: Sriwijaya.

Batunya kecil. Tetapi beberapa baris tulisannya membuka pintu menuju dunia yang sangat luas: dunia sungai yang menjadi jalan raya, pelabuhan yang ramai, biksu yang belajar bahasa Sanskerta, dan kekuasaan yang dijalankan lewat jaringan, bukan lewat tembok.

Satu hal perlu disepakati sejak awal. Ketika membicarakan Sriwijaya di Palembang, kita tidak sedang mencari satu istana yang masih berdiri. Kita sedang membaca jejak sebuah jaringan.

Empat prasasti, empat jendela

Kedukan Bukit (682 M) menyebut Dapunta Hyang, perjalanan yang disebut siddhayatra, rombongan, perahu, dan pembuatan wanua Sriwijaya. Kekuasaan di sini tumbuh dari kemampuan menggerakkan orang dan menguasai jalur air.

Talang Tuo (684 M) bercerita tentang pembangunan Taman Sriksetra dan harapan agar kebajikan memberi manfaat bagi semua makhluk. Lingkungan, agama, dan kesejahteraan hadir dalam satu proyek penguasa.

Telaga Batu memuat rumusan sumpah dan kutukan serta menyebut berbagai kelompok dan jabatan. Ia membantu sejarawan membaca bagaimana penguasa mengikat kesetiaan orang-orang di bawah pengaruhnya.

Kota Kapur (686 M), yang ditemukan di Pulau Bangka, menunjukkan jangkauan Sriwijaya di luar Palembang. Ia tidak membuktikan bahwa semua wilayah diperintah dengan cara yang sama, tetapi menunjukkan adanya jaringan politik yang menyeberangi laut.

Prasasti-prasasti awal ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa. Pilihan bahasa itu sendiri adalah petunjuk tentang siapa yang diajak bicara oleh penguasa.

Pemandangan Sungai Musi dengan rumah panggung di tepian
Sungai Musi, jalur perdagangan Sriwijaya. Foto: Cynthia.veronica / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Seorang biksu dari Tiongkok

Pada 671, biksu Yijing singgah di negeri yang dalam catatannya disebut Shili Foshi, nama yang oleh sebagian besar sejarawan diidentifikasi dengan Sriwijaya. Ia belajar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Catatannya menunjukkan bahwa Sriwijaya dikenal dalam jaringan pendidikan dan perjalanan Buddha di Asia.

Yijing bukan orang Palembang, dan catatannya bukan laporan lengkap tentang sebuah kota. Ia adalah suara dari luar yang membantu kita melihat bagaimana Sriwijaya dipandang oleh pendatang.

Mengapa Palembang?

Gabungan prasasti, arca, dan temuan arkeologi menempatkan Palembang sebagai salah satu pusat penting Sriwijaya. Sungai Musi menghubungkan pedalaman Sumatra dengan Selat Bangka dan jalur pelayaran internasional. Pangan, hasil hutan, dan tenaga dari hulu bertemu dengan kapal dan pedagang dari hilir.

Namun lokasi keraton Sriwijaya belum bisa ditetapkan pada satu titik. Kawasan Karanganyar, yang kini dikenal sebagai Taman Purbakala Sriwijaya, memiliki kanal, parit, kolam, dan pulau buatan yang menunjukkan kemampuan mengatur air dan ruang. Karanganyar adalah kandidat penting, bukan bukti pasti. Perbedaan antara kandidat dan kepastian terdengar sepele, tetapi dalam sejarah perbedaan itulah yang menjaga kita dari cerita yang terlalu yakin.

Prasasti Talang Tuo peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Prasasti Talang Tuo, peninggalan Sriwijaya. Foto: Gunawan Kartapranata / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Kekuatan maritim, bukan negara modern

Kata maritim sering membuat orang membayangkan Sriwijaya “menguasai laut” seperti negara modern menguasai wilayahnya. Gambaran yang lebih tepat adalah jaringan: kendali atas simpul-simpul strategis, hubungan kesetiaan, perdagangan, upeti, dan perlindungan jalur. Laut adalah ruang pertemuan, bukan batas. Angin musim mengatur jadwal pelayaran, dan pengetahuan tentang arus menentukan tempat singgah.

Keramik dan barang dari luar yang ditemukan di Palembang adalah petunjuk pergerakan barang dan orang. Tetapi asal sebuah benda tidak selalu sama dengan asal pemiliknya. Benda bisa berpindah melalui banyak tangan sebelum terkubur.

Bukan runtuh dalam semalam

Pada 1025, armada Chola dari India Selatan menyerang Sriwijaya. Peristiwa ini penting, tetapi bukan satu-satunya penyebab kemunduran. Perubahan jalur dagang, munculnya pusat-pusat kekuasaan baru, dan bergesernya hubungan politik ikut berperan. Sebuah pusat bisa kehilangan dominasinya tanpa penduduk dan budayanya lenyap seketika.

Sriwijaya sendiri sempat lama hilang dari pengetahuan umum. Ia “ditemukan kembali” oleh penelitian modern lewat pembacaan prasasti, catatan asing, dan penggalian. Pada 1918, sejarawan George Coedès mengemukakan identifikasi Sriwijaya sebagai kerajaan besar yang berpusat di Sumatra. Sejak itu, perdebatan tentang lokasi dan bentuknya terus berlangsung.

Warisan yang masih bisa dikunjungi

Hari ini Sriwijaya hadir di Palembang lewat prasasti yang dirawat, koleksi museum, situs Karanganyar, nama-nama tempat, dan pelajaran di sekolah. Bagi wisatawan, ia adalah alasan melihat Palembang sebagai kota yang sejak lama terhubung dengan dunia. Bagi pelajar, ia adalah contoh bagaimana sejarawan bekerja dari bukti yang tidak lengkap.

Untuk memahami mengapa jaringan sebesar itu bisa hidup, kita perlu mengikuti urat airnya: Sungai Musi. Untuk melihat jejak keagamaannya dari dekat, kembali ke Bukit Siguntang.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah Sriwijaya sama dengan Palembang? Tidak. Palembang adalah salah satu pusat penting dalam jaringan Sriwijaya yang jauh lebih luas.

Apakah Karanganyar pasti bekas keraton Sriwijaya? Belum terbukti. Karanganyar adalah kandidat penting.

Siapa Dapunta Hyang? Tokoh utama dalam prasasti-prasasti awal Sriwijaya, terutama Kedukan Bukit.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu prasasti Kedukan Bukit?

Prasasti Kedukan Bukit adalah prasasti dari tahun 682 M yang ditemukan di Palembang. Isinya mencatat Dapunta Hyang melakukan perjalanan yang disebut siddhayatra bersama rombongan besar, sebagian naik perahu dan sebagian berjalan di darat, serta pembuatan wanua Sriwijaya.

Siapa Yijing dalam sejarah Sriwijaya?

Yijing adalah biksu dari Tiongkok yang pada 671 singgah di negeri yang ia sebut Shili Foshi, yang oleh sebagian besar sejarawan diidentifikasi sebagai Sriwijaya. Ia belajar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke India, dan catatannya menunjukkan Sriwijaya dikenal dalam jaringan pendidikan dan perjalanan Buddha di Asia.

Mengapa prasasti Kota Kapur penting bagi sejarah Sriwijaya?

Prasasti Kota Kapur berangka 686 M dan ditemukan di Pulau Bangka, sehingga menunjukkan jangkauan Sriwijaya di luar Palembang. Prasasti ini tidak membuktikan semua wilayah diperintah dengan cara yang sama, tetapi memperlihatkan adanya jaringan politik yang menyeberangi laut.

Bagaimana Sriwijaya menjalankan kekuasaannya?

Kekuasaan Sriwijaya dijalankan lewat jaringan, bukan lewat tembok, dengan menguasai jalur air seperti Sungai Musi yang menjadi jalur perdagangan. Kemampuannya tumbuh dari kemampuan menggerakkan orang dan mengendalikan jalur perairan.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talang Tuo (684 M), Prasasti Telaga Batu, dan Prasasti Kota Kapur (686 M).
  2. Yijing, terjemahan J. Takakusu (1896). A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago (A.D. 671-695). Oxford: Clarendon Press.
  3. Coedès, George (1918). Le royaume de Çrīvijaya. Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient 18(6): 1-36.
  4. Purwanti, Retno, dan Eka Asih Putrina Taim (1995). Situs-Situs Keagamaan di Palembang: Suatu Tinjauan Kawasan. Berkala Arkeologi 15(3): 65-69.

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Sriwijaya dan Palembang dalam Jaringan Dunia Maritim. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/sejarah-sriwijaya-di-palembang/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Pemandangan Sungai Musi dengan rumah panggung di tepian

Entri · Sejarah

Sungai Musi: Kota yang Dibentuk oleh Air

Palembang bukan kota yang kebetulan punya sungai. Ia kota yang dibentuk oleh sungai, sampai-sampai salah satu jalan utamanya dulu adalah aliran air.

Masa Sriwijaya sampai kini