Lima Hari Lima Malam: Kota Musi yang Menolak Mundur

EntriDiperbarui

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang dengan deretan tiang ornamen di halaman depan

Lima hari. Itu jeda antara kota yang mengira perang telah usai dan kenyataan bahwa perang baru saja dimulai.

Antara 1 hingga 5 Januari 1947, Palembang menjadi salah satu medan pertempuran terberat dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan. Hari ini, nama peristiwa itu hidup di nama sebuah monumen di tengah kota: Monpera.

Bekas Jepang, tantangan baru

Ketika Sekutu mendarat di Palembang pada 12 Oktober 1945, mereka datang dengan misi yang terdengar netral: melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan perang. Tapi di belakang rombongan resmi itu ada NICA — pemerintahan sipil Hindia Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonial. Sekutu kemudian meninggalkan Palembang pada Oktober 1946, dan Belanda mengambil alih. Kolonel Mollinger menjadi komandan wilayah militer Belanda untuk Palembang, Lampung, Bangka, dan Jambi.

Gerbang markas militer Belanda di Palembang dengan karung pasir pada tahun 1940-an
Foto: DLC (Defensie) / Nationaal Archief via Wikimedia Commons, CC0.

Pada Desember 1946, Belanda sudah menyusun pasukan di dalam dan di sekitar Kota Palembang. Di sisi lain, Panglima Komando Sumatera Jenderal Mayor Suharjo Harjowardoyo mengeluarkan perintah harian melalui Radio Republik Indonesia di Palembang: semua pasukan RI harus siaga. Udara sudah tegang.

Api pecah pukul lima pagi

Tepat pukul 05.00, 1 Januari 1947, Belanda melanggar garis demarkasi. Insiden pecah di daerah Ilir, dan dalam hitungan jam pertempuran meluas ke seluruh kota.

Pasukan Indonesia — dipimpin Kolonel Maludin Simbolon, Letnan Kolonel Bambang Utoyo, Mayor Rasyad Nawawi, dan Kapten Alamsyah — bertahan di posisi-posisi yang sudah disiapkan. Palembang Ilir dan seberang Sungai Musi berubah menjadi front. Rumah penduduk dijadikan tempat bertahan, jalanan penuh barikade.

Pada hari pertama, pertempuran berhenti sementara pukul 15.00 sore setelah imbauan dari Panglima TRI Divisi II Bambang Utoyo dan Gubernur Sumatera Selatan M. Isa. Gencatan itu hanya jeda.

Tiga front di satu kota

Hari kedua dan ketiga berubah menjadi perang posisi di seluruh penjuru kota. Front Seberang Ilir (RS Charitas) berada di bawah tanggung jawab Komandan Resimen Mayor Dani Effendi. Markas Batalyon 32 Resimen XV Divisi II di Sekanak dipimpin Makmun Murod. Batalyon 34 Resimen XV dengan Komandan Batalyon Kapten Raden Mas menjaga daerah Palembang Ulu dari markas di sekolah Cina 7 Ulu, melakukan perlawanan di Kertapati sampai Plaju.

Dinding Benteng Kuto Besak Palembang dengan papan nama di dinding
Foto: Fitri Agung / Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

Setiap jalan, setiap jembatan, setiap rumah di tepi Sungai Musi menjadi benteng pertahanan. Tapi hari ketiga, kondisi sudah parah: amunisi menipis, logistik habis, dan persenjataan Belanda yang lebih modern membuat pasukan Indonesia terpukul mundur.

Perundingan di tengah ledakan

Sejak 4 Januari 1947, perwakilan sipil dari kedua belah pihak sudah mulai bertemu di Kota Palembang — perundingan berjalan sambil pertempuran masih berlangsung.

Hari kelima, 5 Januari 1947, Panglima Divisi Garuda II Bambang Utoyo dan Gubernur Sumatera Selatan (sumber menyebut Dr. A.K. Gani) mengeluarkan perintah penghentian tembak-menembak. Gencatan senjata mulai berlaku pukul 00.00 pada 6 Januari 1947, dan penarikan pasukan dimulai pukul 06.00.

  • Angkatan bersenjata Indonesia mundur sejauh 20 kilometer dari pusat Kota Palembang
  • Pemerintahan sipil di bawah Gubernur M. Isa, kepolisian, dan angkatan laut di bawah Komandan Resimen Mayor A.R. Saroinson tetap berada di dalam kota
  • Belanda hanya boleh mendirikan pos militer dalam jarak 14 kilometer dari pusat kota

Pertempuran berakhir. Tapi lima hari itu tidak akan terlupakan.

Bunga melati di tengah kota

Hari ini, Monumen Perjuangan Rakyat berdiri sebagai pengingat akan peristiwa itu. Bentuknya yang menyerupai bunga melati bukan pilihan estetis semata — melati adalah bunga yang sejak dulu melekat dengan kota ini.

Pertempuran Lima Hari Lima Malam bukan hanya kisah pertempuran bersenjata. Ini kisah tentang kota yang menolak kembali ke penjajahan, meski untuk sementara, dan tentang para pemimpin yang harus mengambil keputusan sulit demi keselamatan rakyatnya. Kalau berkunjung ke Palembang, berdiri sebentar di Monpera: itulah tanah tempat lima hari itu berlangsung.

Sudah pernah ke Monpera? Bagaimana kesanmu berdiri di sana?

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Monpera?

Monpera adalah monumen yang didirikan untuk mengenang Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang, yaitu pertempuran yang terjadi antara 1 hingga 5 Januari 1947. Peristiwa ini menjadi salah satu medan pertempuran terberat dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan namanya hidup hingga kini melalui monumen tersebut di tengah kota.

Mengapa pertempuran di Palembang pecah pada Januari 1947?

Pertempuran pecah karena Belanda melanggar garis demarkasi dan menginginkan kembali kekuasaan kolonial atas Palembang. Setelah Sekutu yang semula bertugas melucuti tentara Jepang meninggalkan kota pada Oktober 1946, Belanda mengambil alih dan mulai menyusun pasukan di dalam dan di sekitar Kota Palembang sejak Desember 1946. Ketegangan memuncak ketika Panglima Komando Sumatera Jenderal Mayor Suharjo Harjowardoyo mengeluarkan perintah kesiagan melalui Radio Republik Indonesia.

Bagaimana jalannya pertempuran di hari pertama?

Pertempuran dimulai tepat pukul 05.00 pada 1 Januari 1947 dengan insiden di daerah Ilir, lalu meluas ke seluruh kota dalam hitungan jam. Pasukan Indonesia bertahan di posisi yang sudah disiapkan, dengan Palembang Ilir dan seberang Sungai Musi berubah menjadi front pertempuran. Pada pukul 15.00 sore, gencatan senjata sempat terpantau setelah imbauan Panglima TRI Divisi II Bambang Utoyo dan Gubernur Sumatera Selatan M. Isa, tetapi jeda itu hanya bersifat sementara.

Siapa saja pemimpin pasukan Indonesia dalam pertempuran tersebut?

Pasukan Indonesia dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon, Letnan Kolonel Bambang Utoyo, Mayor Rasyad Nawawi, dan Kapten Alamsyah. Di front Seberang Ilir (RS Charitas), pertahanan berada di bawah tanggung jawab Komandan Resimen Mayor Dani Effendi. Sementara itu, Batalyon 32 Resimen XV Divisi II di Sekanak dipimpin Makmun Murod, dan Batalyon 34 Resimen XV dengan Komandan Batalyon Kapten Raden Mas menjaga daerah Palembang Ulu dari markas di sekolah Cina 7 Ulu.

Jelajahi juga

Sumber

  1. Tirto.id (tirto.id/sejarah-pertempuran-5-hari-palembang-awal-kronologi-akhir-perang-giLm); Museum TNI AD (museumtniad.com); Detik Sumbagsel (detik.com/sumbagsel/berita/d-7223458); Wikipedia "Battle of Palembang (1947)"

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 14 Oktober). Lima Hari Lima Malam: Kota Musi yang Menolak Mundur. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/sejarah-pertempuran-lima-hari-lima-malam/

Terakhir diperbarui 14 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga

Foto resmi M. Ali Yokie, pemandu wisata berlisensi HPI dan pengurus DPC HPI Kota Palembang

Tour Guide · Budaya

M. Ali Yokie

M. Ali Yokie Tour Guide & Tour Leader · DPC HPI Kota Palembang 🗣 Bahasa Indonesia · Melayu 💬 Hubungi via WhatsApp –> Pindai…

Bahasa: Indonesia; Malaysia

Lukisan Keraton Kutogawang

Entri · Sejarah

Dari Kerajaan Palembang ke Kesultanan Palembang Darussalam

Setelah Sriwijaya, Palembang tidak berhenti menjadi pusat kekuasaan. Dari hubungan dengan Jawa, perdagangan lada, dan kebakaran Kuto Gawang pada 1659, lahirlah Kesultanan Palembang Darussalam.

Sekitar abad ke-16 sampai awal abad ke-19