Tahun 1659, Keraton Kuto Gawang terbakar. Pasukan VOC menyerang Palembang setelah hubungan dagang yang semula saling menguntungkan berubah menjadi perebutan monopoli lada. Api itu menghanguskan pusat kekuasaan lama, tetapi tidak menghentikan Palembang. Dari puing-puingnya tumbuh sebuah babak baru: Kesultanan Palembang Darussalam.
Banyak orang melompat langsung dari Sriwijaya ke Palembang modern. Padahal di antara keduanya ada sekitar tiga abad yang menentukan wajah kota hari ini: masjid, makam, benteng, hukum adat, dan tata kota lama. Kisah ini bukan sekadar daftar raja. Ini kisah tentang sungai, perdagangan, agama, keluarga, dan politik yang saling terkait.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang terjadi di Keraton Kuto Gawang pada tahun 1659?
Pada tahun 1659 Keraton Kuto Gawang, pusat kekuasaan Palembang saat itu, terbakar dan dihancurkan akibat serangan VOC. Api tersebut menghanguskan pusat kekuasaan lama, tetapi dari puing-puingnya kemudian lahirlah babak baru Kesultanan Palembang Darussalam.
Mengapa VOC menyerang Palembang?
VOC menyerang Palembang karena hubungan dagang yang semula saling menguntungkan berubah menjadi perebutan monopoli lada. Setelah menjalin kontrak dagang pada 1641 dan 1642, VOC berusaha memonopoli perdagangan lada sehingga ketegangan memuncak pada serangan 1659.
Siapa penguasa Palembang setelah masa jaya Sriwijaya?
Palembang mengalami berbagai pengaruh politik yang dikaitkan dengan Majapahit, lalu Demak dan Pajang, kemudian Mataram. Tokoh awal yang paling sering disebut adalah Ki Gede Ing Suro, yang dikaitkan dengan perkembangan komunitas Palembang dan hubungan politik Demak-Palembang.
Bagaimana awal mula Kesultanan Palembang Darussalam?
Kesultanan Palembang Darussalam tidak muncul tiba-tiba setelah Sriwijaya, melainkan lahir dari proses panjang yang ditandai berdirinya pusat kekuasaan di Keraton Kuto Gawang. Keraton tersebut terletak di kawasan yang kini berhubungan dengan 1 Ilir dan PUSRI, dan menjadi pusat kekuasaan hingga dihancurkan oleh VOC pada 1659.
Jelajahi juga
- Kuto Gawang sampai Kuto Besak: Istana yang Berpindah
- Benteng Kuto Besak: Istana yang Kini Menjadi Markas
- Masjid Agung Palembang: Sepuluh Tahun Membangun Masjid Sultan
Setelah Sriwijaya
Palembang mengalami banyak pergantian pengaruh politik setelah masa jaya Sriwijaya. Sumber sejarah mengenal fase penguasa yang dikaitkan dengan Majapahit, lalu Demak dan Pajang, kemudian Mataram. Artinya, Kesultanan tidak muncul tiba-tiba setelah Sriwijaya. Ia lahir dari proses panjang, dan Palembang sejak awal adalah bagian dari jaringan politik regional.

Ki Gede Ing Suro dan nama-nama yang berbeda
Tokoh awal yang paling sering disebut adalah Ki Gede Ing Suro. Kajian tentang Situs Candi Geding Suro menghubungkan perkembangan komunitas Palembang dengan tokoh ini dan dengan hubungan politik Demak-Palembang.
Di sinilah sejarah menjadi menarik, karena sumber tidak sepakat. Satu kronologi menyebut Pangeran Sido Ing Lautan memerintah sekitar 1547-1552, lalu Ki Gede Ing Suro Tuo sekitar 1552-1573, kemudian Ki Gede Ing Suro Mudo sekitar 1573-1590. Sebagian kajian justru mengidentifikasi Pangeran Sido Ing Lautan dan Ki Gede Ing Suro Tuo sebagai orang yang sama. Ki Gede Ing Suro Mudo pun dikenal dengan variasi nama seperti Ki Gede Ing Suro Ilir atau Kiai Mas Anom Adipati Ing Suro. Kronologi di atas adalah kerangka kerja, bukan daftar final.
Kuto Gawang dan lada
Pusat kekuasaan penting pada masa ini adalah Keraton Kuto Gawang, di kawasan yang kini berhubungan dengan 1 Ilir dan PUSRI. Palembang kaya karena posisinya: sungai menghubungkan kebun-kebun di pedalaman dengan jalur laut. Lada menjadi komoditas yang paling diincar.
VOC menjalin kontrak dagang dengan Palembang pada 1641 dan 1642. Ketika kongsi dagang Belanda itu berusaha memonopoli perdagangan, ketegangan meningkat. Puncaknya adalah serangan 1659 yang menghancurkan Kuto Gawang. Kisah perpindahan istana setelah kebakaran itu ada di artikel Kuto Gawang sampai Kuto Besak.

Susuhunan Abdurrahman
Tokoh kunci berikutnya adalah Ki Mas Endi, atau Pangeran Ario Kusumo Abdurrahman, yang kemudian bergelar Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam. Ia secara umum ditempatkan sebagai tokoh pertama Kesultanan Palembang Darussalam pada paruh kedua abad ke-17. Kapan tepatnya gelar sultan mulai dipakai masih berbeda antarsumber.
Nama Darussalam memiliki dimensi keislaman yang kuat. Ada klaim populer bahwa Palembang termasuk segelintir kerajaan Nusantara yang diakui langsung oleh Turki Utsmani. PalembangPedia belum memakai klaim itu karena belum didukung sumber primer atau kajian akademik yang memadai.
Para sultan
Urutan yang dipakai PalembangPedia: Susuhunan Abdurrahman; Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago; Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno; Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo; Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo; Sultan Muhammad Bahauddin; dan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sultan Mahmud Badaruddin I membawa Kesultanan ke masa pembangunan besar, termasuk Masjid Agung dan kompleks makam Kawah Tengkurep. Penerusnya, Sultan Muhammad Bahauddin, menyelesaikan Benteng Kuto Besak.
Cerita yang masih perlu diverifikasi
Jayo Ing Lago. Dalam pengetahuan lokal, gelar “Ing Lago” dikaitkan dengan penguasa yang tidak pernah kalah perang. Cerita ini belum dikunci sebagai fakta.
Pangeran Ratu Kamuk. Raden Zailani, putra Sultan Mahmud Badaruddin I dan calon putra mahkota, disebut wafat pada 1755 dalam konflik yang melibatkan orang-orang Bali. Versi juru kunci menyebut tentara bayaran, versi lain menyebut budak yang memberontak. Kedua versi tidak digabungkan sebelum diverifikasi.
Pusat Islam dan hukum
Kesultanan berkembang sebagai salah satu pusat Islam di Sumatra bagian selatan. Hubungan antara penguasa, ulama, pendidikan agama, dan sastra Melayu meninggalkan jejak berupa masjid, makam, naskah, dan tradisi. Salah satu warisan paling menarik adalah Undang-Undang Simbur Cahaya, yang secara tradisi dikaitkan dengan Ratu Sinuhun. Kisahnya ada di artikel Ratu Sinuhun dan Simbur Cahaya.
Menuju babak perlawanan
Pada awal abad ke-19, Kesultanan berada di tengah persaingan Inggris dan Belanda. Berakhirnya kekuasaan Kesultanan adalah proses politik dan militer yang panjang, bukan peristiwa satu hari. Babak itu dibuka oleh Sultan Mahmud Badaruddin II.


