Di Kampung Al-Munawar, pengunjung pria yang datang bercelana pendek akan diminta memakai sarung. Tidak perlu khawatir bila tidak membawanya: menurut Sindo Sumsel, warga bisa meminjamkannya (Sindo Sumsel). Aturan kecil ini memberi tahu satu hal penting sebelum Anda melangkah lebih jauh: Anda sedang bertamu ke kampung yang masih dihuni, bukan ke museum.
Kampung Al-Munawar berada di Kelurahan 13 Ulu, di tepi selatan Sungai Musi. Kampung ini didirikan pada abad ke-18 oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Munawar, pendatang dari Yaman (Jurnal Kalpataru). Keturunannya masih tinggal di sini sampai sekarang. Ulasan sejarah yang lebih panjang ada di artikel Kampung Arab Al-Munawar.
Yang bisa dilihat
Sebuah kajian di Prosiding Universitas PGRI Palembang mencatat delapan bangunan cagar budaya di kampung ini, antara lain:
- Rumah Kaca;
- Rumah Kembar Darat dan Rumah Kembar Laut;
- Rumah Tinggi;
- rumah limas;
- Rumah Batu bergaya indis.
Rumah Batu diperkirakan berusia 200 sampai 300 tahun dan sudah dihuni tujuh sampai delapan generasi, menurut kajian di Jurnal TekstuReka (2024). Kawasan ini dilindungi sebagai cagar budaya melalui keputusan Wali Kota Palembang; nomor keputusannya belum ditemukan redaksi.

Aturan berkunjung
Aturan kampung ini bersumber dari warga dan media, dan penting untuk dipatuhi:
- Berpakaian sopan dan menutup aurat. Pria bercelana pendek diminta memakai sarung.
- Pasangan yang bukan mahram dilarang berfoto berdua dan duduk berduaan (IDN Times).
- Hormati privasi warga. Detik melaporkan warga pernah merasa tidak nyaman dengan pengunjung yang tidak menghormati aturan berpakaian dan berfoto (detikSumbagsel).
Setelah viral, kembali tenang
Kampung Al-Munawar sempat ramai dikunjungi setelah populer di media sosial. Pada Oktober 2024, detikSumbagsel menggambarkannya kembali tenang. Menurut ketua RT setempat, kampung tidak jelas dibuka atau ditutup untuk wisata, dan wisatawan hanya datang sesekali. Artinya, Anda bisa berkunjung, tetapi jangan berharap fasilitas wisata yang lengkap atau pemandu yang siap setiap saat.

Tips berkunjung
Datanglah pada jam yang wajar, pagi sampai sore. Sumber populer menyebut jam kunjungan 08.30 sampai 17.00 WIB dan tiket sekitar Rp3.000. Hindari waktu salat berjamaah, dan bila ingin memotret rumah atau warga, mintalah izin lebih dulu.
Pada 2019, Mongabay mencatat adanya homestay milik warga (Mongabay). Menginap semalam bisa menjadi cara terbaik memahami kampung ini, tetapi pastikan ketersediaannya langsung kepada warga.
Versi yang berbeda-beda
Nama pendiri. Ditulis Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Munawar atau Muhammad bin Abdurrahman, tergantung sumber.
Usia kampung. “Sekitar 300 tahun” menurut pemandu yang dikutip media, abad ke-18 menurut kajian sejarah.
Hari tutup dan tiket. Ada klaim kampung tutup setiap Jumat dan bertiket Rp5.000. Keduanya belum terverifikasi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Di mana Kampung Al-Munawar? Di Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu Dua, di tepi selatan Sungai Musi.
Apa aturan berpakaian di Kampung Al-Munawar? Berpakaian sopan dan menutup aurat. Pria bercelana pendek diminta memakai sarung yang bisa dipinjam dari warga.
Bolehkah berfoto di Kampung Al-Munawar? Boleh, dengan sopan. Pasangan yang bukan mahram dilarang berfoto berdua, dan sebaiknya minta izin sebelum memotret warga.
Siapa pendiri Kampung Al-Munawar? Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Munawar, pendatang dari Yaman, pada abad ke-18.
Kampung ini adalah salah satu wajah Palembang sebagai kota pertemuan. Bandingkan dengan Kampung Kapitan, permukiman Tionghoa di tepi Ulu yang sama, lalu lihat bagaimana tradisi menjamu tamu Palembang bertemu budaya Arab dalam ngobeng.
Lihat juga: Kampung Kapitan; Masjid Agung Palembang; Pulau Kemaro.



