Bangunan eks Museum Tekstil berdiri di ujung barat Jalan Merdeka, masuk ke kawasan Talang Semut. Bangunan ini dibangun pada 1883 sebagai tempat tinggal pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda — atau yang disebut Burgermeester (walikota). Kini, bangunan ini menjadi salah satu ikon pelestarian bangunan tua di Palembang yang paling memprihatinkan.
Hari ini, gedung ini kosong dan kondisinya semakin rusak. Padahal, ia adalah saksi bisu perubahan fungsi selama lebih dari 130 tahun: dari rumah pejabat, kantor pemerintah, hingga museum.

Bangunan ini berdiri lebih lama daripada jalan di depannya. Dibangun tahun 1883, waktu Jalan Diponegoro dan Jalan Dokter Wahidin belum ada. Orang yang membangunnya mungkin tidak menyangka gedung ini akan hidup melewati tiga zaman: rumah pejabat, kantor, museum.
Rumah untuk Burgermeester
Bangunan ini dibangun pada 1883 sebagai tempat tinggal bagi pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda. Nama Burgermeester adalah sebutan untuk walikota pada masa kolonial. Bangunan ini berada di kawasan Talang Semut, lingkungan permukiman pejabat Belanda di pusat kota.
Pada 1922, jalan-jalan di sekitarnya — Jalan Diponegoro dan Jalan Dokter Wahidin — belum ada. Kawasan Talang Semut masih berupa permukiman yang lebih alami. Baru setelah itu jalan-jalan ini dibangun, dan rumah dinas Wali Kota berdiri di perempatan mereka.
Bagaimana satu gedung bisa bertiga fungsi?
Sejak 1961, bangunan ini digunakan sebagai beberapa kantor pemerintahan. Fungsi rumah tinggal berubah menjadi perkantoran. Perubahan ini berlangsung selama beberapa dekade, hingga pada 2007 bangunan ini diubah menjadi Museum Tekstil.
Museum Tekstil beroperasi sampai tahun 2011. Koleksinya menampilkan lebih dari 500 benda bersejarah, termasuk kain songket dan tekstil tradisional Sumatera Selatan. Setelah itu, museum ditutup dan bangunan ini kembali kosong.
Versi yang dipercaya orang vs versi yang tertulis di arsip
Yang banyak orang Palembang percaya: Museum Tekstil berdiri tahun 1990 sebagai museum untuk koleksi songket. Tapi sumber lain memberi tanggal berbeda — museum dibuka tahun 2007 dan ditutup 2011, menggantikan fungsi kantor yang dipakai sejak 1961. Dua versi ini hidup berdampingan; keduanya tidak saling membantah, karena yang dimaksud mungkin tahap perencanaan vs pembukaan resmi.
Yang bisa dipastikan: bangunan ini dibangun 1883 sebagai rumah dinas Burgermeester (walikota) kolonial. Jalan-jalan di sekitarnya belum ada sampai 1922. Gedung ini juga pernah menyimpan lebih dari 500 benda koleksi songket dan alat tenun, lengkap dengan pengajaran langsung cara menenun songket kepada pengunjung.
Yang terjadi sekarang: museum tutup, bangunan kosong, rumput tumbuh liar di halaman. Tim ACB merekomendasikan bangunan ini sebagai cagar budaya. Menurut Antara, kawasan museum “terkesan kurang terawat”. Ironisnya, gedung ini berdiri di tengah pusat kota.
Fun fact: rumah tua yang lebih tua dari jalannya
Bangunan ini dibangun pada 1883 — jauh sebelum Jalan Diponegoro ada. Jalan yang kini mengapit bangunan ini baru dibangun pada 1930-an. Bayangkan: gedung ini berdiri sendiri selama puluhan tahun sebelum ada jalan di depannya.
Bangunan yang menunggu
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang merekomendasikan bangunan ini sebagai bangunan yang layak berstatus cagar budaya. Nilai sejarahnya tidak diragukan: lebih dari 130 tahun usia, arsitektur kolonial yang masih terjaga, dan jejak perubahan fungsi dari rumah pejabat hingga museum.
Eks Museum Tekstil hari ini
Saat ini, bangunan ini berdiri kosong di Jalan Talang Semut No. 84. Catnya mengelupas, gentengnya menua, dan halamya terbengkalai. Padahal, ini adalah salah satu bangunan kolonial tertua di Palembang. Baca juga kisah Jalan Diponegoro dan Jalan Merdeka.


