Sejarah Jalan Sekanak: Jalan di Hutan Cagar Budaya Palembang

EntriDiperbarui

Jalan Sekanak adalah jalan di pusat Kota Palembang yang namanya berasal dari kata sanak — keluarga. Kawasan ini dulu adalah tempat tinggal keluarga bangsawan Kesultanan Palembang Darussalam. Hari ini, Jalan Sekanak dikenal sebagai wajah Palembang tempo dulu, dengan bangunan-bangunan kolonial yang masih berdiri di sepanjangnya.

Di Jalan Sekanak berdiri Kompleks Balai Prajurit — bekas Societeit atau Rumah Bola yang dibangun Belanda pada 1928. Bangunan ini diapit oleh Jalan Sekanak di barat dan Jalan Rumah Bari di timur, tepat di sebelah barat Benteng Kuto Besak.

Kawasan Jalan Sekanak Palembang dengan bangunan kolonial
Kawasan Jalan Sekanak, Palembang. Foto: Firzafp / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Dari kawasan bangsawan ke kawasan kolonial

Kawasan Sekanak pada masa Kesultanan Palembang merupakan kawasan tempat tinggal para bangsawan dan keluarga Sultan Mahmud Badaruddin II. Nama Sekanak sendiri berasal dari kata sanak yang berarti keluarga. Di sinilah sahabat dan rekanan Sultan tinggal.

Setelah Belanda menguasai Palembang, kawasan ini berubah fungsi. Pada masa kolonial, kawasan Sekanak mulai berkembang menjadi kawasan perdagangan darat. Banyak dibangun ruko, gudang, dan kantor. Pasar Sekanak dibangun sebagai pasar darat pertama di Palembang, menggantikan sistem perdagangan di atas sungai.

Societeit dan Bioskop Luxor

Kompleks Balai Prajurit di Jalan Sekanak dulunya adalah Societeit — balai pertemuan orang Belanda. Dibangun pada 1928, bangunan ini digunakan sebagai gedung pertunjukan (schouwburg) dan tempat pesta dansa. Pada masa kemerdekaan, bangunan ini menjadi Bioskop Luxor (1928) dan kemudian Bioskop Mustika (1970).

Gedung utama yang menghadap ke Jalan Sekanak kini dikenal sebagai Balai Prajurit atau Rumah Bola, digunakan oleh Kodam II Sriwijaya. Gedung lain yang menghadap ke Jalan Rumah Bari kini digunakan sebagai Kantor Dinas Polisi Pamong Praja.

Fun fact: bioskop pertama di bekas rumah bola

Bangunan yang dulu digunakan orang Belanda untuk pesta dansa dan pertunjukan teater ini kemudian menjadi bioskop. Bioskop Luxor beroperasi sejak 1928, dan Bioskop Mustika sejak 1970. Bayangkan: gedung yang dulu dipisi Belanda untuk berdansa ini kini menjadi tempat nonton film rakyat Palembang.

Pasar Sekanak: pasar darat pertama

Pasar Sekanak di Jalan Depaten Baru, 28 Ilir, adalah pasar darat pertama di Palembang. Sebelumnya, masyarakat berdagang menggunakan sistem cungkukan — hamparan dagangan yang digelar pagi dan dibongkar sore. Sekitar tahun 1918, los dan kios pasar mulai dibangun, dan Pasar Sekanak berdiri sebagai pasar pertama di darat Kota Palembang.

Jalan Sekanak hari ini

Saat ini, Jalan Sekanak adalah salah satu jalan tua yang masih mempertahankan bangunan-bangunan kolonialnya. Dari Societeit hingga Pasar Sekanak, jalan ini menyimpan lapisan-lapisan sejarah Palembang — dari Kesultanan, kolonial, hingga kemerdekaan. Baca juga kisah Benteng Kuto Besak dan Jalan Merdeka.

Sumber

  1. kebudayaan.kemdikbud.go.id. Societeit (Rumah Bola) Palembang; binapatria.id; ojs.unm.ac.id. Pattingalloang; ejurnal.stisipolcandradimuka.ac.id

Cara mengutip

palembangpedia.com. (2026, 16 Oktober). Sejarah Jalan Sekanak: Jalan di Hutan Cagar Budaya Palembang. Diakses [tanggal akses], dari https://palembangpedia.com/entri/sejarah-jalan-sekanak/

Terakhir diperbarui 15 Oktober 2026. Melihat kesalahan? Laporkan ke editor.

Jelajahi juga