Namanya merujuk pada kerajaan maritim abad ketujuh. Gerak dan liriknya, menurut sejumlah peneliti, sarat pengaruh Buddha. Tetapi tari Gending Sriwijaya tidak lahir di masa Sriwijaya. Ia lahir di tengah Perang Dunia Kedua, atas permintaan pemerintah pendudukan Jepang, dan dipentaskan pertama kali pada 2 Agustus 1945. Lima belas hari kemudian, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Sejak itu, tari ini menyambut tamu-tamu penting di Palembang, sempat dilarang selama beberapa tahun, digugat kembali pada 2017, dan tetap bertahan sebagai wajah resmi kota.
Tari penyambutan dengan tepak sirih
Gending Sriwijaya adalah tari untuk menyambut tamu agung. Penari utamanya membawa tepak, wadah berisi sirih, kapur, dan pinang, yang dipersembahkan kepada tamu sebagai tanda penghormatan (detikSumbagsel).
Menurut Kompas, tari ini dibawakan sembilan penari perempuan. Selain penari utama dengan tepak, dua penari membawa peridon. Rombongan dilengkapi pengiring pria yang membawa payung dan tombak, serta penyanyi yang melantunkan lagu Gending Sriwijaya. Seluruhnya sekitar tiga belas orang.
Busananya adalah pakaian kebesaran Palembang. Penari utama mengenakan Aesan Gede, sedangkan para pendamping mengenakan Aesan Pak Sangkong (Kompas). Keduanya juga dikenal sebagai pakaian adat pengantin Palembang.

Lahir di bawah pendudukan Jepang
Gending Sriwijaya diciptakan atas permintaan pemerintah pendudukan Jepang kepada Jawatan Penerangan (Hodohan) untuk menyambut tamu di Keresidenan Palembang (detikSumbagsel).
Musiknya digarap A. Dahlan Muhibat, komponis sekaligus pemain biola kelompok teater Bangsawan Bintang Berlian, sekitar Oktober sampai Desember 1943. Syairnya ditulis Nungcik AR (juga dieja Nungtjik). Gerak tarinya ditata Tina Haji Gong dan Sukainah A. Rozak.
Pementasan pertamanya berlangsung pada Kamis, 2 Agustus 1945, di halaman Masjid Agung Palembang. Tamunya M. Syafei, Ketua Sumatora Tyuo In (dewan pusat Sumatra bentukan Jepang), dan wartawan Djamaluddin Adinegoro.
Karena itu sumber berbeda soal tahun “penciptaan”. Ada yang menyebut 1943 sampai 1944, mengacu pada penggarapan lagu, dan ada yang menyebut 1945, mengacu pada pementasan pertama. Keduanya benar untuk tahap yang berbeda.
Mengapa namanya Sriwijaya?
Lagu Gending Sriwijaya mengenang kejayaan Sriwijaya, kerajaan maritim yang pusatnya banyak dikaitkan dengan Palembang. Kajian Utami, Rasmida, dan Martion (2018) menilai pengaruh Buddhisme dominan dalam gerak dan lirik tari ini (core.ac.uk), sejalan dengan Sriwijaya yang dikenal sebagai pusat pembelajaran Buddha.
Namun ini adalah karya modern yang terinspirasi masa lalu, bukan tarian yang diwariskan dari istana Sriwijaya. Frasa populer seperti “tari peninggalan Sriwijaya” atau “tari penyambut tamu raja Sriwijaya” keliru bila dibaca secara harfiah.

Dilarang, lalu kembali
Setelah peristiwa 1965, Gending Sriwijaya berhenti ditampilkan sebagai tari sambut. Penyebabnya, penulis syairnya, Nungcik AR, dituduh sebagai anggota Lekra, organisasi kebudayaan yang dekat dengan PKI (Tirto).
Selama masa itu, peran tari sambut diisi Tari Tanggai atau Tari Tepak karya Elly Rudy, yang diciptakan pada 1965. Gending Sriwijaya tampil kembali pada 1969 di Jakarta Fair, lalu kembali dipakai sebagai tari penyambutan.
Gugatan 2017
Pada 2017 muncul desakan agar tari ini diganti karena dianggap tidak Islami. Pemerintah Kota Palembang menolak desakan itu, dan sejarawan Asvi Warman Adam menilainya tidak berdasar (The Jakarta Post). Perdebatan itu melahirkan kajian akademik, antara lain artikel di jurnal Patanjala (2019), yang mengkritik seruan penghapusan tersebut.
Kisah ini menunjukkan sesuatu yang lebih luas: tradisi yang tampak tua sering punya sejarah modern yang penuh tarik-menarik, dan justru karena itu menarik untuk dipelajari.
Klaim yang perlu diluruskan
Tari peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Keliru. Tari ini diciptakan pada 1943 sampai 1945.
Sembilan penari melambangkan Batanghari Sembilan. Tafsir ini beredar luas, tetapi sumbernya lemah. Bisa dipakai sebagai tafsir, bukan sebagai fakta sejarah.
Status warisan budaya
Tari Gending Sriwijaya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014 melalui SK Nomor 270/P/2014, dalam domain seni pertunjukan (basis data Kemendikbud). Pada 2024, budayawan Palembang menyatakan tari ini dan Tari Tanggai belum terdaftar sebagai kekayaan intelektual (Republika).
Pertanyaan yang sering diajukan
Kapan tari Gending Sriwijaya pertama kali dipentaskan? Pada Kamis, 2 Agustus 1945, di halaman Masjid Agung Palembang.
Siapa pencipta tari Gending Sriwijaya? Musiknya digarap A. Dahlan Muhibat, syairnya ditulis Nungcik AR, dan tarinya ditata Tina Haji Gong serta Sukainah A. Rozak.
Berapa jumlah penari Gending Sriwijaya? Sembilan penari perempuan, ditambah pengiring pembawa payung dan tombak serta penyanyi, sekitar tiga belas orang.
Apa isi tepak dalam tari Gending Sriwijaya? Sirih, kapur, dan pinang, dipersembahkan kepada tamu sebagai penghormatan.
Bila Anda pernah disambut tari ini di Palembang, kini Anda tahu bahwa yang Anda saksikan adalah karya berumur sekitar delapan puluh tahun dengan sejarah yang berliku. Kenali juga songket Palembang yang dikenakan para penarinya, dan Sriwijaya, kerajaan yang namanya dipinjam tarian ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Tari Gending Sriwijaya?
Tari Gending Sriwijaya adalah tari penyambutan tamu agung di Palembang. Penari utamanya membawa tepak, wadah berisi sirih, kapur, dan pinang, yang dipersembahkan kepada tamu sebagai tanda penghormatan.
Kapan Tari Gending Sriwijaya pertama kali dipentaskan?
Tari ini dipentaskan pertama kali pada Kamis, 2 Agustus 1945, di halaman Masjid Agung Palembang. Lima belas hari kemudian, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Mengapa Tari Gending Sriwijaya diciptakan?
Tari ini diciptakan atas permintaan pemerintah pendudukan Jepang kepada Jawatan Penerangan (Hodohan) untuk menyambut tamu di Keresidenan Palembang. Karena itu, tari ini lahir di tengah Perang Dunia Kedua, bukan di masa Sriwijaya.
Siapa pencipta musik, syair, dan gerak Tari Gending Sriwijaya?
Musiknya digarap A. Dahlan Muhibat, komponis sekaligus pemain biola kelompok teater Bangsawan Bintang Berlian. Syairnya ditulis Nungcik AR, sedangkan gerak tarinya ditata Tina Haji Gong dan Sukainah A. Rozak.


