Jalan Diponegoro adalah salah satu jalan tua di Palembang yang namanya dulu berbeda. Pada masa kolonial, jalan ini bernama Jalan Wilhelmina. Ia berada di jantung kawasan Talang Semut — pemukiman pejabat Belanda yang kini menjadi kawasan bersejarah dengan bangunan-bangunan berusia lebih dari 50 tahun.
Hari ini, Jalan Diponegoro diapit oleh bangunan-bangunan kolonial yang masih berdiri, termasuk eks Museum Tekstil yang menjadi salah satu ikon pelestarian bangunan tua di Palembang.

Bayangkan Palembang tahun 1922. Jalan yang akan kamu lewati ini BELUM ADA. Yang ada hanyalah tanah tinggi, dan di atasnya berdiri satu rumah besar untuk wali kota. Orang Belanda menyebut kawasannya Kampung Belanda; orang lokal menyebutnya Talang Semut — semut, karena tanahnya tinggi dan berbukit, bukan karena banyak semut.
Talang Semut: pemukiman pejabat kolonial
Kawasan Talang Semut adalah lingkungan permukiman kolonial di pusat Kota Palembang. Di sinilah pejabat-pejabat Belanda tinggal pada masa Hindia Belanda. Sekitar jalan ini — Diponegoro, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Ratna, Hang Tuah, Kartini, Gadjah Mada — berdiri rumah-rumah dinas dan bangunan pemerintahan yang kini berusia lebih dari 50 tahun dan masuk kategori cagar budaya.
Mengapa Jalan Diponegoro dulu bernama Jalan Wilhelmina?
Rumah dinas Wali Kota Palembang didirikan tepat di titik pertemuan antara dua jalan baru pada masa kolonial: Jalan Willems dan Jalan Wilhelmina. Kedua jalan itu sekarang bernama Jalan Supeno dan Jalan Diponegoro. Perubahan nama ini terjadi setelah Indonesia merdeka, mengikuti pola pergantian nama jalan kolonial dengan nama pahlawan atau tokoh nasional.
Thomas Karsten dan rencana “Kota Taman” untuk orang Eropa
Nama Talang Semut sering dianggap asal-usulnya sederhana, padahal kawasan ini adalah produk dari rencana kota yang ambisius. Pada 1933, arsitek dan perencana kota Belanda Ir. Thomas Karsten merancang kawasan ini sebagai “Kota Taman” (garden city) — tapi bukan untuk semua orang. Kawasan ini sengaja dibangun untuk pemukiman orang Eropa dan kalangan elite kolonial, lengkap dengan gereja, hotel, kolam renang, dan kolam retensi untuk mencegah banjir.
Kawasan ini dibagi dua: bagian utara (Talang Semut/Kambang Iwak) untuk warga Eropa, bagian selatan yang lebih rendah (15 Ilir, sekarang kawasan asrama polisi Bukit Kecil) untuk kaupuang pribumi. Sementara itu, permukiman pribumi di pinggiran sungai dibiarkan tidak tertata. Ini fakta, bukan legenda — dan ini yang membuat Talang Semut menjadi salah satu contoh paling jelas segregasi ruang di Indonesia zaman kolonial.
Ada satu istilah yang bikin orang salah paham sampai sekarang. Kawasan Talang Semut disebut “real estate pertama Palembang” oleh sejarawan. Maksudnya bukan mall atau apartemen modern — tapi bahwa ini adalah permukiman terencana pertama dengan konsep halaman, jalan, dan pepohonan yang tertata.
Eks Museum Tekstil: bangunan yang menunggu
Di ujung barat Jalan Merdeka, masuk ke kawasan Talang Semut, berdiri bangunan eks Museum Tekstil. Bangunan ini menghadap ke selatan dan diapit oleh Jalan Dokter Wahidin dan Jalan Diponegoro. Pada 1922, jalan-jalan di sekitarnya belum ada — apalagi bangunannya. Kini bangunan ini menjadi sorotan karena nilai sejarahnya yang tinggi dan kondisinya yang memprihatinkan.
Fun fact: jalan yang belum ada tahun 1922
Pada tahun 1922, Jalan Diponegoro dan Jalan Dokter Wahidin belum ada. Kawasan Talang Semut masih berupa permukiman yang lebih alami. Baru setelah itu jalan-jalan ini dibangun, dan rumah dinas Wali Kota berdiri di perempatan mereka. Bayangkan: jalan yang kini ramai kendaraan ini lebih muda dari bangunan-bangunan yang diapitnya.
Kawasan yang harus dilestarikan
Kawasan Talang Semut — termasuk Jalan Diponegoro, Jalan Kartini, Jalan Ratna, Jalan Hang Tuah, dan sekitarnya — termasuk kategori kawasan dengan usia bangunan di atas 50 tahun. Bangunan-bangunan di sini memiliki nilai sejarah bagi bangsa, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.
Jalan Diponegoro hari ini
Saat ini, Jalan Diponegoro adalah salah satu jalan tua yang masih berfungsi di pusat kota Palembang. Di sepanjangnya berdiri rumah-rumah kolonial, eks Museum Tekstil, dan berbagai bangunan bersejarah lainnya. Baca juga kisah Jalan Merdeka dan Jalan Jenderal Sudirman.


