Benteng Kuto Besak: Istana yang Kini Menjadi Markas

EntriDiperbarui

Yang orang sebut benteng sebenarnya istana. Dibangun 17 tahun, ditempati sejak 1797, diserang tiga kali, lalu berganti fungsi. Inilah kisah Kuto Besak.

Benteng Kuto Besak
Foto: fitri agung from Pekanbaru, Riau, Indonesia / Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

Setiap sore, plaza di tepi Musi ini ramai oleh orang yang berfoto dengan latar dinding panjang dan Jembatan Ampera di kejauhan. Hanya sedikit yang tahu bahwa di balik dinding itu dulu berdiri istana. Dan lebih sedikit lagi yang tahu bahwa kompleks itu hari ini dipakai oleh militer.

Namanya Kuto Besak. Kuto berarti kota berbenteng atau kawasan berpagar, besak berarti besar dalam bahasa Palembang. Orang menyebutnya benteng, tetapi ia dibangun sebagai keraton: tempat tinggal sultan, pusat pemerintahan, dan simbol kedaulatan Kesultanan Palembang Darussalam.

Tujuh belas tahun membangun istana

Gagasan membangun keraton baru dikaitkan dengan Sultan Mahmud Badaruddin I. Pembangunannya baru dimulai pada 1780, pada masa Sultan Muhammad Bahauddin, dan memakan waktu sekitar tujuh belas tahun. Pada 21 Februari 1797, keluarga sultan dan pemerintahan Kesultanan pindah ke dalamnya. Kuto Besak menjadi istana terakhir dalam rangkaian perpindahan pusat kekuasaan Palembang, yang kisahnya bisa dibaca di artikel Kuto Gawang sampai Kuto Besak.

Letaknya dipilih dengan cermat: di tepi Musi, dekat bandar dan pusat masyarakat. Sungai adalah jalur kedatangan barang dan orang, sekaligus jalur datangnya ancaman. Dari dinding yang menghadap air, pergerakan di sungai bisa diawasi.

Dinding Benteng Kuto Besak yang masih berdiri hari ini
Dinding Benteng Kuto Besak yang masih berdiri hari ini. Foto: fitri agung from Pekanbaru, Riau, Indonesia, Indonesia / Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

Tiga kali diserang

Kuto Besak diuji tidak lama setelah selesai. Pada 1812, pasukan Inggris menyerang Palembang. Pada 1819, keraton ini menjadi bagian dari pertahanan yang dua kali memukul mundur ekspedisi Belanda. Pada 1821, Belanda kembali dengan kekuatan jauh lebih besar, dan Palembang jatuh. Sultan yang memimpin perlawanan itu adalah Sultan Mahmud Badaruddin II.

Setelah 1821, Kuto Besak berhenti menjadi pusat Kesultanan. Kompleks ini masuk ke dalam struktur kekuasaan kolonial dan berganti fungsi. Bangunan yang kita lihat hari ini menyimpan lapisan-lapisan perubahan sesudah masa itu, jadi tidak bisa dianggap sebagai bentuk asli keraton sepenuhnya.

Dari keraton menjadi instalasi militer

Hari ini kompleks Kuto Besak digunakan oleh militer, sehingga bagian dalamnya tidak terbuka bebas untuk umum. Yang bisa dinikmati warga dan wisatawan adalah kawasan tepiannya: plaza terbuka, dinding luar, dan pemandangan Sungai Musi.

Itu sebabnya papan informasi di sekitar lokasi menjadi penting. Tanpa penjelasan, pengunjung hanya melihat “tembok tua”. Dengan penjelasan, mereka melihat bekas istana yang pernah menjadi garis depan perlawanan.

Dinding Benteng Kuto Besak Palembang
Benteng Kuto Besak, bekas Keraton Kuto Besak. Foto: fitri agung from Pekanbaru, Riau, Indonesia, Indonesia / Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

Cerita yang beredar

Benteng yang tak tertembus. Cerita ini legenda. Kuto Besak bertahan pada 1819, tetapi tertembus pada 1821.

Lorong rahasia. Kisah lorong rahasia perlu dibedakan antara struktur yang sudah diverifikasi dan cerita wisata.

Berkunjung

Plaza Benteng Kuto Besak adalah ruang publik yang ramai, terutama sore dan malam hari. Hormati batas area militer, jaga kebersihan, dan jangan memanjat atau mencoret dinding. Ketentuan akses ke dalam kompleks bisa berubah, jadi pastikan kepada pengelola sebelum merencanakan kunjungan.

Benda-benda dari masa Kesultanan kini disimpan tak jauh dari sini, di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Benteng Kuto Besak?

Kuto Besak adalah benteng peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam yang sebenarnya dibangun sebagai keraton, bukan benteng militer. Dalam bahasa Palembang, “kuto” berarti kota berbenteng dan “besak” berarti besar. Kompleks ini berfungsi sebagai tempat tinggal sultan, pusat pemerintahan, dan simbol kedaulatan Kesultanan Palembang Darussalam.

Kapan keluarga Sultan pindah ke Kuto Besak?

Pembangunan Kuto Besak dimulai pada tahun 1780 pada masa Sultan Muhammad Bahauddin dan memakan waktu sekitar tujuh belas tahun. Pada 21 Februari 1797, keluarga sultan dan pemerintahan Kesultanan pindah ke dalamnya. Kuto Besak menjadi istana terakhir dalam rangkaian perpindahan pusat kekuasaan Palembang.

Mengapa Kuto Besak dibangun di tepi Sungai Musi?

Letaknya dipilih dengan cermat karena dekat dengan bandar dan pusat masyarakat. Sungai Musi merupakan jalur kedatangan barang dan orang, sekaligus jalur datangnya ancaman. Dari dinding yang menghadap air, pergerakan di sungai bisa diawasi.

Mengapa bagian dalam Kuto Besak tidak bisa dikunjungi?

Hari ini kompleks Kuto Besak digunakan oleh militer, sehingga bagian dalamnya tidak terbuka bebas untuk umum. Yang bisa dinikmati warga dan wisatawan hanyalah kawasan tepiannya, yaitu plaza terbuka, dinding luar, dan pemandangan Sungai Musi. Bangunan yang terlihat saat ini juga sudah menyimpan banyak perubahan sejak masa kolonial, sehingga tidak bisa dianggap bentuk asli keraton.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Benteng Kuto Besak. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/tag/kuto-besak
  2. Dari Benteng Kuto Gawang ke Kuto Besak: Analisis Faktor Politik pada Tahun 1780. Tanjak: Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Raden Fatah. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tanjak/article/view/24496
  3. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikdasmen. Benteng Kuto Besak: Dari Keraton hingga Instalasi Militer.

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Benteng Kuto Besak: Istana yang Kini Menjadi Markas. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/sejarah-benteng-kuto-besak/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Kutobesak

Entri · Sejarah

Kuto Gawang sampai Kuto Besak: Istana yang Berpindah

Pusat kekuasaan Palembang menempati setidaknya empat lokasi dalam kurun sekitar 140 tahun. Setiap perpindahan menyimpan cerita tentang perang, politik, dan cara kota sungai melindungi…

Abad ke-17 sampai 1821

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Tokoh · Sejarah

Sultan Mahmud Badaruddin II

Ia menolak Inggris, mengalahkan Belanda dua kali pada 1819, lalu kalah oleh ekspedisi yang jauh lebih besar pada 1821. Kisah sultan yang namanya kini…

Sultan Palembang Darussalam