Pada 7 Oktober 1823, sebuah istana di tepi Sungai Musi dibongkar. Istana itu adalah Keraton Kuto Lamo, bekas kediaman Sultan Mahmud Badaruddin I. Di atas reruntuhannya, pemerintah kolonial mendirikan gedung baru untuk kantor residen. Gedung itulah yang hari ini menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dinamai dengan nama sultan yang dulu melawan kekuasaan kolonial itu sendiri.
Ada ironi yang menarik di sini. Museum yang menyimpan ingatan Kesultanan berdiri di gedung yang dibangun untuk menggantikan Kesultanan. Membaca museum ini berarti membaca dua lapisan sekaligus: benda-benda di dalamnya, dan bangunan yang menaunginya.
Dari keraton ke kantor residen

Lokasi museum di kawasan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, dulu adalah Keraton Kuto Lamo, salah satu istana dalam rangkaian perpindahan pusat kekuasaan Palembang. Kisah rangkaian itu ada di artikel Kuto Gawang sampai Kuto Besak.
Setelah Kesultanan dihapus, keraton itu dibongkar pada 7 Oktober 1823. Sumber berbeda tentang siapa yang melakukannya: ada yang menyebut pemerintah kolonial Inggris, ada yang menyebut Belanda. Gedung baru dibangun di atasnya. Satu sumber mencatat pembangunan dimulai 1823 dan selesai sekitar 1825, sementara sumber pariwisata resmi menyebut gedung itu selesai pada 1842. Warga menjulukinya Rumah Siput.
Nama sultan, cerita kota
Museum ini memakai nama Sultan Mahmud Badaruddin II, tokoh utama perlawanan Palembang terhadap Inggris dan Belanda. Tetapi koleksinya bercerita lebih luas: tentang Sriwijaya, Kesultanan, perdagangan, kehidupan sehari-hari, dan perubahan kota sampai masa kemerdekaan.
Membaca label, bukan hanya benda
Museum tidak membawa kita ke masa lalu secara ajaib. Ia memberi alat untuk bertanya kepada benda. Label yang baik menjawab pertanyaan dasar: benda apa ini, dibuat dari apa, dari kapan, dipakai oleh siapa, dan bagaimana museum memperolehnya. Perhatikan juga apakah sebuah benda asli atau replika.
Setiap koleksi punya biografi. Sebelum masuk lemari pajang, benda mungkin pernah berada di rumah, sungai, makam, atau lokasi penggalian. Benda kecil bisa menjelaskan sejarah besar: koin menunjukkan jaringan ekonomi, keramik menunjukkan perdagangan, alat rumah tangga menunjukkan kebiasaan yang tak tercatat dalam kronik.
Titik awal sebuah rute
Museum ini berdiri di tengah kawasan bersejarah. Dari sini pengunjung bisa berjalan ke Benteng Kuto Besak, Masjid Agung, tepian Musi, dan Jembatan Ampera. Kunjungan museum paling bermakna bila benda-benda di dalamnya mengantar kita kembali ke kota tempat benda itu berasal. Jam buka dan harga tiket belum diverifikasi redaksi, jadi pastikan kepada pengelola sebelum datang.


