Seorang tamu bertanya kepada anak muda di Palembang, “Napi kabar?” Anak itu mungkin akan tersenyum bingung. Kalimat itu memang bahasa Palembang, tetapi dari ragam yang kini jarang terdengar di jalan: Bebaso, bahasa halus yang dulu hidup di lingkungan keraton. Yang setiap hari terdengar di pasar dan warung adalah ragam lain, Baso Sari-sari, dengan kata-kata seperti galo (semua), pacak (bisa), dan nian (sangat).
Dua ragam dalam satu kota itu menyimpan sejarah yang menarik: tentang keraton, tentang pengaruh Jawa, dan tentang bahasa yang pelan-pelan berganti generasi.
Dua ragam bahasa Palembang
Bahasa Palembang punya dua tingkatan (jurnal FON):
- Baso Pelembang Alus, atau Bebaso, dipakai di lingkungan keraton, kepada orang tua dan orang yang dihormati, serta dalam upacara adat.
- Baso Sari-sari adalah bahasa sehari-hari yang dipakai lintas kalangan.
Secara rumpun, bahasa Palembang tergolong bahasa Melayu. Pengamat budaya Vebri Al Lintani menegaskan bahwa bahasa Palembang pada dasarnya bahasa Melayu (IDN Times Sumsel). Pengaruh Jawa paling terasa pada ragam halusnya.

Mengapa ada unsur Jawa?
Menurut kajian di jurnal FON, bangsawan dari Demak menetap di Palembang, dan bahasa Jawa kemudian menjadi bahasa resmi Kesultanan Palembang Darussalam. Akulturasi bahasa Jawa dan Melayu itulah yang melahirkan Bebaso.
Pemerintah kolonial Belanda bahkan menyebut ragam ini Javaans, atau Palembang Javaans (jurnal Hortatori). Namun Bebaso tidak sama dengan bahasa Jawa. Kajian yang sama mencatat bahwa Bebaso tidak memiliki tingkatan berlapis seperti bahasa Jawa. Budi Agung Sudarmanto dari Balai Bahasa menggolongkannya sebagai Jawa Krama yang bercampur Melayu (abstrak ISLOJ).
Jejaknya bahkan tersimpan dalam naskah keagamaan. Kata kulo (saya), yang tergolong Bebaso, ditemukan dalam kajian tentang terjemahan Al-Qur’an berbahasa Melayu Palembang (jurnal SAMASTA).
Contoh kosakata
Contoh berikut dikumpulkan dari sumber yang dicantumkan. Ejaan bisa berbeda antarpenutur.
Bebaso (halus)
- dalem atau kulo: saya
- niku: kamu
- diaturi: silakan
- Dari pundi?: dari mana?
- Napi kabar?: apa kabar?
- penet: sehat, baik
Baso Sari-sari (sehari-hari)
- galo: semua
- pacak: bisa
- nian: sangat
- galak: mau
- katek: tidak ada
Contoh Bebaso diambil dari abstrak ISLOJ dan Liputan6; contoh Sari-sari dari detikSumbagsel, iNews, dan jurnal Ranah terbitan Badan Bahasa.

Ragam halus yang mulai ditinggalkan
Menurut jurnal FON, Bebaso masih sering dipakai sampai 1970-an dan 1980-an, lalu makin jarang sejak 2000-an. Budi Agung Sudarmanto mencatat penuturnya kebanyakan sudah lanjut usia. RRI melaporkan bahwa Bebaso mulai ditinggalkan anak muda dan kini diajarkan di sekolah (RRI).
Pola serupa terlihat pada banyak bahasa daerah. Ragam sehari-hari bertahan karena dipakai terus, sedangkan ragam halus yang terikat pada upacara dan hubungan sosial tertentu ikut menyusut ketika upacara dan hubungan itu berubah.
Berapa penuturnya?
Angkanya berbeda jauh antarsumber, dari sekitar 1,6 juta sampai lebih dari 3 juta. Perbedaannya terutama karena cakupan: ada sumber yang hanya menghitung bahasa Palembang, ada yang menghitung seluruh kelompok bahasa Musi di Sumatera Selatan. Karena itu, redaksi tidak memakai satu angka sebagai fakta.
Status warisan budaya
Menurut media regional, Bebaso Palembang lolos penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026 (IDN Times Sumsel). Daftar resminya belum dapat dikonfirmasi redaksi dari situs kementerian, jadi status ini akan diperbarui setelah dokumen penetapan terbit.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu Bebaso? Ragam halus bahasa Palembang yang dipengaruhi bahasa Jawa, dipakai di lingkungan keraton, kepada orang yang dihormati, dan dalam upacara adat.
Apa beda Bebaso dan Baso Sari-sari? Bebaso adalah ragam halus; Baso Sari-sari adalah bahasa sehari-hari.
Apakah bahasa Palembang termasuk bahasa Jawa? Tidak. Bahasa Palembang tergolong bahasa Melayu. Pengaruh Jawa terutama tampak pada ragam halusnya, Bebaso.
Apa arti “galo” dalam bahasa Palembang? Semua.
Bahasa adalah pintu paling dekat untuk mengenal sebuah kota. Setelah mengenal Bebaso, lihat bagaimana kehalusan yang sama hadir dalam jamuan ngobeng dan dalam tari penyambutan Gending Sriwijaya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Bebaso?
Bebaso, atau Baso Pelembang Alus, adalah ragam halus bahasa Palembang yang dulu hidup di lingkungan keraton. Ragam ini dipakai kepada orang tua dan orang yang dihormati, serta dalam upacara adat.
Mengapa bahasa Palembang memiliki pengaruh Jawa?
Menurut kajian di jurnal FON, bangsawan dari Demak menetap di Palembang dan bahasa Jawa kemudian menjadi bahasa resmi Kesultanan Palembang Darussalam. Akulturasi bahasa Jawa dan Melayu itulah yang melahirkan Bebaso, dan pengaruh Jawa paling terasa pada ragam halusnya.
Apakah Bebaso sama dengan bahasa Jawa?
Tidak. Kajian jurnal Hortatori mencatat bahwa Bebaso tidak memiliki tingkatan berlapis seperti bahasa Jawa. Budi Agung Sudarmanto dari Balai Bahasa menggolongkannya sebagai Jawa Krama yang bercampur Melayu.
Apa perbedaan Baso Sari-sari dan Bebaso?
Baso Sari-sari adalah bahasa sehari-hari yang dipakai lintas kalangan, dengan kata-kata seperti galo (semua) dan pacak (bisa). Sementara itu, Bebaso adalah ragam halus yang dipakai di lingkungan keraton, kepada orang tua dan orang yang dihormati, serta dalam upacara adat.


