Ambil selembar uang Rp10.000 emisi 2005. Di satu sisinya ada wajah Sultan Mahmud Badaruddin II. Di sisi lain ada sebuah rumah kayu beratap limas. Rumah itu bukan ilustrasi rekaan. Ia benar-benar ada, berdiri di bagian belakang Museum Balaputra Dewa di Palembang, dan Anda bisa masuk ke dalamnya (Antara Sumsel).
Rumah itu juga punya riwayat perjalanan yang jarang dimiliki bangunan lain: ia sudah berpindah tempat beberapa kali sejak abad ke-19.
Apa itu rumah limas?
Rumah limas adalah rumah panggung dari kayu dengan atap berbentuk limas dan lantai yang bertingkat-tingkat. Rumah ini dikaitkan dengan kalangan bangsawan Palembang dan menjadi simbol prestise pemiliknya (Indonesia Kaya).
Ciri yang paling khas adalah lantainya. Saat melangkah dari beranda ke ruang dalam, lantai naik setingkat demi setingkat. Setiap tingkat punya fungsi dan penghuninya sendiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu rumah limas?
Rumah limas adalah rumah panggung dari kayu dengan atap berbentuk limas dan lantai yang bertingkat-tingkat. Rumah ini dikaitkan dengan kalangan bangsawan Palembang dan menjadi simbol prestise pemiliknya. Ciri paling khasnya adalah lantai yang naik setingkat demi setinggi saat melangkah dari beranda ke ruang dalam, dan setiap tingkat memiliki fungsi serta penghuninya sendiri.
Apakah rumah limas yang tergambar di uang Rp10.000 benar-benar ada?
Ya, rumah tersebut bukan ilustrasi rekaan. Rumah itu berdiri di bagian belakang Museum Balaputra Dewa di Palembang dan Anda bisa masuk ke dalamnya. Di sisi uang Rp10.000 emisi 2005 yang sama tergambar wajah Sultan Mahmud Badaruddin II.
Apa itu kekijing pada rumah limas?
Kekijing adalah istilah untuk tingkatan lantai rumah limas, meski pemakaiannya tidak seragam antarsumber. Kompas menyebut tingkatannya dengan istilah bengkilas atau kijing yang berjumlah lima, sementara kekijing adalah papan tebal pemisah antartingkat. Sumber lain memakai kata kekijing untuk menyebut tingkatannya itu sendiri.
Mengapa rumah limas bisa dipindah-pindah?
Rumah limas dibangun dari kayu dengan sistem pasak, yaitu kayu unglen untuk fondasi karena tahan air, kayu tembesu untuk lantai, dinding, pintu, dan jendela, serta kayu seru untuk kerangka, sehingga bangunannya bisa dipindahkan. Rumah limas yang tergambar di uang Rp10.000 memang sudah berpindah tempat beberapa kali sejak abad ke-19.
Jelajahi juga
- Dari Kerajaan Palembang ke Kesultanan Palembang Darussalam
- Songket Palembang: Benang Emas yang Jejaknya Tersimpan di Arca Batu
- Bahasa Palembang: Sari-sari untuk Sehari-hari, Bebaso untuk yang Dihormati
Kekijing: lantai yang menunjukkan kedudukan
Tingkatan lantai ini dikenal dengan istilah kekijing atau bengkilas, walau pemakaiannya tidak seragam antarsumber. Kompas menyebut tingkatannya bengkilas atau kijing, berjumlah lima, sementara kekijing adalah papan tebal pemisah antartingkat (Kompas). Sumber lain memakai kekijing untuk menyebut tingkatannya sendiri.
Lima tingkat yang paling sering disebut:
- Pagar tenggalung, untuk menerima tamu.
- Jogan, untuk kaum pria.
- Tingkat ketiga, untuk tamu undangan.
- Tingkat keempat, untuk kerabat dekat dan orang yang dituakan.
- Gegajah, tingkat tertinggi, tempat amben untuk bermusyawarah.
Pada masa lalu, tingkatan itu juga dikaitkan dengan gelar keturunan. Sebuah kajian di jurnal IJSED mencatat kekijing pertama untuk golongan Kemas, kedua untuk Kiagus dan Masagus, dan ketiga untuk Raden. Kajian Purnama dan kawan-kawan di jurnal Dimensi (2021) menunjukkan bahwa tata ruang rumah limas mengikuti struktur keluarga, kekerabatan, gender, dan status perkawinan.
Maknanya kini bergeser. Menurut kajian di jurnal Lakar (2025), kekijing tidak lagi terutama menandai status sosial, melainkan penghormatan berdasarkan usia.
Kayu, pasak, dan rumah yang bisa dipindah
Menurut liputan detik, rumah limas memakai kayu unglen untuk fondasi karena tahan air, kayu tembesu untuk bagian lantai, dinding, pintu, dan jendela, serta kayu seru untuk kerangka. Rumah dibangun tanpa paku, memakai pasak, sehingga bisa dibongkar dan dipasang kembali. Pembagian jenis kayu berbeda antarsumber, tetapi teknik pasak inilah yang menjelaskan mengapa sebuah rumah limas bisa berpindah tempat utuh.

Perjalanan rumah di uang kertas
Rumah limas di Museum Balaputra Dewa dibangun sekitar 1830. Tempo menyebut pembangunnya Pangeran Syarif Ali, sementara detik menyebut Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Habsyi; tahun pembangunannya pun ditulis 1830, 1833, atau 1836 (Tempo, detik).
Rumah ini disebut sudah berpindah lokasi hingga delapan kali. Pada 1932 ia dipindahkan ke belakang Gedung Menara Air, lalu pada 22 April 1933 dijadikan Museum Rumah Bari. Pada 1985 rumah itu dipindahkan ke Museum Balaputra Dewa, tempatnya berdiri sekarang. Tempo juga mencatat kunjungan Ratu Beatrix dari Belanda ke rumah ini.
Uang Rp10.000 emisi 2005 yang memuat gambarnya sempat menimbulkan simpang siur pada Oktober 2024. Bank Indonesia kemudian menegaskan bahwa pecahan itu masih sah sebagai alat pembayaran (Bisnis.com).
Warisan budaya
“Limas Palembang” ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014 dalam kategori arsitektur tradisional (Kemendikbud). Yang ditetapkan adalah tradisi arsitekturnya, termasuk pengetahuan membangun dan makna ruangnya, bukan satu bangunan tertentu.
Klaim yang perlu diluruskan
Limas berarti “lima emas”. Penjelasan ini beredar luas, tetapi tergolong etimologi populer tanpa rujukan bahasa yang kuat.
Rumah di uang kertas sudah tidak berlaku. Pada Oktober 2024 sempat beredar kabar demikian, lalu Bank Indonesia menegaskan uang Rp10.000 emisi 2005 masih sah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu kekijing? Istilah untuk tingkatan lantai pada rumah limas, atau menurut sebagian sumber, papan pemisah antartingkat. Setiap tingkat punya fungsi dan penghuni sendiri.
Berapa tingkat lantai rumah limas? Yang paling sering disebut lima tingkat, dari pagar tenggalung sampai gegajah.
Di mana rumah limas yang ada di uang Rp10.000? Di bagian belakang Museum Balaputra Dewa, Palembang.
Kapan rumah limas ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda? “Limas Palembang” ditetapkan pada 2014.
Rumah limas adalah satu dari dua wajah arsitektur Palembang. Wajah yang lain mengapung di sungai: rumah rakit. Untuk melihat koleksi sejarah kota yang lain, kunjungi juga Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

