Gereja Siloam adalah gereja tertua di Palembang yang masih berdiri. Dibangun pada 13 Agustus 1933 oleh orang-orang Belanda dan Tionghoa, gereja ini awalnya bernama Gereja Gereformeerd — nama Belanda yang tertera di bagian depan bangunan. Bangunan berwarna putih ini dikenal juga sebagai “White Church”.
Hari ini, Gereja Siloam masih digunakan sebagai tempat beribadah. Bangunannya berada di kawasan Talang Semut, diapit oleh Jalan Bambang Utoyo — kawasan yang dulu merupakan permukiman orang Belanda.

Gereja ini berdiri di Palembang sejak 1933. Warna putihnya yang membuat orang memanggilnya White Church — tapi itu bukan nama aslinya. Nama aslinya tertulis sampai sekarang di dinding depan gereja: Gereja Gereformeerd. Gereja yang kamu lihat ini bukan cuma bangunan tua — ia punya tiga nama dalam hidupnya, dan yang ketiga hampir tidak jadi.
Gereja untuk orang Belanda dan Tionghoa
Gereja Siloam pertama kali berdiri pada 13 Agustus 1933. Jemaat awalnya beranggotakan 144 orang, terdiri dari orang Belanda dan Tionghoa. Sebelum mandiri, jemaat ini merupakan bagian dari Gereja Gereformeerd di Batavia.
Pada 1935, bangunan ini sudah dicat putih — tapi belum memiliki lambang salib atau tulisan “Siloam”. Nama Gereformeerd tertulis jelas di bagian depan, menandakan bahwa ini adalah gereja untuk jemaat yang mengikuti tradisi Reformasi Calvinis.
Versi yang dipercaya orang vs versi yang tertulis di arsip
Orang Palembang yang lewat di depan gereja ini biasanya tahu satu hal: Gereja Siloam adalah gereja tertua di Palembang. Klaim itu perlu dipersempit sedikit. Yang benar-benar terverifikasi: Gereja Siloam berdiri 13 Agustus 1933 di kawasan Kambang Iwak/Talang Semut, pemukiman elit Eropa, dengan 144 jemaat beranggotakan orang Belanda dan Tionghoa.
Agama Kristen pada masa itu memang dianggap “barang impor” di lingkungan kolonial. Gereja ini dibangun di tengah kawasan perkampungan Eropa, dan gereja lain yang lebih tua di Sumatera — seperti di Padang — lahir dari komunitas yang sama.
Yang bikin kisah ini menarik: gereja ini nyaris jadi “Gereja Kristen Jawa” pada 25 November 1956, dengan 25 keluarga jemaat. Kata “Jawa” akhirnya dihapus karena khawatir terlalu mewakili satu suku. Nama Siloam — dari Kolam Siloam di Yerusalem — kemudian menjadi namanya sampai sekarang. Bangunan putih yang kamu lihat ini adalah gereja yang namanya hampir tidak jadi Siloam.
Dari Gereformeerd ke Siloam
Setelah Belanda kalah dan meninggalkan Palembang pada 1942, gereja ini beralih fungsi. Pada 25 November 1956, gereja ini diubah namanya menjadi Gereja Kristen Jawa dengan 25 keluarga jemaat. Tapi karena banyak orang menganggap gereja ini mewakili minoritas orang Jawa, nama “Jawa” akhirnya dihapus.
Nama Siloam kemudian melekat pada gereja ini — merujuk pada Kolam Siloam di Yerusalem, tempat yang dalam tradisi Kristen dikaitkan dengan penyembuhan. Nama ini menggantikan identitas kolonialnya yang lama.
Mengapa Gereja Siloam hampir bernama Gereja Jawa?
Gereja Siloam hampir menjadi “Gereja Kristen Jawa” pada 1956. Nama itu diberikan karena jemaat awalnya banyak dari kalangan Jawa. Tapi karena dianggap terlalu mewakili satu suku, nama “Jawa” dihapus dan diganti dengan Siloam. Bayangkan: gereja tertua di Palembang ini hampir bernama Gereja Jawa.
Gereja Siloam hari ini
Saat ini, Gereja Siloam masih berdiri kokoh di kawasan Talang Semut. Bangunan putihnya masih mempertahankan bentuk aslinya sebagai peninggalan kolonial. Gereja ini memiliki peran penting dalam perkembangan agama Kristen di Palembang, dari zaman kolonial hingga era modern. Baca juga kisah Jalan Diponegoro dan Jalan Merdeka.


